KOLOM KREASI

banner 468x60

ISLAM DAN LINGKUNGAN HIDUP

Oleh: Ust. H. Mubarok Hanura (1991)

Islam sebagai suatu agama, adalah agama yang Universal dan Multy Complex, yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT semata, tetapi lebih dari itu, Islam mengatur manusia dengan manusia, manusia dengan alam lingkungannya, seperti; hewan dan tumbuh-tumbuhan. Islam is much more than a system of theologie, Islam is complate civilization.

Sesungguhnya Allah SWT, menciptakan beragam makhluk yang kesemuanya merupakan suatu totalitas utuh. Antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lainnya, terdapat saling keterkaitan, keterikatan dan ketergantungan. Bumi sebagai tempat bermukim, disatu sisi adalah objek yang menjadi sasaran baku aktifitas dan kreatifitas manusia, namun disisi lain bumi pula yang menjadi subjek pemasok sebahagian besar kebutuhan manusia. Demikian juga terhadap makhluk-makhluk lainnya sehingga terbentuk suatu siklus kehidupan. Karena itu manusia sebagai makhluk terbaik yang diciptakan Allah SWT. Berkewajiban mengatur hubungan yang baik dengan lingkungannya.

Islam mengajarkan kepada manusia tentang kebebasan yang ada batasannya, manusia berbeda dengan makhluk lain, karena pada diri manusia terdapat kemerdekaan berfikir dan kesanggupan untuk melaksanakan apa yang telah dipikirkannya. Tetapi tidak jarang filsafat materialisme dan hedonisme menyebabkan manusia bebas lepas tanpa kendali dari nilai-nilai moral terhadap lingkungan.

Nafsu sebagai potensi yang dimiliki oleh manusia sering menyeret manusia kepada sifat egois yang kejam, yang kemudian memupuk suatu kejahatan yang profesional dalam masyarakat manusia dan alam lingkungannya. Karena sifat materialistis dan egoistis berlebuhan yang dimiliki oleh manusia, sehingga sering membuat manusia tidak ramah terhadap alam lingkungan, yang melahirkan perlakuan tidak adil dan tidak bijak, demi kepentingan pribadi manusia. Padahal, sesungguhnya Allah SWT telah menegaskan dengan firmannya yang artinya “carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan akhirat akan tetapi jangan melupakan kebahagiaan dunia, berbuatbaiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Q.S. Al-Qhashas : 77).

Ayat tersebut menegaskan, bahwa keselamatan dan kemaslahatan hidup dan kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh hubungan baik manusia terhadap Allah dan sesama manusia (Hablumminallah, hablumminannas) tetapi diwarnai pula oleh sikap dan perlakuan manusia terhadap lingkungannya (hablumminal ‘Alam). Keseimbangan perilaku (Akhlaq) pada tiga lini tersebut akan mewujudkan keselarasan, keserasian, dan keharmonisan hidup yang sejak dini ditegaskan Allah:

واقيمو االوزن با لقسط ولاتخسرالميزان

Pengertiannya: tegakkan dan jagalah keseimbangan dengan adil dan jangan berbuat sesuatu yang merusak keseimbangan.

Kenyataan dari apa yang disinyalir oleh Allah dalam ayat tersebut, sudah kita rasakan saat ini, dimana manusia sudah berbuat ceroboh, tidak baik serta tidak ramah terhadap lingkungan. Manusia sudah mengotorinya dengan limbah industri, radio aktif dan penebangan hutan secara liar yang kesemuannya menyebabkan kesengsaraan bagi manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Siklus kehidupan telah mulai tersendat dan keseimbangan sudah mulai tergoncang.

Modernitas kehidupan yang kian meningkat, jumlah penduduk yang berlipat ganda, mendorong timbulnya pencemaran/polusi kedalam alam lingkungan, baik air, darat dan udara. Hal ini mengingatkan kita akan firman Allah: “Artinya: telah tampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan perbuatan tangan-tangan kotor manusia”

Udara yang pada awal abad 20 masih sejuk, kini telah padat oleh polusi; carbondioxida, zat hidrocarbon dan zat lain yang berbahaya yang disebabkan oleh cerobong-cerobong asap pabrik, knalpot kendaraan, limbah industri yang tidak mengindahkan Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) dan lain sebagainya yang semuanya berpengaruh terhadap kwantitas dan kwalitas hidup dan kehidupan makhluk. Maka benarlah apa yang disinyalir oleh Allah dalam lanjutan ayat diatas:

….ليذ يقهم بعضى الذي عملوا….

Bahwa kelak kalian akan merasakan akibat dari kesemena-menaan terhadap alam yaitu hidup yang sulit, penderitaan dan ketidakbaikan lainnya. Fenomena inilah yang saat ini tengah kita rasakan. Wallahua’lam…

No image found

Menegakkan Prinsip-Prinsip Ideal-Universal Menuju Suksesi yang Damai dan Demokratis, Tanpa Fitnah dan Kekerasan

Dalam konteks masyarakat kita yang majemuk ini, pelaksanaan suksesi yang damai, membawa rahmat dan maslahat bagi seluruh umat, hanya akan terwujud jika prinsip-prinsip ideal-universal Islam seperti keadilan, egalitarian, keterbukaan (inklusif), demokrasi, penghargaan pada pluralisme (Lutfi Kamil dan Abdul Karim Sukandi, Demokrasi dan Nilai demokrasi Islam, Republika, 2000) dijunjung tinggi dan dihargai serta direalisasikan dalam segala aspek kehidupan secara konsisten dan konsekuen. Jika tidak demikian, upaya untuk mewujudkan suatu suksesi yang damai dan demokratis hanya menjadi sebuah slogan dan retorika yang tanpa makna, tak pernah ada dalam realita. Prinsip-prinsip tersebutlah yang ditegakkan Nabi Muhammad saw. Dalam membangun Negara Madinah, sebagai mana tertuang dalam Piagam Madinah. Demikian pula masa Khalifah Rasyidin.

Al Qur’an mennyatakan bahwa Islam merupakan rahmat untuk seluruh alam, dunia dan semua bangsa, tanpa memandang batas-batas geografi, ras ataupun strata sosial. Islam memandang manusia lain sejajar dan terbuka untuk membangun iklim sosial yang harmonis dan damai dalam kehidupan masyarakat yang prularis. Islam menolak sekaligus membebaskan manusia dari segala bentuk rasialisme, sekretariarisme dan primordialisme. Penghargaan Islam terhadap manusia islam lebih berorientasi pada prestasi bukan prestise (prestige).

Abdurrahman Wahid dalam bukunya sosilalisasi Nilai-nilai dalam Demokrasi,1986, mengemukakan bahwa konsep demokrasi dalam islam yang paling kental tampak pada prinsip-prinsip seperti kebebasan, keadilan, kesetaraan (musawa) dan permusyawaratan (syura). Berkaitan dengan konsep demokrasi dalam islam tersebut Amin Rais dalam bukunya berjudul Oposisi Berserak, menjelaskan ada lima prinsip :

Pertama, Pemerintahan harus berlandaskan pada keadilan.

Kedua, Sistem politik harus berdasarkan pada prinsip syura ( musyawarah).

