Santri

banner 468x60
No image found

PERTEMUAN DAN PERPISAHAN

Nama : Rena Aulia Putri Elhas

TTl : Subang 2 – Agustus – 2001

Asrama : 4 Ismail Mahidin

Alamat : Palembang

Kelas :VII 12 Ts

_____________________

Disaat matahari setinggi galah, aku tak menyangka semuanya akan terjadi kepadaku !

Ya allah mengapa semua terjadi kepadaku. Kata anak kecil bernama annisa “Maafkan ayahnak, ayah juigs bingung mengapa semua terjadi begitu saja “

Ayah “apakah ayah dan ibu wajib berpisah? “.

“sudahlah, annisa mungkin ini jalan terbaik antara ibu dan ayah “, Kata ibu.

“Ibu sama ayah jahat, ibu sama ayah gak pernah mentingin urusan diri sendiri:, anisa jawab ibu dan ayah tersentak
“ya Allah yah gimanakayaknya anisa nggak setuju “

“ya bu, tapi gimana lagi ayah sudahnggak bisa jaga hubungan ini sampai lama “,
tak berpikir lama ibupun langsung menyelesaikan pembicaraan “
“sudah lah yah, kita beres2 aja untuk besok “

“ya, bu “

Keesokan harinya . . .

Ya Allah, anisa nggak bisa pisah kayak gini:’

Dalam hati anisa, anisa “kata ibu

“Iya, bu “, jawabnya sambil nangis tersedu-sedu

“yuk kita kumpul, yuk “

“iya, bu “!

Gini ayah minta maaf sama anisa “iya<ibu juga minta maaf yah sama anisa

Iya, bu, iyayah “jawabannya dengan lemas

Sekarang anisa harus milih mau ikut ayah, atau ibu

“Ya allah “, jawab anisa dalam hati, jantungnya pun langsung berdegup kencang mendengar kata seperti itu.

Ayah, ibu, anisa nggak bisa

“Harus anisa “kata ibu

Ngga bisa, ibu anisa dari kecil diurus sama ayah dan ibu, anisa sayang banget sama ayah dan ibu, anisa nggak bisa bu.

Ayolah, anisa nanti kita masih ketemu lagi kok, kata ayah sambil memegang pundak anisa

Ayo, ngertiin prasaan ayah sama ibu, maka anisa nggak ngerti prasaan ibu sama ayah sih, katanya anisa sayang sama ayah dan ibu

Ba. . . . . iklah, bu, bu anisa milih . . . . ?

Milih siapa, anisa “kata ayah

Milih ? “

Anisa bingung bu, ayah,

Ayolah anisa, nggak usah bingung

Iya, bu! anisa milih aaayah, setelah mendengar perkataan anisa, ibupun tidak menyangka mendapat hasil seperti itu

Ba. . . iklah, ayah anisa udah milih ayah, sekarang ayah harus bisa menjadi pengganti ibu “

Iya, bu!, insya allah ayah bisa ! “

Ayah ibu anisa sayang sama kalian berdua, walaupun anisa udah pisah, ibu ingat rasa hati ini takkan terpisah janji ya “anisapun langsung memeluk ayah dan ibunya dengan sangat erat

Beberapa tahun kemudian

“Ayah, Annisa berangkat sekolah dulu ya! “

“Ya, Annisa hati-hati ya “.

“Sip, ayah “.

Annisa pun pergi kesekolah barunya, dengan rasa senangnya. Eh, tiba-tiba Annisa menabrak seseorang.

“aduh, . . . . “Keluh annisa

“Aduh, maaf ya! “seseorang

“Ya, “Annisa pun langsung lari, dan tiba-tiba tangan seseorng pun memegang tangan annisa.

“Astaghfirullah hal adzim. . “Kata Annisa langsung melepaskan genggamannya

“Maaf ya, nama kamu siapa? Kenalin nama aku galuh “. Sambil mengulurkan tangannya

“Nama aku Annisa “. Annisa pun menolak uluran tangannya, dengan meletakkan tangannya di depan dada.

“Oh salam kenal ya “. Galuh melihat annisa seperti bidaari yang baru saja turun dari langit. Wajah Galuh melihat Annisa dengan begitu kesanyya, lihat saja matanya yang bersinar-sinar dan gayanya yang muslimah, mungkin karena itu galuh terpukau melihatnya.

“Hmmm, Annisa kamu mau kemana? “

“Kamu kok nanya gitu sih? Kamu mau macam-macam ya sama aku?( Annisapun lari

Terburu-burukarena takut ada apa-apa dengan dirinya).

Beberapa hari kemudian

“Annisa, ayah titip boneka kayu ini ya, untuk dikirimkan kerumah pak gudi, ini alamatnya “. Sambil memberikan alamatnya kepada Annisa. “Baiklah ayah, aku akan mengerjakan tugas dengan baik “. Sambil memuji dirinya sendiri.

“Ok. . ok. . anak ayah gitu loh. . . . , udah-udah sana pergi cepetan. “

“Iya-iya bye-bye “. Sambil melambaikan tangannya

Diperjalanan

“Hmm, mana ya? Eh. . ini bukan ya alamatnya? “sambil melihat kertas alamat tersebut

“Eh bener, “Dia pun langsung masuk kepagar rumah tersebut dan langsung menekan tombol belnya.

Teng tong. . !

“assalamualaikum. . . ? “

“Wa’alaikum salam “. Annisa terkejut

“Galuh?, astaghfirullah haladzim. . . . “. Annisa pun berbalik badan

“Annisa ayo masuk? “

“I. . ya. . “

“Galuh ini rumah kamu? “

“Iya, emang kenapa? “

“Bagus keren lagi “

“Oh, iya annisa duduk dulu ya, aku mau panggil mam dulu, biar buatin air untuk kamu “

“oh, nggak usah repot-repot “

“udah, nggak papa sekali-kali “

Setelah beberapa lama

“Galuh, ini air untuk kamu sama teman. . . . ka. . . mu! “

ANNISA “ibu galuh pun terkejut melihat Annisa yang sedang berada dirumahnya.

“Ibu! “Annisa pun santak langsung menutup mukanya, karena ia tak bisa menahan lagi rasa sedihnya.

“Ibu, ini Annisa “.

“Iya, ini ibu nak. “

“Jadi kalian udah saling kenal? “Ucap galuh seraya terkejut.

“Iya nak, ini adalah anak kandung ibu “.

“Ya allah maafkan aku yang sudah terlnjur sayang kepada Annisa. Tolong hilangkan rasa ini ya allah. “Dalam hati galuh.

“Ibu, jadi Annisa sama galuh. . . . “Annisa pun bingung ingin mengatakan apa, mungkin karena senangnya bertemu dengan ibu tercinta.

“Iya nak, “Ibu pun langsung berdiri di tengah-tengah mereka.

Sekarang, Galuh kenalkan ini Annisa. Dan Annisa kenalkan ini galuh.

“Yah, Galuh nggak bisa lagi deh deketin Annisa “. Tanpa sadarnya Galuh mengucapkan kata-kata itu.

“Hahaha. . . jadi sekarang Galuh mau deketin Annisa ya? “

“Enggak kokma, boong itu “.

Setelah pertemuan itu, Galuh dan Annisa pun tiadarasa lagi seperti yang dulu.

 

 

No image found

MALAM JANGAN BAWA DIA PERGI

By : Dian Ambrina K. S

Tanah Abang, 25 Juni 1999

Kelas : X. I (Asrama II Fatimah Azzahra)

Tanah Abang Utara Kabupaten Pali Sumatera Selatan

____________

Terang sinar rembulan mengalahkan semua cahaya bola lampu pemukiman di sini. Aku terduduk di kursi tamu dengan jemari ku yang sibuk bermain di keypart handpone berwarna merah sampai sampai lupa waktu. Sekarang hanya tinggal aku yang berada di ruang tamu dan nenek ku yang sedang menonton televisi. Semua orang kecuali aku dan nenek sudah tidur keasikan pun terganggu ketika nenek memanggil. “Mi… mi.. ibu mu memanggil”. Sambil menuju kamar bersiap-siap untuk tidur. Dengan sedikit kesal aku pun turun. Aku pun terkejut ketika ibuku sudah ada di dekat tangga yang posisi badannya tak tegap. “Mi.. tolong ibu”.

“ibu apa yang terjadi ?”tanpa banyak bertanya aku langsung menolong ibu bahkan memopongnya ke kamar mandi. Sampainya di kamar mandi ibu langsung muntah-muntah. Aku bingung setengah mati bingung tak tau mau berbuat apa. Setelah pukul 23. 30 WIB kurang lebih satu jam berdua dengan beliau aku memutuskan untuk membangunkan kakak-kakak ku yang sedang tidur, dengan cara menelpon mereka berkali-kali. Setelah setengah jam membangunkan mereka akhirnya mereka terbangun dan langsung melangkah menuju kamar mandi. “Apa yang terjadi pada ibu?”. Kami semua tak tau, mau berbuat apa. Salah satu dari kami ditugaskan untuk memberi informasi serta menjemput bapak yang sedang di toko. Kak Dimas langsung mengeluarkan motor dan mengendarai dengan secepat kilat.

Sekitar lima belas menit bapak ku telah datang dan melihat keadaan ibu yang telah kami bawa ke kamarnya. Raut wajah sang bunda makin memucat, raganya mencucurkan deraian keringat dingin. Jam dinding yang bulat berwarna biru itu pun menunjukkan pukul 00. 25 WIB. Tak kan mungkin atau klinik masih meronda. Di sini hanya ada aku, bapak serta ibu yang sedang berbaring lemah tak berdaya. Aku dan bapak hanya bisa memijat tubuhnya yang mulai melemah. Aku hanya dapat tertunduk lesu tak dapat berkata-kata lagi, begitupun bapak tak dapat berkutik hanya dapat melirik sang bunda penuh duka. Kakak dan mbak ku berada diluar kamar sambil menghubungi keluarga yang lainya serta membuat segelas kopi untuk bapak serta air hangat untuk ibu.

Sesaat ibuku memejamkan matanya, tapi tak beberapa lama terbangun lagi. setiap kali beliau bangun tubuhnya bagaikan tertusuk jarum yang begitu runcing. Aku keluar sebentar untuk mengambil air hangat, setelah itu masuk lagi dan keluar lagi dalam waktu jngka yang lama. “Ya Alloh, aku tak sanggup melihat sosok wanita yang begitu sangat kami cintai dan sayangi terbaring lemah, tak berdaya”. Bapak tiba-tiba memenggil kak Dimas “Dim… cepat kesini!”Ka Dimas pun yang tadinya berada di depan pintu kamar segera masuk. “Kenapa pak?. Cepat kamu ketempat bidan Yuni dan jemput kesini sekarang juga, karna bapak sudah meneleponnya tadi ternyata dia masih bertugas. “Kak Dimas dengan segera menjemput bidan yuli yang sedikit jauh rumahnya. Akupun masuk lagi untuk melihat kondisi beliau yang ternyata kian memburuk. Tubuhnya menggigil, wajahnya sengat pucat, bibirnya kering bagaikan dipadang pasir. aku dan bapak semakin panik ”Bu… bertahan bu! Sebentar lagi bidan datang, “ucap bapak yang sangat gelisah. Aku hanya bisa menangis dan menangis apalagi ketika ibu mengucapkan sepatah dua patah kata untuk kami yang ada di kamar itu. “Aku tak kuat lagi, biarlah Alloh mengajakku pulang karna ini terlalu sakit. Mendengar ucapan itu sang bunda yang sangat lemah itu, aku hanya bisa menangis dan berdoa kepada sang raja diatas raj. “ya Alloh tolong jangan ajak dia pulang pulang bersamamu, kami belum mampu bahkan tak terbiasa dan tidak bisa jauh dari kasih sayangnya yang begitu besar dan mengalir seperti sungai untuk kami.