Ketiga, Menegakkan prinsip kesetaraan yang tidak membedakan gender, etnik, warna kulit, latar belakang sejarah, sosial-ekonomi, dan lain-lain.

Keempat, Kebebasan yang didefinisikan sebagai kebebasan berfikir, berpendapat, berorganisasi, pers, beragama, kebebasan dari rasa takut, hak untuk hidup, dan lain-lainya.

Kelima, pertanggung jawaban (accountability) para pemimpin kepada rakyat atas kebijakan-kebijakan mereka.

keenam, yaitu supremasi hukum (law enforcement). Sebab jika hukum tidak ditegakkan secara tegas iklim demokrasi sulit diwujudkan. Begitupula dalam masalah suksesi, jika prinsip-prinsip demokrasi tersebut tidak dijunjung tinggi, maka sulit kiranya kita memperoleh proses suksesi yang demokratis dan legitimet.

Akibat proses suksesi yang tidak demokratis inilah yang sering kali menyisahkan persoalan dan batu sandungan bagi seorang pemimpin yang terpilih. Lihatlah sejarah suksesi yang ada di berbagai belahan dunia ini, termasuk dalam sejaran umat dan dunia Islam.

Oleh karena itu, dalam proses suksesi prinsip-prinsip di ataslah yang harus ditegakkan. Dengan demikian hal-hal yang berbau rasialisme, sektarianisme, primordianisme dan isme-isme negative lainnya hendaknya sedapat mungkin tidak dikedepankan guna menuju suksesi damai dan demokratis.

Adalah menjadi tugas kita bersama untuk menjamin proses politik yang lebih adil dan demokratis dalam suatu suksesi kepemimpinan sebuah institusi dan organisasi, baik pada level daerah maupun pusat. Meskipun harus disadari suksesi sebagai agenda politik tidak bisa terlepas dari intrik alias permainan kotor, seperti politik uang (money politic). Sebab medan politik identik dengan medan bisnis kekuasaan dan uang.

Permainan kotor tersebut sebenarnya bisa ditekan, dengan catatan kita semua harus komitmen untuk tidak menyuburkan praktik-praktik kotor tersebut. Para aktivis politik harus proaktif dan secara kolektif membangun dan mengarahkan sekaligus mengontrol moral politik personal dan institusional menuju moral politik yang santun dan berwibawa. Bisakah?

Sekali lagi tergantung dengan komitmen kita semua. Dan tampaknya itulah yang dipraktikan dan diwasiatkan oleh Rasulallah SAW. dan Khulafa ar Rasyidin. Wallahua’lam bissawab.

_______

An-Naba’ Edisi November 2015

No image found

Suksesi yang Damai dan Demokratis, Tanpa Fitnah dan Kekerasan

Berbiara mengenai suksesi berarti berbicara tentang Negara. Eksprimen Negara yang paling ideal menurut Robert Bella, adalah Negara Islam Madinah yang dipimpin oleh Nabi (baca; Presiden) dan kholifah empat (Abu bakar, Umar,  Ustman dan Ali). Itulah Negara yang sangat modern, dan terlalu modern, sehingga tidak berlangsung lama, hanya empat puluh tahun. Tidak ada sesudah itu Negara manapun di dunia yang dapat mencontohnya (Nurcholis Masjid; 2003).

Ini karena negara Madinah, mempunyai tujuan yang jelas (Rahmatan Lil Alamin), dengan beberapa ciri antara lain, persamaan, partisipasi, kebebasan, prestasi (bukan prestise), pengawasan ketat, penegakan supremasi hukum, ownership, akuntabilitas, transparansi dan lain-lain. Asosiasi good governance yang mendasari terwujudnya negara adil, makmur dan sejahtera sungguh kental dalam negara Islam madinah.

Karena itu suksesi dalam negara Madinah selalu berjalan santun, demokratis, damai dan memuaskan, tanpa fitnah dan kekerasan.

Nabi Muhammad saw, Wafat pada tanggal 8 juni 632 M, tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat Islam. Beliau tampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Karena itulah tidak lama setelah beliau wafat, belum lagi jenazah dimakamkan, sejumlah tokoh Muhajjirin dan Anshar berkumpul di balai kota Bani Sa’idh, Madinah. Mereka memusyawarahkan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin. Musyawarah itu berjalan cukup alot karena masing-masing pihak, baik Muhajirin maupun Anshar, sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat Islam. Namun dengan semangat Ukhuwah Islamiyah yang tinggi, akhirnya Abu Bakar secara aklamasi terpilih menjadi pemimpin umat Islam, menggantikan dan melanjutkan posisi Nabi saw. Sebagai pemimpin umat Islam saat itu. Rupanya, semangat keagamaan Abu Bakar mendapat penghargaan yang tinggi dari umat Islam (Hasan, 1987 :34), sehingga masing- masing pihak menerima dan membaiatnya (Yatim, 1993: 35).

Menjelang berakhirnya kepemimpinan Abu Bakar, ketika beliau sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia pun bermusyawarah dengan para pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar bin Khattab (13-23 H./634-644 M.) sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat islam. Kebijaksanaan Abu Bakar tersebut diterima masyarakat dan mereka segera beramai-ramai membaiat Umar (Yatim, 1993: 38).

Menjelang wafatnya, Umar tidak menempuh jalan yang dilakukan Abu Bakar. Dia menunjuk enam orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang di antaranya menjadi kahlifah (Syalabi, 1987; 263). Enam orang tersebut adalah Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad ibn Abi Waqqas, dan Abdurrahman ibn Auf. Setelah Umar wafat, tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Utsman sebagai khalifah (644-655 M) Melalui persaingan yang ketat dengan Ali ibn Abi Thalib (Yatim, 1993: 38). Begitu pula selanjutnya, setelah Utsman wafat, dibunuh oleh kaum pemberontak, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah.

Peristiwa sejarah pengangkatan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali tersebut menunjukan bahwa suksesi kepemimpinan umat Islam, menurut para sejarawan, masa kepemimpin para khalifah yang empat (khulafa ar-Rasyidin) tersebut merupakan sebuah contoh pemilihan dan pengangkatan kepemimpinan yang ideal dalam sejarah.

Namun sayangnya, tradisi tersebut tidak berlanjut lagi pada pemerintahan berikutnya karena menerapkan mekanisme pengangkatan raja. (Bagian II)

_______

An-Naba’ Edisi Oktober 2015

No image found

Gelombang Neo-Santri Abad 21:

Peluang, Tantangan, dan Strategi Lembaga Pendidikan Islam

Oleh: Ayang Utriza Yakin, DEA., Ph.D.

Dosen Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta

SMRC Fellow di PPIM UIN Jakarta

 

Siapakah Santri Itu?

Santri berasal dari bahasa Sansekerta “shastri”, yang berakar kata sama dengan kata “sastra”, yaitu kitab suci, agama, atau pengetahuan. Dari sini muncul pengertian santri sebagai murid yang belajar khusus ilmu-lmu agama Islam yang berasrama di pesantren yang dipimpin seorang kyai.

Santri bisa juga berasal dari kata “cantrik” yang bermakna ‘pembantu atau pelayan’ para begawan atau resi. Sebagai upah dari jasa mereka, begawan akan memberikan ilmu pengetahuan. Dari sini juga muncul adat/tradisi para murid melayani kyai dan keluarganya, bahkan sebelum pelajaran/pengajian dimulai. Melayani kyai dengan imbalan mengaji gratis di pesantrennya.

Dari pengertian ini, tampak santri adalah mereka yang hanya bersekolah atau bermukim di pesantren dengan bimbingan kyai dan para ustaz.

Pesantren terdiri dari lima hal (Zamaksyari Dhofier): kyai (guru), santri (murid), asrama (tempat tinggal), masjid (tempat ibadah), kitab (pelajaran).

Santri: Aliran Politik?

Santri sebagai salah satu kategori politik aliran di dalam masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, yaitu orang yang taat pada aturan agama Islam dan lawannya adalah abangan.

Istilah santri digunakan sebagai salah satu aliran dalam masyarakat Jawa pertama kali oleh Clifford Geertz (1926-2006), antropolog AS di dalam bukunya The Religion of Java, 1976, (Agama Jawa). Dia membagi tiga jenis masyarakat Jawa: Santri, Abangan, dan Priyayi.

Santri adalah masyarakat perkotaan yang mematuhi aturan agama Islam secara ketat, sementara abangan adalah masyarakat pedesaan yang mencampur ajaran Islam dan Hindu serta masih mempraktikkan ritual kepercayaan nenek-moyang.

M.C. Ricklefs (2006) mengungkapkan bahwa pembedaan 2 kategori masyarakat itu pertama kali diketahui pada abad ke-19 dengan istilah, kaum putihan dan abangan. Kaum “putihan” adalah masyarakat muslim yang menjalankan agama Islam secara sempurna, adapun kaum abangan: menjalankan agama Islam tidak sempurna.

Kategorisasi santri-abangan sudah tidak lagi relevan saat ini, bukan saja karena penelitian-penelitian terakhir membantah pembagian masyarakat seperti itu, tetapi batasan santri dan abangan sudah sangat cair.

Arti santri secara umum saat ini, berangkat dari bahasan Geertz, adalah mereka yang taat menjalankan agama Islam, tanpa harus sekolah di Pesantren.

Islamisasi Pranata Pra-Islam

Pranata semacam ‘pesantren’ itu sudah ada sebelum datangnya Islam, yaitu lembaga-lembaga pendidikan untuk membentuk ahli agama Hindu atau Budha.

Umat Islam yang baru di Nusantara itu mengislamkan lembaga dan pranata Hindu-Budha tersebut.

Jadi, pesantren dan santri telah lama ada sejak Islam menjadi agama resmi dianut oleh masyarakat Nusantara.

Kesultanan Banten, misalnya, pada abad ke-16 dan ke-17, memiliki lembaga pendidikan Islam, semacam pesantren, yaitu Kasunyatan yang dipimpin oleh Kyai Pangeran Kasunyatan.

Ulama abad ke-18 dan ke-19 menjadi awal kesungguhan upaya islamisasi pranata Hindu-Budha dan menjadikan pesantren sebagai wadah pembelajaran agama Islam.

Abad ke-19: Awal Gelombang Santri

Pada abad ke-19 terdapat banyak ulama yang menjadi panutan bagi masyarakat Jawa dan pesantren menjadi tempat lembaga pendidikan untuk para santri tersebut.

Menurut Van Den Berg (1886) di dalam artikelnya «  Het Mohammedaansche godsdienstonderwijs op Java en Madoera en de daarbij gebruikte Arabische boeken » pada paruh kedua abad ke-19, terdapat lima belas ribu (15.000) lembaga pendidikan Islam dengan santri dua puluh lima ribu orang (25.000) yang menjadikan kitab kuning (55 judul) sebagai rujukan utama.

Pada abad ke-19 itulah banyak ulama yang menjadi arsitek pendirian pesantren di Nusantara, yaitu Umar Nawawi al-Bantani, Muhammad Saleh Darat, Ahmad Rifai Kalisalak, Mahfuz al-Termasi, Khalil Bangkalan, Asnawi Kudus, dan Hasyim Asyari.

Para ulama itu meninggalkan warisan ‘pesantren’ yang masih berdiri hingga sekarang, misalnya Pesantren Tebuireng.

Pandangan Buruk tentang Santri (Dulu)

Citra buruk tentang santri disebabkan, antara lain, oleh politik pemerintah kolonial Belanda.

Santri itu kampungan, budukan, kurang bergaul, tidak mengerti teknologi, jorok, hanya belajar agama saja atau ibadah saja, tidak bekerja.

Citra buruk tentang santri masih kita rasakan hingga sekarang. Pengalaman saya di Pondok-Pesantren Wali-Songo, Ngabar, Ponorogo, di Pesantren Tebuireng Jombang, Pesantren Kwagean Kediri, membuktikan hal tersebut.

Kaum santri identik dengan NU.

Politik Kaum Sarungan.

Pertarungan di partai Masyumi, antara golongan tradisionalis (kyai sarungan/NU) dan golongan modernis (kyai berjas/Muhammadiyah). Partai NU = NASAKOM.

Politik kaum santri = NU = sangat ‘lihai.’

Tokoh-tokoh nasional, elit politik, menteri agama (Wahid Hasyim, Wahab Hasbullah, Wahib Wahab, Saifuddin Zuhri, Subhan ZE, dll.)

Kiprah Santri di Tingkat Nasional

  1. Saifuddin Zuhri menjadi contoh terbaik bagaimana seorang santri bisa mencapai kedudukan tinggi di dunia politik pada masa Orde Lama. Ia dididik di pesantren, bahkan ia menulis buku “Guru-Guruku Orang Pesantren.” Ia sangat lihat dalam berpolitik dan pandai menjadi perantara antara Bung Karno dengan umat Islam.

Hal ini menunjukkan kaum santri bisa berperan dan mewarnai kehidupan berbangsa dan dan bernegara. Saat Bung Karno menerapkan ideologi Nasakom, NU menjadi bagian dari penyokong ideologi itu dan Saifuddin Zuhri memainkan peranan penting dalam menyeimbangkan kekuatan komunis saat itu.

Cak Nur Dan Gus Dur: Santri-Baru

Kebangkitan Kaum Santri-Baru terjadi pada masa Orde-Baru. Mereka menjadi orang-orang yang mempengaruhi kebijakan negara dan juga masyarakat sesuai dengan peran yang mereka ambil. Dua orang bisa menjadi contoh, yaitu Nurcholish Madjid atau yang akrab dipanggil Cak Nur dan Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur. Yang pertama mewakili kaum intelektual-akademisi dan masyarakat kelas menengah dan perkotaan, sementara yang kedua mewakili kaum agamawan/ulama dan masyarakat kelas bawah dan pedesaan. Yang satu berpendidikan Barat (Chicago), dan yang lainnya berpendidikan Timur-Tengah (Kairo dan Baghdad).

Cak Nur dan Gus Dur telah membangkitkan kebanggaan kaum santri. Ternyata, santri mampu berprestasi di Luar Negeri  dan dapat mempengaruhi masyarakat Indonesia melalui caranya masing-masing. Sejak saat itu, ada kebanggaan menjadi santri.