Tak berapa lama bidan pun datang dan langsung mengecek keadan beliau. “Ya Alloh, Bi apa yang telah terjadi padamu?. “Sambil mengecek beliau ibu pun disuntik tetapi alhamdulillah tidak diimpus. Ibuku sudah tenang, sekarang tidak lagi pucat dan mengalirkan keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Bidan Yuli memberikan obat-obat, setelah itu permisi untuk pulang. “Mang aku mau pulang dulu, kalo bibi belum baikan bawa langsung kerumah sakit saja”.

“Makasih ya sydah mau datang kesini dengan waktu yang gelap ini”. Bidan Yuli pun diantar dengan kak Dimas. Jam menunjukkan pukul 02.00 WIB. Rembulan kian mencondongkan dirinya. Rasa kantuk mulai menghampiri tubuh yang letih dan kalaparan, tapi semua itu akan terbalas atas semua kesembuhan ibuku. “Mi, tidurlah besok sekolah kan?”. Iya pak. “Sambil menuju kamarku yang diatas. “Mi, tidur di dekat ibumu saja. “Bapak dimana?. “Dikamar satunya. “Semua orang sudah menuju kamarnya masing-masing. Aku tidur dibawah, tepatnya beralaskan tikar. Sungguh banyak hewan yang menghisap darah yang membuat tubuh ini penuh dengan bentol. tapi semua itu tak berlangsung lama , karna tiba-tiba ibuku bangun serta berkata”mi…. pindah ke atas ranjang saja, di bawah dingin, banyak nyamuk nanti kamu sakit”. Aku pun tidur dekat ibuku serta memeluknya karna aku belum sanggup di pisahkan dari beliau.

Malam pun berganti pagi dengan suasana hati yang sedih. suara seseorang membangunkan aku dari lelapnya tidurku dengan nada lembut “mi…. bangun nak sudah pagi ini, kamukan mau sekolah “akupun terbangun dan langsung mandi serta berpakaian seragam dengan rapi dan langsung menuju kesekolah yang jauh.

Aku lupa bahwa hari ini ada ulangan, belum ada persiapan apapun untuk menghadapi lawan yang tidak besar tetapi perlu taktik dan trik-trik yang sempurna. aku membaca buku sambil menunggu pak sakdan datang. ternyata sekian lama menunggu pak sakdan tak kunjung datang. bel pun berbunyi pelajaran bahasa indonesia pun berakhir dan tak terasa waktu pun telah berlalu dengan cepat. maka sekolah pun berakhir dengan dentingan suara lonceng yang sudah tua. semua siswa berceceran keluar kelas termasuk aku. Semua siswa sudah pulang dengan menggunakan beraneka ragam tranportasi ada yang bermotor, bus, jalan kaki dan ada yang masih menunggu jemputan keluarga mereka di pintu gerbang. aku melakukan aktivitas menunggu jika aku tidak membawa kendaraan dan teman-temanku tak mengajak aku. sekitar 15menit menunggu ternyata aku di jemput mbak Desi. akupun pulang dengan perut lapar, dahaga yang mengeringkan tenggorokan serta kelelahan yang menyelimuti diriku.

Sekitar setengah jam aku sudah sampai di rumah dan langsung masuk. “assalamu’alaikum, “menyelonong masuk rumah. “wa’alaikumsalam, “sudah pulang cepat ganti baju dan makan siang. “aku pun bergegas dan mengganti pakaian ku. Mencuci tangan sebelum makan, mengambil piring serta duduk manis di kursi. Aku makan dengan lahap di lengkapi rasa bahagia karena ibuku sudah sehat dan melakukan kegiatan walaupun tak seefisien seperti biasanya serta senyumannya menyemangati ragaku yang tak berdaya saat ini. Terima kasih ya allah, telah mengirimkan wanita yang sehebat ini. Aku akan berjanji dan akan berusaha menjadi yang terbaik untuknya. Jadikan beliau sebagai penerang serta petunjuk hidup ku ini.

WE LOVE YOU MOM……… YOU ARE MY EVERYTHING

 

 

No image found

KALAU

By: DINA MARISA

KELAS:IX TSANAWIYAH

ALAMAT: DS. AUR KEC. LUBAI KAB. MUARA ENIM

__________________

Pada suatu hari

Tok…tok… desi! Sahut papa dan mama nya desi pun langsung membuka pintu nya kenapa pa…ma…? tanya desi si anak tunggal baru berumur 6 tahun itu, sayang papa sama mama besok mau bisnis! Kata papa sambil mengelus kepala desi, terus kenapa bilang sama desi? Mama sama papa bisnis nya di inggris, jadi kamu bisa kan kalo mama sama papa tinggal dulu? Tapi kan ma! Siapa yang ngurus desi? Tanay desi dengan nada lemas kan ada bi’slni! Kata papa, tapi kan banta desi, udah malem kamu cepat tidur besok ikut nganter mama sama papa oke! Kata mama dengan nada lembut, good night sayang! Sahut mama dan papa nya bayangan papa dan mama nya sudah jauh desi mengunci pintu kamarnya dan mematikan lampu kamarnya, kenapa mama sama papa ngak pernah ada waktu untuk desi! Sahut nya di dalam hati, desi pun mencoba untuk tidur.

Ke esokakan hari nya

Dibandara…………

Jaga diri ya sayang, mama sama papa mau berangkat, doa’in biar selamat! Sahut mama sambil memeluk nya, mama sama papa janji sama desi harus cepat pulang! Kata desi sambil setengah menangis, mama dan papa nya hanya diam bertanda tak kan bisa menepati janji itu. Ya udah mama sama papa berangkat ya! Sahut mama nya, mereka ber2 pun memasuki pesawat.

3…2…1…(meluncur) desi terus memandangi pesawat itu sambil menangis. Desi, seru bik salni denga nada yang lembur, desi alngsung memeluk bik salni ,udah jangan di pikirin do’ain aja selamat ya! Sahut bik salni, sekarang kita pulang yu’! ajak bik salni , desi hanya mengangguk lembut.

1 bulan kemudian

Desi menangis sendirian di kamarnya tiba-tiba bik salni datang menghampiri desi, bik sekarang mama sama papa lagi ngapain yach! Tanya desi setengah menangis, mungkin lagi kerja! Sahut bik salni, bik desi kangen sama mama dan papa coba kalau mama dan papa ada di sini pasti desi bahagia, bik, desi ngak mau mama sama papa kenapa-napa di sana! Sahut desi, bik salni pun memeluk desi, sekarangn udah ajm 09:00 nanti kamu telat sekolah! Pinta bik salni, desi hanya mengangguk , bik salni pun keluar dari kamar desi. Setelah langkah buk salni jauh desi mengunci pintu kamar nya dan mematikan lampu kamar nya!

Ma…pa… desi udah kangen sama papa dan mama? Tanay dalam hati nya lama-kelamaan dia pun tertidur .

Pagi pun tiba desi terbangun dari tidur lelap nya desi bergegas ke kamar mandi setelah selesai ke kamar mandi, desi memakai seragam sekolah nya, di depan kaca desi ter senyum dan ber kata aku harus semangat, desi keluar dari kamar nya dan menuju ruang makan sepi banget ha.. coba kalu ada mama sama papa pasti rame! Desi menunduk bi..bibi…! seru desi, bik salni pun menghampiri desi ,kenapa non! Tanya bik salni, desi kenyang! Sahut desi dengan nada lemas, udah ya bik desi mau berangkat dulu yach! Dada… desi pun berangkat bersama sopir nya menggunakan mobil kijang innova super keren, di sepanjang jalan desi melihat pemamdanga di luar mobil, 10 menit kemudian desi datang di sekolah nya, dada pak, desi sekolah dulu yach? Pamit desi kepada pak sopir nya, ketika desi menuju kelas desi melihat teman-teman lain nya ber sama kedua orang tua mereka masing-masing.

Teng…teng… bel masuk ber bunyi murid-murid masuk kelas masing-masing. Anak-anak bagaimana kalau kita menggamabar saja! Sahut buk guru, iya buk… jawab anak-anak , sekarang silah kan mulai, siapa yang selesai silah kan kumpul di atas meja ibu ya, soal nya kita amu tuntu kan juara menggambar ! sambut buk guru dengan nada semangat , semua murid pu menggambar dengan penuh semangat,ter masuk desi, aku menggambar keluarga ku aja, kata desi sambil mengetuk kepala nya dengan satu jari.yeee akhirnya selesai juga!

Desi mengumpul kan nya begitu juga anak-anak yang lain, 10 menit kemudian buk guru selesai menilai semua lukisan murid-murid nya. Anak-anak ibuk akan umum kan juara 1 diraih oleh desi lilis nurrahma!

Prok…prok…prok… juara 2 cika,juara 3 caca.prok…prok…prok… mereka bertiga amju ke depan dan mengambil lukisan masing-masing beserta hadiah nya.

Teng…teng…teng… bel pulang berbunyi, murid-murid pulang kerumah masing-masing, desi pun tiba di rumah dia langsung ber lari menjenguk bik salni, bibik… lihat ni desi menang juara 1 melukis,sahut desi dengamn nada penuh semengat sambil menunjuk kan lukisan nya! Bik, kalau mama sama papa pulang desi mau tunjukin lukisan desi! Bik salni hanya tertawa kecil, desi berangkat dari pangkuan bik salni dan pergi ke kamar nya lalu desi memajang lukisan nya di dinding kamar nya. Coba kalau mama sama papa lihat lukisan ini pasti mereka senang banget! Kata desi sambil memandangi lukisan nya.

Tok…tok…tok… dsi membuka pintu kamar nya ada apa bik,tanay desi, ada telfon! Sahut bik salni, desi berjalan menuju ruang tamu dan mengangkat telfon, hallo, sahut desi, hai sayang sekarang kamu lagi ngapain nak! Desi hanya mengangkat satu alis nya ini siapa ya? Tanya desi, ini mama sama papa sayang! Beneran ini mama sama papa ? tanay desi lebih jelas setengah ter tawa, iya anak!