Santri Pada Masa Orde-Baru

Politik awal Orde-Baru menekan umat Islam, tetapi justeru itu menjadikan pemicu bagi kebanyakan orang untuk lebih mendalami Islam. Saat itulah terjadi peningkatan pesantren dan santri. Di akhir kekuasaan Orde-Baru, sikap ramah pemerintah terhadap Islam menjadikan masa itu sebagai titik penting bagi kaum santri.

Pergantian rezim dari Orde-Baru ke Orde-Reformasi telah merubah ranah keagamaan di Tanah Air. Semua orang menjadi santri. Makna santri mengalami perluasan. Dari yang tadi hanya mereka yang pergi ke pesantren, sekarang melingkupi muslim perkotaan yang memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Islam. Terjadi geliat dan kebangkitan akan kesadaran Islam. Inilah yang dinamakan kebangkitan kaum santri. Kebangkitan ini ditandai dengan jumlah lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah dan pesantren.

Pendidikan dan Agama

NU memiliki lebih dari 6.000 sekolah, mulai dari TK/RA sampai Universitas.

Muhamadiyyah mempunyai 2.604 SD/MI, 1774 SMP/MTS, 1.143 SMA/MA dan 172 Universitas.

Saat ini terdapat tiga payung dalam sistem pendidikan nasional: Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dan kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dan Kementerian Agama (Kemenag). = sekolah vs madrasah.

Semua sekolah (dasar dan menengah) di bawah Kemdiknas dan Kemenang mengikuti kurikulum nasional dalam bidang: matematika, ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam, sejarah, dll.

Perbedaannya: mata pelajaran di madrasah mengajarkan pelajaran agama Islam lebih banyak, yaitu Alquran, Hadis, Sejarah Islam, sementara sekolah umum hanya mengajarkan PAI 2 jam/minggu.

Terdapat 181.083 sekolah pada 2007/8 di bawah Kemdiknas.

Terdapat 40.469 madrasah pada 2008/9 dan 67.3000 madrasah pada 2013 di bawah Kemenag.

Sekolah Umum (tahun 2007/8)

No Tingkatan Status Jumlah Keseluruhan
1. Sekolah Dasar (SD) Negeri 132.513 144.567
Swasta 12.054
2. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 15.024 26.277
Swasta 11.253
3. Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4.493 10.239
Swasta 5.756
181.083

 

  • Terdapat dua sekolah keterampilan: SMK (sekolah menengah kejuruan), STM (sekolah teknik menengah). Angka di atas tidak termasuk sekolah keterampilan ini. Contoh pada 2010 terdapat 11.778 Sekolah dengan 4.212.568 murid, adapun SMK ada 9.164 sekolah dengan 3.973.185 murid.
  • Pada 2012 ada 58 juta murid dari semua tingkat.
  • Pada 1999 terdapat 150.921 SD dengan 25.667.578 murid.

 

Madrasah (tahun 2013)

Tingkatan Negeri Swasta Jumlah
Ibtidaiyyah 1.686 (7%) 21.385 (93%) 23.071
Tsanawiyyah 1.437 (9%) 13.807 (91%) 15.244
Aliyah 758 (11%) 5.906 (89%) 6.664
Sumber:  Pendis, Kemenag, 2013. 70.424

 

Jumlah Murid (tahun 2008/2009)

Tingkatan Negeri Swasta Jumlah Jumlah

Madrasah

Total
1 Ibtidaiyyah 361.491 2.554.736 2.916.227 21.529
2 Tsanawiyyah 591.761 1.845.501 2.437.262 13.292
3 Aliyah 319.011 576.823 895.834 5.463 40.469

 

Pondok-Pesantren

No Jenis Jumlah Santri/Prosentase
1. Salafiyyah (sistem klasik) 14.459 (53,10%) L=   1.886.748 (50,91%)
2. Khalafiyyah (sistem modern) 7.727 (28,38%) P=    1.872.450 (49,81%)
3. Salafiyyah-Khalafiyyah 5.044 (18,52%)
Keseluruhan 27.230 (100%) 3.759.198

 

  • Pesantren salaf : lembaga pendidikan tradisional yang mengajarkan kitab kuning dan tidak menyediakan pendidikan resmi baik “sekolah” maupun “madrasah” = Pesantren Kwagean.
  • Pesantren khalaf: lembaga pendidikan modern, sekolah atau madrasah, dipadukan dengan kurikulum lokal, terutama, bahasa = Pesantren Gontor.
  • Pesantren Salaf-Modern: lembaga pendidikan yang menggabungkan sistem tradisional dan modern, yaitu pengajaran kitab kuning dan penyediaan pendidikan formal sekolah atau madrasah = Tebuireng atau al-Ittafiqiah.

 

Tantangan Pesantren

Jumlah pesantren dan santri meningkat cukup penting, ini merupakan tantangan bagi pendidikan Islam. Mampukah pesantren mencetak santri-santri baru ini menjadi orang yang berhasil dalam segala bidang? Mampukah pesantren membentuk pribadi-pribadi yang tangguh dalam menghadapi persaingan dunia yang semakin keras?

Jelas, ini merupakan tantangan bagi pesantren.

Persoalan yang dihadapi pesantren dan santri tidaklah mudah saat ini.

Derasnya laju informasi dan perkembangan teknologi harus diikuti oleh santri.

Lemahnya pengawasan orang tua kepada anak-anaknya sendiri, pesantren harus menjadi garda terdepan pengawas para santri yang dititipkan.

Ketika banyak kasus kekerasan, maka pesantren harus mengedepankan pendidikan yang santun dan penuh teladan.

Strategi Pesantren di Tengah Arus Perubahan

Untuk menghadapi persaingan yang amat ketat, pesantren harus terus membuka diri untuk terus mengembangkan sistem pengajaran dan pendidikan.

Selain tahfiz alquran, tafsir, hadis, fikih, Pesantren dapat membekali para santrinya dengan pelajaran komputer, teknologi dan informasi, dan kemampuan bahasa asing yang mumpuni.

Pesantren bisa menyediakan semua kebutuhan pendidikan yang berkemajuan. Hal ini dapat tercapai dengan bekerjasama dengan pemerintah daerah, provinsi, pusat dan lembaga-lembaga luar negeri.

Pesantren dapat menjadi contoh bagi sistem pendidikan nasional yang sedang tidak sehat dengan kasus kekerasan fisik dan seksual.

Para ustaz, ustazah dan semua pihak di Pesantren harus bekerja sama menjadikan pesantren kawah candradimuka pendidikan Islam.

Strategi Menuju Santri Berhasil

Para santri juga harus sigap dalam menghadapi persaingan dunia yang amat keras ini. Santri harus memiliki keteguhan sikap dan mimpi yang tinggi untuk cita2.

Silahkan perkuat hafalan Alquran, pelajari kitab kuning untuk semua pelajaran: tafsir, hadis, fikih, tetapi juga pelajari komputer, teknologi dan informasi.