Pa…ma… desi kangen kapan mama sama papa pulang? Sekarang mama sama papa lagi di jalan menuju bandara! Beneran pa? Iya papa beneran! Pokok nya papa sama mama janji kalo di rumah nanti harus sama desi ya! Desi pun merengek, ya papa sama mama janji!

No image found

KEPERGIAN SEORANG ANAK

By: DINA MARISA

KELAS: IX TSANAWIYAH

ALAMAT: DS. AUR KEC. LUBAI KAB. MUARA ENIM

Pada suatu hari, hiduplah seorang keluarga yang sederhana. Saat itu, sang ibu sedang membuat kue untuk di jual kepasar.

Ibu ; Nak? “ini kuenya sudah siap untuk di jual!

Anisa ; Iya, , , bu, nisa mau ganti baju dulu, kuenya di letakkan di atas meja!

Ibu pun meletakkannya di atas meja dan pergi meninggalkan anisa.

Anisa pun sudah siap untuk pergi ke pasar dan berpamitan ke pada ibunya.

Anisa ; Bu, , ”nisa pergi dulu. ”

Ibu ;Iya, , hati-hati di jalan.

Tiba-tiba di depan pasar, anisa langsung mencari buk rini. Setelah itu anisa langsung mengasihkan kue buatan ibunya.

Anisa ; Assalammualaikum, , , buk!

Buk Rini ; Wa’alaikumsalam, eh anisa mana ibu mu”

Anisa ; Ibu di rumah, mungkin lagi masak, buk. ”Oh iya buk kalau gitu saya pulang dulu.

Buk Rini ; Iya, , hati-hati di jalan.

Anisa pun pergi meninggalkan tempat buk rini dan pulang ke rumahnya. Saat itu di jalan ia bertemu 2 orang laki-laki . Mereka mengganggu anisa sampai-sampai ia terjatuh di lubang yang lumayan dalam.

2 laki-laki ; Hei! Cewek, kok jalan sendirian sih, (sambil mencolek-colek dagu anisa)

Anisa ; Eh, , jangan ganggu aku!

Laki-laki nomor 1 ; Aduh!!

Tiba-tiba anisa langsung lari dari mereka, mereka mengejar anisa tetapi tidak sampai. Akhirnya anisa pun sampai di rumah dan menjatuhkan air matanya lalu ibu menghampirinya.

Ibu ; Ada apa sayang?

Anisa ; Bu aku takut!!

Ibu ; Takut kenapa, apa kamu ada masalah

Anisa ; Tidak bu, anisa tidak ada masalah (ia tidak mau memberi tau ibunya tentang dirinya, lalu dia langsung pergi meninggalkan ibunya yang sedang duduk di depannya)

Ibu ; Sayang buka pintunya?

Anisa ; Tidak bu, , tidak.

Ibu ; Ayolah nisa ibu tau kalau kamu ada masalah?

Sudah berkali-kali ibu menasehatinya dan mengetuk pintu kamarnya tetapi tetap saja ia tidak membuka kan pintu nya. Hampir jam 10:00 anisa pun membuka kan pintu nya dengan wajah sedih, ia pun pergi menuju kursi yang di tiduri oleh ibu nya, dan ibu pun segera terbangun .

Anisa : buk,nisa udah ngak tahan lagi?

Ibu : Nisa ,kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu?

Anisa : buk, tolong nisa buk,

Ibu : sayang ibu mohon jangan berkata seperti itu, ibu sangat sayang dengan mu, ibu mohon jangan tinggal kan ibu, ibu sedih bapak mu telah mencerai kan ibu, dan sekarang kamu ingin meninggal kan ibu. (ibu menangis sambilmemeluk anak nya)

Anisa : buk, nisa juga sayang ibu.

Ibu : sudah, sekarang sudah jam 10:30, cepat tidur dan jangan lagi berkata seperti ini lagi.

Anisa pun masuki ke kamar nya dan tidur.

Pagi tiba ibu membuka pintu kamar anak nya dan di saat ia membangun kan anak nya tiba-tiba, ia terkejut karena badan anisa sangat panas. Ibu langsung membawa anisa kerumah sakit, tiba di dalam, anisa pun telah di rawat oleh dokter, dan ibu menunggu di luar.

Ibu : dok, bagaimana keadaan anak saya.

Dokter : buk… ayo masuk lah.

Ibu : ya allah… anak ku’’(ibu menangis sambil memegang tangan anak nya)

Dokter : buk, ibu harus bersabar

Ibu : iya, dok…

Tiba-tiba anisa terbangun,dan selalu memanggil ibu nya

Anisa : buk…buk…

Ibu : iya, sayang ibu di sini’’

Anisa : buk, bacain anisa 2 kalimat syahadat buk, ayo buk tolong anisa!

Ibu menangis tersedu-sedu saat anisa berkata ingin di bacakan syahadat untuk nya.

Ibu : dok…dok… tolong saya dok! Ibub menarik-narik baju dokter.

Anisa : buk…

Ibu : ‘’ sayang ini tidak mungkin ‘’ sayang ibu mohon jangan tinggal kan ibu.ibu tidak ada siapa-siapa lagi.

Anisa ; buk…anisa udah ngak tahan lagi buk!

D0kter : buk..

Ibu : iya… ibu akan membaca kan kalimat kalimat itu jika ini yang ter baik untuk mu. Tiba-tiba anisa mencium pipi ibu nya. Ibu nya termenung melihat anak nya dan ibu pun mulai membaca kan kalimat syahadat di dekat teling anisa. Sesudah itu mata anisa langsung terpejam.

Ibu : anisa… ibu teriak memanggil anak nya… tidak…ini tidak mungkin.

Dokter : inalillah……… buk…… sabar!

Ibunya pergi meninggal kan ruang itu, dan dokter pun membawa jenazah anisa ke kamar mayat.

Ibu : tidak… anak saya tidak meninggal..

Ibunya terus menerus berucap seperti itu. Dan ia pun di ajak oleh dokter ke rumah sakit jiwa. Dan ibu anisa di jaga di rumah sakit jiwa, dan kini ibu nya gila karena di tinggal kan anak nya.

 

No image found

HANYA UNTUKMU

Sejak kecil ku di pangkuanmu

Di belai,disayang dan di manja

Hari demi hari di lalui

Isak tangis terkadang menyayat hati

Namun engkau tetap tabahkandiri

Semoga surga kan slalu menanti

Derita emi derita dilalui

Dengan tabah,tak pernah ia rasakan lelah

Demi untuk membesarkan kita semua

IBU….

Engkaulah yang paling disayang

IBU…

Jasamu tiada terbilang

IBU…

Banyak penderitaan yang dirasakan

IBU…

Semoga engkau dimuliakan tuhan

____________________

Karya : Meisya .A

Asrama : IV Haspi

No image found

MY LIFE

By: Salwa Fadara Ariga (XI D IPA), Asrama IX Ishak Bahsin

TTL : Takengon, 23 Juli 1999

Alamat : Campang 3 Ulu Kec. Cempaka Kab. OKUT

___________________

Hai. . . Perkenalkan namaku Raudhotun Nafisa. Umurku 15 tahun, aku sigadis berkacamata, penyuka warna kuning.

“Nafisa. . . Nafisa bangun sayang”.

“mmhh. . . hoamm. . mama, morning ma?”.

“morning too honey. Ayo bangun, mandi terus makan. ”Ucap mama.

“Iya mamaku sayang”.

“Ya udah, mama tunggu dibawah ya”.

Setelah usai mandi aku pergi keruang makan.

“Pagi papa”. Sapaku

“Pagi sayang. Gimana udah lebih enakan dari kemotherapy kemaren?”.

“Iya udah lumayan seger”.

15 menit berlalu hanya senyap yang mengiringi suasana makan ini. Setelah usai makan papa pamit berangkat kerja.

“Naf jangan lupa minum obatnya”.

“Mama Naf capek. Obat itu pait”.

“Naf sayang, Kamu tau 20 tahun lalu mama menikah dengan papamu. Lima tahun kami menunggu-nunggu kehadiran kamu dan akhirnya kamu lahir. Setelah kamu lahir mama divonis nggak bisa hamil lagi. Cuma kamu satu-satunya yang kami punya, dan sekarang kamu mau nyerah? Dan mau ninggalin mama dan papa? Kamu tega?Mama mohon Naf, berjuang untuk sembuh demi mama dan papa. ”Ucap mama.

Air matakupun pecah, dan akhirnya aku meminum obat.

Dua jam kemudian, akumenuruni anak tangga rumahku. Mrs. Yuman adalah guruku. Aku home scooling, aku terpaksa tidak lagi sekolah seperti murid-murid lainnya karena penyakitku.

“Assalamualaikum nafisa?. ”

“Wa’alaikum salam mrs. , kenapa kemaren gak masuk?”.

‘Mrs ada job kemaren sayang”.

“Oh, mrs Naf pengen curhat

“Naf mau curhat apa?. ”

“Mrs Yum, Naf pengen sembuh, Naf capek begini terus. naf pengen ngewujutin mimpi Nafisa. Naf takut, Naf nggak mau ninggalin mama sendiri. Mama Cuma punya naf, papa bahagia sama keluarga barunya. Papa jarang pulang kerumah , lebih banyak kerumah tante itu. naf mau bertahan, tapi naf nggak mungkin bisa. ”

“Naf bisa, jangan patah semangat dong sayang. Naf, alloh itu nggak bakal nguji hambanya melebihi kemampuan manusia itu sendiri. Naf itu harus banyak-banyak istighfar, sholatnya jangan putus, ya kalo bisa sholat malem ya sholat malem. semuanya bisa terjadi kalo allah udah bilang kunfayakun. ”insya allah naf sembuh kalo naf benar-benar usaha, semangat raudhatun nafisah, allah selalu mendengar suara hati mu. yaudah, naf ikut mrs yuk. ’’

‘’kemana da ngapain mrs, ’’  Mrs yumn hanya tersenyum, setelah mrs yumna minta izin mama, aku di ajak mrs yumna dengan mobilnya ketempat yang asing bagiku, tempat itu adalah tempat di mna pula anak-anak kecil yang terkena berbagai jenis penyakit.

‘’ehh neng yumna , tumben minggu ini datang dua kali’’tanya seorang wanita

‘’hehehe, emang ngak boleh ya mbak?

‘’ya boleh neng, ngomong-ngomong neng yang satu itu siapa?’’

‘’ohh, ini murid ku, dia pengen kenalan sama anak-anak yang hebat di sini’’

Setelah lama berbincang dengan mbak hasana, akhirnya mbak hasana mengenal kan ku dengan anak yang ber umur 5 tahun bernama syifa. Entah mengapa hati ku bergetar saat melihat keadaan nya, kepalanya amat besar tak sesuai dengan ukuran tubuhnya. Setelah melihat keadan syifa, aku tertrik melihat bayi yang kata mbak hasanah yang berumur 2 tahun. Awal nya, aku kira dia normal-normal saja, tapi saat ku lihat mata sebelah kiri nya, masyaallah.