Para santri juga harus membekali diri dengan kemampuan bahasa Arab dan bahasa Inggris yang baik. Pergunakan kesempatan yang diberikan pesantren untuk berbahasa asing. Hilangkan hambatan atau malu sehingga tidak mau berbahasa.

Mereka yang berhasil adalah mereka yang mampu melewati hambatan dan menjadikan setiap waktu itu kesempatan dan peluang memajukan diri. Dari sekarang, santri harus berbahasa Inggris yang baik.

Kisah Keberhasilan “Santri-Baru” di Barat

Banyak sekali santri-santri yang menimba ilmu di Timur-Tengah. Tetapi, itu sudah biasa.

Sekarang, jumlah para santri yang berangkat ke Eropa, Amerika, Australia, dan Kanada untuk belajar tingkat S-2 dan S-3 semakin meningkat.

Program beasiswa dari universitas dan lembaga-lembaga di Luar Negeri memungkinkan para santri itu meraih pendidikan tinggi di kampus-kampus bergengsi.

Sekarang para santri yang ke Barat semakin banyak berkat program pemerintah, seperti “Program Beasiswa 5000 Doktor” oleh Kementerian Agama, lalu program beasiswa LPDP.

Para santri yang memiliki khazanah klasik yang baik pergi ke Barat untuk mempelajari berbagai disiplin keilmuan akan memperkaya cara pandangnya.

Mereka yang belajar tingkat master atau doktor, misalnya, dalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusian (humaniora), para santri ini mencoba menggabungkan dan mengawinkan antara pengetahuan khazanah klasik keislaman dengan pisau analisis ilmu-ilmu sosial, maka akan melahirkan pemikiran-pemikiran alternatif yang bagus. Hal ini dapat memberikan sumbangsih yang tidak kecil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kiprah kaum santri di berbagai bidang telah mewarnai kehidupan bangsa ini.

Keberhasilan Indonesia menjadi negeri demokratis di dunia merupakan salah satu sumbangsih kaum santri yang amat besar. Para sarjana yang berasal dari santri dapat memformulasikan Islam sebagai sumber etika dan moral dalam tataran substansi.

Harus kita akui masih banyak masalah di negeri ini, tetapi dibandingkan dengan negeri-negeri muslim lainnya, Indonesia menjadi contoh par excellence, contoh istimewa, untuk sistem pendidikan Islam yang modern dengan madrasah dan pesantren menjadi modelnya.

Ketika Pesantren Menjadi Pilihan

Pesantren telah terbukti membentuk para santri yang berhasil itu. Pesantren telah memberikan sumbangan yang amat besar bagi pendidikan di Indonesia. Terbukti para santri itu telah berperan di dalam bidangnya masing-masing di berbagai aspek kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Oleh karena itu, pesantren haruslah didukung oleh semua pihak. Pemerintah daerah, provinsi, dan pusat wajib memberikan semua dukungan, moril dan materil.

Semua pihak juga harus memberikan tempat yang seluas-luasnya bagi para santri untuk berkiprah di mana saja, PNS atau swasta, di TNI, Polisi, di berbagai kementerian, atau di berbagai usaha.

Santri bisa menjadi apa saja dan di mana saja.

Santri bisa mewarnai di mana ia berabada dengan bekal ilmu keagamaan yang dimilikinya.

Mari kita gelorakan gerakan “Yuk Belajar di Pesantren” dan “Go Back to Pesantren”.

We love you, pesantren…

No image found

Menuju Suksesi yang Damai dan Demokratis Tanpa Fitnah dan Kekerasan

Oleh: Drs. K.H. Mudrik Qori, M.A.

Secara praktis suksesi dapat diartikan dengan “pergantian pemimpin atau pemerintah”. Suksesi sesungguhnya merupakan suatu keharusan untuk mewujudkan perubahan (taghyir) kepada kondisi yang lebih baik, lebih adil dan lebih mensejahterakan. Oleh karena itu makna hakiki suksesi adalah perubahan struktur yang lebih baik dalam berbagai aspek kehidupan yaitu dari struktur otoriter dan refresif menuju struktur yang demokratis dan memberdayakan, dan dari struktur yang sangat kolusif, koruptif dan nepotisme menuju struktur yang bersih dan berwibawa. Maka sebenarnya dalam suksesi ada misi yang mulia yaitu memberdayakan dan mensejahterakan masyarakat. Makna pemimpin atau pemerintah dalam konteks ini adalah mutlak sebagai “pelayan” masyarakat (khodimul ummah) bukan “penguasa”.

Namun tidak dapat disangkal, suksesi bersinggungan erat dengan persoalan politik atau kekuasaan. Berbicara kekuasaan akan sangat terkait dengan kepentingan (interest). Kekuasaan dan kepentingan ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, dalam konteks politik, kepentingan identik degan kekuasaan dan sebaliknya.

Ihwal kepentingan inilah yang menjadi persoalan. Ketika kekuasaan diposisikan bukan pada misi mulia untuk kepentingan pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat, tetapi justru untuk kepentingan pribadi dan kelompok, atau untuk kepentingan menumpuk kekayaan dan lain-lain, maka terjadilah malapetaka bagi masyarakat. Bagi yang sedang berkuasa tentu berupaya keras untuk melanggengkan kekuasaan (status quo). Status quo akan melahirkan tindakan otoriter, penindasan dan kekerasan. Sedang bagi yang ingin berkuasa, dengan kepentingan yang sama buruknya, berupaya merebut kekuasaan.

Suksesi dalam konteks ke-Indonesiaan selalu berada dalam posisi kepentingan buruk tadi. Akibatnya dua kelompok kepentingan di atas berupaya menghalalkan segala cara, sehingga fitnah, kekerasan dan beragam tindakan amoral lainnya (baca; money politic dan penipuan publik) mewarnai suksesi.

Dalam kondisi seperti di atas, suatu saat cepat atau lambat akan muncul kelompok yang akan merubah keadaan. Upaya ini dapat saja ditempuh secara evolusif dengan memperbaiki infra struktur politik dan sistem politik yang memang memerlukan kesabaran karena membutuhkan waktu yang panjang atau di tempuh secara refolusif. Revolusi biasanya identik dengan darah, kekerasan, chaos dan sebagainya. Singkatnya memerlukan ongkos sosial (social cost) yang tinggi.

Oleh karena itu, untuk menjembatani hal ini, diperlukan sebuah mekanisme suksesi yang demokratis dan penegakan etika politik sebagai prinsip-prinsip yang harus di tegakkan dalam suksesi tersebut. Hal ini perlu kiranya untuk dikedepankan agar terhindar dari aksi-aksi kekerasan, fitnah, pemutarbalikan fakta, tipu daya, dan tindakan-tindakan yang tidak etis lainnya. (Bagian I)

________

An-Naba Edisi September 2015

No image found

RENCANA STRATEGIS MERAIH CITA-CITA PASCA SMA “KESUKSESAN BUKAN BIMSALABIM”

Oleh: Aziza Nurul Amanah (Alumnus 2014-2015)

Mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

_______________________

Keinginan adalah hal yang mungkin ada pada diri seseorang, yang mana pada implementasinya hal ini akan membentuk sebuah cita-cita. Dan pastinya setiap orang memiliki cita-cita, harapan dan mimpi. Sejak kecil kita mungkin selalu ditanya, ketika kita telah dewasa apa yang kita inginkan? Beragam profesi kita jawab sesuai dengan keinginan kita, ketika melihat seorang dokter kita akan berfikir ingin menjadi seorang dokter, dengan alasan yang simpel, bahwa kita inginn membantu banyak orang yang sakit.