‘’mbak hasana, ada apa dengan nya, tak sadar air mata ku kembali mengucur’’

‘’namanya mubaroq, dulu saat mbak mengunjungi makam keluarga mbak, mbak menemukan dia di bawah pohon di dekat gerbang pemakaman’’.

‘’astagfirullahhaladzim, ’’air mata ku semakin deras mengalir.

‘’saat mbak menemukan nya, mata nya di kerumuni semut, sungguh tega orang tua nya, membuang anak di pemakaman umum, ’’

Tak kuat rasa nya aku mendengar cerita mbak hasana, aku berlari memeluk mrs yumna. mrs yumna mengajak ku duduk diantara merka semua. akupun mengajak duduk diantara meraka semua , aku hanyut bergelut dengan suasan haru mereka. di sela-sela senyumku, hatiku menjerit alangkah begitu berat beban mereka, mrs yumna mengajak ku pulang, akupun pamit dan berjanji akan datang lagi,

‘’kamu harus nya bersyukur nak, banyak orang yang dukung kamu, meskipun mereka punya semacam penyakit yang berbahaya, tapi mereka punya semangat yang tinggi . seharus nya naf kaya gitu, ’’

Aku tesenyum dan berjanji pada mrs yumna bahwa aku akan hidup semangat.

1 bulan kemudian

23 juli 2014, adalah hari ulang tahun ku, hari ini aku berencana merayakan nya di panti asuhan . tapi dak di duga-duga penyakit ku kembali kambuh.

2 jam keluargaku menunggu ku di rumah sakit.

‘’keluarga raudhatul nafisah, ’’?

‘’iya saya papa nya dok, ’’

‘’Raudhatul nafisah memanggil mama dan papa nya terus’’

Mama dan papa nafisah pun keruang ICU

‘’Naf, kenapa sayang , tanya mama sembari menangis.

‘’ma. . . ma. . . maafin. . . naf. . , naf. . . udah. . . ngak kuat lagi. . naf mohon kalo. . . naf pergi , kalian bersatu lagi. . peluk naf. . ma. . . pa, bantu naf menghadapi sakaratul maut. . .

‘’naf, jangan ngomong gitu, ’’ucap mama. .

‘’pa. . . jaga mama. mama kesepian. .

‘’asha. . . duallah. . . illa. . ha illahlah. . . waasha. . . duanna. . . muhammad. . . darusullah. . . .

Tit. . tit. . . tit. . .

‘’nafisah. . . ngak nafisah bangun, janagan tinggalin mama, ’’teriak mama.

‘’nur, ikhlas kan naf, ’’ ucap papa.

Pada akhirnya tak ada manusia yang kekal di dunia. jangan pernah menyerah, bertawakal, istiqomah, dan tersenyumlah menghadapi hidup. Belajar lah bersyukur dengan waktu dan hargai setiap waktu yang engkau lalui.

No image found

HANYA UNTUKMU IBU

Karya: Riza Agustina

Kelas : X C MAK

Alamat : Ds. Sri Kembang. Kec. Payaraman. Kab. Ogan Ilir

______________

Pagi kembali, mentari menyapa dunia dengan sangat bersemangat, ini adalah hari libur sekolah dari kelulusan tsanawiah. Hari ini kami sekeluarga akan berziarah kemakam ayah tercinta, saat ini sudah sekitar jam 10. 00 WIB pagi, rasanya ku sudah tak sabar, wajar sudah sepuluh tahun kami ditinggalkan, rasanya ku sudah sangat rindu. hari semakin meninggi hampir jam 11. 00 WIB siang akhirnya kami pulang berziarah.

Malam ini ku tak bisa tidur, ziarah kali ini memberikan kesan berbeda, sempat terpikir dibenakku tentang kemana ku harus melanjutkan sekolah SLTA, ku sempatb cemas ku ingin sekali melanjutkan sekolah SLTA di pondok pesantren tapi, yang menjadi penghalang ialah masalah biaya, banyak orang bilang biayanya mahal. Tuhan. . . . . bantu aku, keinginan besarku untuk sekolah di pondok pesantren bukan hanya sekedar ingin tapi, ku mempunyai tujuan besar.

Ingin rasanya ku bicara pada ibuku, mengutarakan semua isi hatiku ini tapi aku ragu, aku takut hal ini menjadi beban pikiran ibuku. Ahh, mengapa lidahku terasa berat sekali, aku berusaha melangkahkan kaki keluar kamar, ku buka pintu kamarku, ku lihat ibuku sedang menyiapkan barang-barang. Terdengar olehku suara bising tumpukan alat-alat dapur yang terbuat dari aluminium. Barang-barang yang biasa dijual ibukun dipasar , ada satu hal yang membuat langkahku terhenti. Tetesan keringat itu, yah tetesan keringat ibuku. Aku tak sanggup melihatnya, ku merasa cukup terpukul, ku harus melakukan apa tuhan?

Aku akan menunggu hingga ibuku seleai, waktu itu hampir jam 23. 00 WIB malam, akhirnya ibuku selesai juga, terdengar langkah kakinya menuju kamar, cepat ku tarik selimut berpura-pura tidur. Ibu ku mendekat, ibu mengelus kurasakan sentuhan jemari halusnya. Tuhan ku tak ingin melihatnya terbebani. ku memilih untuk dian, sampai tiba nantinya waktu untuk bicara.