Begitu pun profesi yang lainnya, tanpa kita harus memikirkan secara mendalam bagaimana kita akan meraih apa yang kita inginkan itu. karena dalam usia tersebut kita belum mampu untuk berfikir secara lebih tentang bagaimana kehidupan kita kedepannya. Namun, ketika kita telah memasuki masa remaja atau memasuki masa SMA, kita akan memulai berfikir dan merancang kehidupan kita kedepannya, setelah SMA kita akan melanjutkan kemana? Ingin bagaimana? Dan lain sebagainya.

Mungkin masa di bangku SMA/ Aliyah, kita masih dalam keadaan santai, berhura-hura dan masih menggunakan sistem Teacher center, yang mana guru selalu menjadi tutor utama bagi kita. Berbeda dengan kehidupan di luar ataupun ketika telah memasuki dunia kampus dan menjadi seorang mahasiswa, seorang mahasiswa harus berperan aktif, mungkin yang selama ini Teacher center, namun sekarang harus Student center.

KLIK UNTUK DOWNLOAD FILE LENGKAP

 

Tulisan lainnya:

1. Analogi Hukum-Hukum Newton Tentang Perilaku Belajar Peserta Didik

2. KARENA CINTA ALLAH

3. Kebanggaan Menjadi Mahasiswa FKIK

No image found

KEBANGGAAN MENJADI MAHASISWA FKIK

Oleh: Aziza Nurul Amanah (Alumnus 2014-2015)

Mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

_______________________

AWAL PENDIRIAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi,sejarah perkembangan UIN Jakarta tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan perguruan tinggi Islam di Indonesia dalam menjawab kebutuhan pendidikan Islam secara modern. Embrio UIN Jakarta dapat ditelusuri dari pendirian Pesantren Luhur (pada masa menjelang kemerdekaan), Sekolah Tinggi Islam di Padang dan di Jakarta Tahun 1946, Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta, serta pendirian Akademi Dinas Departemen Agama (ADIA) tahun 1957 di Jakarta hingga menjadi UIN Syarif Hidayatullah sekarang.

Pendirian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berawal dari dibentuknya Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) sebagai akademi dinas Departemen Agama pada tanggal 1 Juni 1957[1], berdasarkan Ketetapan Menteri Agama, Nomor 1 Tahun 1957. Pendirian ADIA ini dimaksudkan untuk mendidik dan mempersiapkan pegawai negeri guna mencapai ijazah pendidikan akademi dan semi akademi agar menjadi ahli didik agama pada Sekolah Menengah Umum, Sekolah Kejuruan dan Sekolah Agama. Pada saat itu ADIA mempunyai 43 orang mahasiswa yang terbagi ke dalam dua jurusan, yakni: Jurusan Syariat (Pendidikan Agama),dan Jurusan Lughat al Arabiyah (Jurusan Bahasa Arab) dan satu Jurusan Khusus untuk Imam Tentara dengan menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar, ditambah dengan penggunaan bahasa Indonesia sebagai pengantar mata kuliah Umum.

KLIK UNTUK DOWNLOAD FILE LENGKAP

 

Tulisan lainnya:

1. Analogi Hukum-Hukum Newton Tentang Perilaku Belajar Peserta Didik

2. KARENA CINTA ALLAH

No image found

KARENA CINTA ALLAH

Oleh: Aziza Nurul Amanah (Alumnus 2014-2015)

Mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Tulisan ini dimuat dalam buku “50 Hidayah Merajut Perguruan Tinggi”, Penerbit Gramedia, Cetakan 2015.

__________________

Tak terasa tinggal menghitung hari lagi aku berada di sini, menikmati minggu terakhir berada di Ma’had tercinta ini. Aku akan mengakhiri cerita dan kisah yang telah terukir dimana aku merasakan proses pembelajaran. Suka duka telah ku lewati, dan kini adalah masa dimana aku harus melanjutkan studi ku untuk menuju gerbang cita-citaku. 4 bulan telah aku lewati penuh dengan perjuangan. Dimana aku harus benar-benar berjuang untuk mengikuti berbagai ujian yang akan ku hadapi. Mulai dari ujian Pondok, ujian praktek, ujian nasional, ujian Madrasah dan ujian makalah.

Tidak hanya sebatas itu saja, kami juga harus mempersiapkan ujian untuk menuju universitas yang kami inginkan. Dan ini adalah sebuah perjuangan yang luar biasa yang tidak akan pernah di dapatkan di sekolah lain, melainkan hanya ada di Pondok Pesantren tertentu saja. Ujian ini adalah salah satu syarat agar kami dapat lulus dengan baik, tidak hanya lulus Ujian Nasional dan Ujian Pondok saja, tetapi kami pun dituntut untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang telah kami peroleh di Pesantren.

Saat ini aku dan teman-teman seangkatan akan berjuang untuk menembus PTN yang kami harapkan, berbagai usaha kami lakukan. Mengikuti SNMPTN dan PBSB dari Kemenag. Namun hanya ada sekitar 2 teman seangkatan yang lulus di Universitas favorit mereka melalui jalur SNMPTN, untuk jalur PBSB dari Kemenag hanya lulus 1 orang di Prodi Ilmu Keperawatan di UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA. Sementara kami harus berjuang mengikuti usaha yang lain, selanjutnya kami mengikuti SBMPTN dan UMPT-KIN. Kali ini kami harus benar-benar berusaha, karena tantangan dan peluang kami hanya sedikit. Sementara saingan kami dari berbagai sekolah menengah atas dari seluruh indonesia sangatlah banyak.

11879151_1466341987027284_1757728123293151646_o

Penerbit Gramedia, Cetakan 2015

Kami juga harus bertentangan dengan pengurus staf Pondok karena mereka tidak mengizinkan kami untuk mengikuti ujian SBMPTN, dengan alasan kami diwajibkan untuk mengabdi terlebih dahulu di Pondok Pesantren yang ditentukan. Namun, kami tak putus asa berbagai cara kami lakukan, kami harus membuktikan bahwa lulusan pesantren juga bisa masuk di Universitas Negeri dengan jurusan umum, tidak mesti harus selalu Agama atau Dakwah.

Kali ini kami berhasil menunjukan bahwa kami bisa menunjukkan bahwa kami mampu bersaing dengan alumnus sekolah umum. Sekitar 15 teman seperjuangan lulus di Universitas Negeri di berbagai wilayah Nusantara. Namun keberuntungan tidak berada dipihak ku, kali ini aku harus bersabar dan ikhlas menerima, mungkin karena usaha ku kurang, sehingga aku belum bisa untuk lulus di Universitas yang di harapkan. Akhirnya aku sangat bingung, aku harus kemana?. Namun aku tidak berputus asa, walaupun aku harus sedikit kecewa. Aku berfikir husnuzon saja, mungkin tahun ini Allah belum mengizinkanku untuk melanjutkan keperguruan tinggi. Aku berfikir apa yang harus ku lakukan sekarang? Untuk mencari solusi agar waktu ku tidak terbuang begitu saja, sebenarnya masih ada jalur mandiri untuk masuk ke Universitas yang ku inginkan.

Namun, aku tidak berminat jika aku masuk di fakultas lain, karena aku berharap bisa masuk di dunia kesehatan. Disamping itu aku harus memikirkan keuangan keluarga ku, karena biaya perkuliahan melalui jalur mandiri sangat lah mahal, terutama jika mengambil jurusan di dunia kesehatan. Sementara ekonomi keluarga tidak mencukupi untuk membiayai kuliah ku. Aku harus bisa meringankan beban orang tua. Mungkin tahun ini lebih baik aku tunda saja pendidikan ku, sebagai solusinya aku ingin kembali merantau untuk menimba ilmu lagi di Pesantren.

Aku merasa ilmu ku sangatlah minim selama 3 tahun di pesantren. Aku ingin mempelajari lebih dalam lagi ilmu Agama. Aku berencana ingin nyantri di Pondok Pesantren di Yogyakarta sekaligus mengabdi disana, namun Ibuku belum memberikan aku izin, Ibu tetap menginginkan aku kuliah. Tetapi kali ini aku belum berminat dan harus berfikir ulang.

Dengan penuh harapan aku berdoa kepada sang Murobbi semoga Ibu bisa memberiku izin untuk kembali menyantri. Dan Alhamdulillah setelah dua minggu kemudian Ibu dan Ayah memberi izin kepada ku untuk nyantri kembali, dengan syarat tahun depan aku harus kuliah. Mungkin ibu takut andaikan aku tidak kuliah aku akan minder sama saudara-saudaraku yang telah melanjutkan pendidikan mereka.

Dengan sangat bersyukur, akhirnya do’a ku terkabulkan. Seminggu kemudian aku pun berangkat menuju Jogja, walaupun aku berangkat sendirian tanpa bimbingan mereka. Aku merasa aku sudah bisa melakukan secara mandiri tanpa mereka. Walaupun aku harus selalu bertanya alamat Pondok Pesantren tersebut kepada masyarakat. Setelah tiba di Pesantren, aku langsung menemui Pak Kyai Pimpinan Pesantren di kediamannya. Tidak ku duga ternyata Kyai nya sangat muda, jauh dari apa yang aku pikirkan, umur beliau sekitar 45 tahun.

Beliau dengan suka cita menyambut kehadiranku dan langsung menanyakan tujuan kedatanganku kemari. Beranjak dari kediaman Beliau, aku langsung di antar ke asrama sementara, karena aku tidak akan tinggal di Pesantren utamanya, melainkan akan menempati asrama di pesantren cabang yang khusus untuk menghafal Al-Qur’an, sementara pesantren yang aku tempati sekarang adalah khusus yang menghafal Al-Qur’an dan Pendidikan Formal.

Aku menginap sekitar 2 hari disana, karena akan ada acara Sholawatan bersama Habib Syekh. Setelah acara tersebut aku dan santri yang lain kemudian di antar menuju pesantren tahfidz putri. Sepanjang perjalanan aku berkhayal, bagaimana pondok pesantren yang akan aku tempati itu?. Ku kira pesantren itu dekat dengan pesantren utama, namun ternyata salah, tempatnya cukup jauh, berbagai tempat telah kami lewati, termasuk tempat yang bersejarah yaitu Candi Prambanan. Baru kali ini aku melihat Candi tersebut secara langsung, walaupun hanya dengan melihat dari kejauhan saja.11535826_1111733958843761_9154290071593866400_n

Sepanjang perjalanan aku merasa lelah, akhirnya aku pun tertidur. Tak lama kemudian tibalah kami di Pondok Pesantren, lagi-lagi aku kaget, ternyata pesantrennya tidak seperti apa yang aku pikirkan. Aku membayangkan sebuah gedung yang bertingkat dan umumnya seperti pesantren utamanya. Namun ternyata, pesantren ini adalah sebuah rumah yang besar dilengkapi 2 kamar kecil yang bermuatan sekitar 6 orang santri dan 2 kamar besar yang kira-kira bermuatan 25 santri per kamar, dan halaman yang sangat luas. Ada sekitar 37 santriwati disana, dari berbagai kalangan. Aktivitas di pondok ini sangat longgar, tidak ada kegiatan yang berat. Setiap hari kegiatan wajib kami hanyalah mengaji Al-Qur’an, tiada hari tanpa Al-Qur’an, setiap hari hanya untuk Al-Qur’an.

Berbeda dengan Pondok Pesantren utamanya, disana kegiatan dan jadwalnya sangat padat, sehingga mayoritas santrinya kesulitan untuk mengatur waktu antara kuliah/ pendidikan formal dan mengaji. Selang waktu libur aku izin untuk membuka media sosial, aku ingin melihat kabar teman-teman ku. Baru saja aku aktif di media sosial, teman-temanku telah menyapaku, menanyakan kabar dan keberadaan ku sekarang. Terkadang aku merasa iri kepada mereka yang telah lebih dahulu merasakan menjadi mahasiswa, sementara aku harus menundanya. Namun itu semua tidak membuat ku berkecil hati, karena Allah telah menentukan yang terbaik untukku.

Dengan ikhlas dan yakin kepada Allah, aku jalani semuanya, dengan alur waktu yang telah ditentukan. Waktu berjalan begitu cepat, tak ku duga 2014 telah di lewati, sekarang adalah tahun 2015. Kali ini aku kembali bingung, apakah aku harus tetap berada disini ataukah aku harus melanjutkan pendidikan sesuai keinginan Ibu?, dengan segala upaya aku berdo’a memohon kepada Allah untuk memberiku petunjuk. Akhir-akhir ini telepon kamarku selalu berbunyi, tidak salah lagi, itu adalah panggilan dari ibuku, tidak tahu mengapa ibu ku kali ini sangat rutin menelfonku, dan pembahasannya adalah menyuruhku untuk kuliah.

Aku tidak menanggapinya, aku masih ingin menyelesaikan Al-Qur’an ku terlebih dahulu, baru aku akan melanjutkan pendidikan selanjutnya, entah dalam kurun waktu berapa lama aku harus bertahan disini. Namun lagi-lagi hatiku bimbang, walaupun aku berupaya istiqomah, tetapi pikiranku tertuju pada Ibu, Beliau sangat antusias menginginkan anak bungsunya melanjutkan pendidikan. Aku hanya dapat berdiam diri dan berfikir apa yang harus aku lakukan. Terlintas di pikiranku untuk menyelesaikan Al-Qur’an ku dengan waktu yang sangat singkat ini dan melanjutkan pendidikan sesuai harapan dan permintaan ibuku.

Walaupun aku belum yakin apakah aku mampu menyelesaikannya dalam waktu 3 bulan ini, namun kali ini aku harus mencoba untuk bisa atau tidaknya, aku harus yakin bahwa Allah akan memberi kemudahan kepada setiap hamba-Nya. Siang malam aku terus usaha keras menyetor hafalan. Sampai pada bulan terakhir, Allah mengabulkan do’aku. Aku bisa menyelesaikan Al-Qur’an dengan waktu singkat. Walaupun hanya sekedar setoran dan masih jauh dari kata lancar dan sempurna. Namun tidak mengapa, karena aku yakin semuanya akan berjalan dengan seiring waktu.

Langsung saja aku memberi kabar kepada Ibu, bahwa dalam minggu ini aku akan pulang dan memenuhi keinginan Beliau. Tak terasa, kurang lebih 7 bulan aku di pondok itu menimba ilmu yang sangat sedikit. Kali ini aku akan kembali ke rumahku, berjumpa dengan sanak saudara dan berjuang kembali untuk menembus menjadi seorang mahasiswa. Sangat singkat aku berada di Yogyakarta, namun berbagai suka duka dan pengalaman telah aku dapatkan, walaupun hanya segelintir saja. Aku sangat bersyukur karena aku dapat mengelilingi kota bersejarah ini dan menimba ilmu disini. Setibanya di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Kota Palembang, dengan segera aku menuju kediaman orang tua ku. Setelah menempuh waktu yang cukup lama, akhirnya aku merasakan kembali hangatnya pelukan seorang Ibu dan Saudara-saudaraku.

Waktu ku tidak banyak saat ini, aku harus belajar untuk persiapan mengikuti berbagai tes di Perguruan Tinggi. Namun, kali ini aku mendapat kendala. Pengetahuan Sains ku sangat kurang, sehingga aku membutuhkan tempat bimbingan belajar, namun apalah daya, kondisi keuangan keluargaku tidak mendukung, aku ingin menyusahkan orang tua ku, karena aku tahu keperluanku kedepannya sangatlah banyak.

Dengan segala upaya aku belajar sendiri dirumah dengan bekal do’a dan buku-buku. Semua pendaftaran aku ikuti, mulai dari SBMPTN, POLTEKKES, UMPT-KIN, serta Beasiswa Santri Menjadi Dokter. Sementara waktu ku hanya tinggal 1 bulan lagi untuk ikut tempur di medan perang, aku merasa persiapan dan usahaku belumlah cukup. Namun aku yakin Allah akan memberi kemudahan dan jalan bagi hamba-hamba-Nya. Sekarang memasuki bulan Mei, aku harus berjuang menghadapi 98 orang peserta seleksi beasiswa santri jadi dokter, tetapi kuotanya hanya untuk 7 orang saja. Ini adalah target dan harapan ku untuk menuju cita-cita. Dengan D.U.I.T dan konsep MAN JADDA WAJADA aku yakin aku bisa jika Allah meridhoi-Nya.

2 Minggu setelah ujian tersebut aku mendapat sebuah pesan bahagia bahwa aku di nyatakan LULUS Program Beasiswa Santri Jadi Dokter di UIN SYARIF HIDAYATULLAH dengan Prodi FARMASI. Namun aku belum terlalu yakin, tetapi setelah aku melihat namaku tercantum media koran lokal, aku percaya dan segera sujud syukur kepada Allah atas Anugerah yang telah diberikan. Ibu dan keluarga ku sangat bahagia dan bersyukur atas Karunia-Nya.

Selanjutnya aku melakukan registrasi pendaftaran ulang di kantor Pemerintahan Daerah. Aku merasa ini adalah sebuah mimpi. Namun tidak, ini adalah kenyataan, aku diberi kesempatan untuk menerima beasiswa dan kuliah di bidang kesehatan sesuai apa yang telah aku cita-citakan. Allah benar-benar mendengar do’a para hamba-hambaNya. Ini adalah titipan dari Allah dan harus aku gunakan kesempatan ini dengan sebaiknya. Aku harus belajar lebih keras lagi, selesai dengan tepat waktu, mengabdi ke masyarakat, serta dapat mengharumkan Daerah dan Negaraku.

 

Tulisan lainnya:

1. Analogi Hukum-Hukum Newton Tentang Perilaku Belajar Peserta Didik

No image found

Mengapa Engkau Memilih Ku?

Pertanyaan yang tak sempat aku tanyakan pada suami sebelum menikah dulu.

Aneh memang pertanyaan itu muncul setelah sekian lama usia pernikahan kami, tapi tak apalah jika tujuannya untuk semakin mengikat perasaan dan menguatkan mahabbah.

Seperti biasa dia menjawab dengan bercanda “Karena dari sekian banyak perempuan yang ku ajak nikah, hanya kamu yang bersedia” diiringi dengan tawa lepasnya.

Aku cemberut, tentu saja bukan jawaban seperti itu yang aku harapkan. Dia memegang tanganku dan tersenyum “Sudah berapa tahun kita menikah Ummi?” “Hampir 7 tahun” jawab ku cepat. “Apa alasan Ummi menanyakan itu setelah sekian lama kita menikah?” tanyanya lagi “Ummi hanya ingin tau, agar Ummi bisa terus berusaha dan istiqomah untuk menjadi seperti yang Abi harapkan ketika Abi memutuskan untuk memilih Ummi dulu” ucap ku sedikit tercekat.

“Bisakah Abi jawab begini, karena Abi berharap memiliki istri yang bisa selalu mengingatkan jika hidup ini hanya sementara. Karena kesibukan dunia sering kali melalaikan, mengingatkan untuk selalu bersyukur dengan kelebihan dan bersabar dengan kekurangan, mengingatkan disaat khilaf dan alfa dengan kewajiban, dan terpenting menjadi Rabbaul Baits yang baik untuk anak-anak”, “kalau Abi menjawab seperti itu, sepertinya banyak perempuan lain yang lebih baik dari Ummi, Abi bisa mencari anak pesantren yang pemahaman agamanya jauh lebih baik dari Ummi, yang bisa mengingatkan Abi dengan lebih baik disertai dalil-dalil agama yang shahih”.

Abi tertunduk sesaat lalu menatap ku dalam-dalam. “Ummi, rumah tangga bukan kementerian yang membutuhkan seorang ilmuwan atau ahli-ahli dibidangnya untuk menyukseskan program, rumah tangga juga bukan sekolah yang perlu guru dari latar belakang ilmu yang mumpuni, rumah tangga juga bukan kerajaan yang sang raja harus perkasa, kaya raya dan memiliki permaisuri nan cantik jelita, tapi rumah tangga hanya diibaratkan perahu yang mengarungi samudera. Tidak diperlukan sertifikat sekelas angkatan laut untuk sukses mengarunginya bahkan nelayan-nelayan tak berpendidikan pun bisa dengan berani menantang badai”.

Aku terdiam mencoba memahami kata-katanya. Jika latar belakang pendidikan menentukan sukses tidaknya sebuah rumah tangga, alangkah banyak rumah tangga yang hancur karena minimnya pendidikan, jika kemiskinan yang melatarbelakanginya, alangkah banyak orang miskin yang bercerai. Tapi kenyataannya banyak keluarga miskin yang tetap bahagia dengan segala keterbatasan.

Diam-diam aku menangis, bukan karena sedih tapi karena rasa syukur nan mendalam karena memiliki imam yang menghargai dan mencintai ku apa adanya.

By: https://www.facebook.com/ferrynisma