Pendaftaran santri baru sudah dibuka dimana-mana orang-orang sibuk mendaftar , sementara aku masih dalam ambang ketidak pastian, bingung. Pagi itu ada sesuatu yang membuatku terkejut . ibu memenggil. ”Riza, Riza. ” (lalu menjawab) “iya. . . . ”, makan.

Seperti biasa, sapaan itu setiap paginya untuk mengajak makan. Pagi ini kami makan nasi goreng buatan ibuku yang sangat enak, seperti biasa kami sarapan di waktu yang masih sangat pagi, kami makan bersama sambil nonton tv. Selesai makan ibuku sempat bertanya,

“Riza maunya ngelanjutin sekolah dimana?”

Aku tertegun, bicara terbata-bata. “Ibu. . . Riza pengen ngelanjutin di pondok pesantren. ”

“Pondok pesantren mana?”, Ku lihat ibuku menjawab sambil tersenyum .

“AL-ittifaqiah”jawabku

Ibuku terdiam, ku merasa ibuku sangat tertekan. ”Disana sangat mahal anakku”. Sudah kuduga ibuku bicara seperti itu, aku pergi kekamar menangis sejadi-jadinya, keinginanku sekolah di pondok sudah sangat bulat, tapi aku juga tak bisa memaksa ibuku. Ku tak tau harus bagaimana ya ALLAh. . . .

Waktu sudah menjukkan jam 07. 30 WIB. itu artinya ibuku sebentar lagi akan berangkat jualan ke pasar. aku sangat terhenyak, hal ini pasti menjadi beban pikiran ibuku. Ya Allah, ku merasa sangat bersalah , sudah terlalu banyak beban yang ia tanggung. Kulihat ia lari ke depan menuju mobil tumpangan untuk pergi ke pasar. Ku berusaha mengejar, ku jabat tangannya. ibu sempat berkata,

“Nanti ya nak saat ibu pulang kita bahas”. Iya. . . . (jawabku dengan mata yang masih basah). Ku kembali kekamar, berfikir tidak karuan. Ku teringat ayah, jika ayah masih hidup mungkinkah hidupku tak lagi terbatas biaya seperti ini.

“Ayah. . . . . . . ”

Ingin ku menjerit sepuasnya tuhan, mengapa kau ambil ayahku seperti ini, dapat ku hitung waktu ketika pertama kali ku dilahirkan didunia, dengan terakhir kali ku melihat ayah. Waktu itu umurku baru beranjak 4 tahun, adikku yang paling kecil tak pernah tau siapa ayahnya. ayah pergi ketika adik masih berumur 1, 5 tahun. Masih teringat dimemoriku semua kanangan indah bersama ayah, saat ia menggendongku, membelikan boneka lucu, mengajak bermain.

“Ayah. . . ”

Andai saja waktu itu bisa kembali, ku akan pegang erat tanganmu, agar tuhan tak mengambilmu dari ku. Ya rob. . . . Rasanya sangat sesak, jika mengingat apa yang terjadi padaku, ku hanya gadis kecil yang masih sangat lembut tuhan. . .

Ya allah. . .

Limpahkanlah karuniamu pada keluarga kami.

Hari menjelang dzuhur, adzan sudah berkumandang. waktunya sholat dzuhur tiba, dengan cepat ku lari kekamar mandi untuk mengambil air wudhu. Anehnya, hati yang tadi sangat kesal berubah menjadi sangat sejuk. Kala ku usapkan air wudhu itu, entah mengapa? Seketika hatiku terasa sangat damai, setiap tetesnya terasa memberiku ketenangan. Cepat ku dirikan sholat dzuhur bersama adikku. Ku berdo’a semoga allah selalu memberikan rahmatnya. Waktu terus berjalan , mentari sudah berada di ufuk barat, hari mulai senja ku lihat ibuku pulang dari kerjanya, berjualan dipasar. Kami semua senang, cepat ku ambil keranjang barang milik ibuku. Ibu pulang dengan membawa banyak makanan.

“nanti ya nak. nak ibu telpon bunda dulu” (ragu ibuku)

“Ya” (jawabku). Bundaku bernama ibu masitoh, dia adalah ibu angkatku, dia orang yang sangat baik. Dia adalah guru mengaji dan seorang daiah, maklum ibuku sering meminta pendapat dan bantuan padanya. Kusering memanggilnya “bunda”. Dulu waktu ayah baru meninggal, keluarga mereka membantu kami dengan sepenuh hati, wajar hingga hari ini keluarga kami masih dekat dengan keluarga mereka.

Bunda bilang”nanti segera kita daftarkan”, kalimat itu adalah kalimat yang sempat terdengar olehku, waktu mereka melakukan percakapan lewat telepon. ibu bilang padaku ia akan menjual emas dan mengumpulkan seluruh tabungannya untuk biaya awal dan keperluan-keperluanku nanti. Ya allah, mendengar jawaban itu ku langsung menangis sebagai tanda syukur padamu. Ridhoilah aku tuhan. . . . Ku berjanji suatu hari nanti akan ku buktikan pada ibuku bahwa usahanya tak pernah sia-sia. Semoga suatu hari kelak , aku dapat membahagiakan satu-satunya orang tua yang masih kumiliki, yaitu ibuku. . . . semoga aku menjadi orang yang sukses. Aminn. . . . . . !

No image found

PUISI UNTUK MAMA

Mama…

Andaikan aku bumi

Maka engkau adalah bulan yang slalu

Menyinari bumi ditengah kegelapan malam

Engkau bagaikan sinar matahari pagi yang manghangatkan dunia

 

Mama….

Engkaulah pahlawan dalam hidupku

Karenamulah ku terlahir didunia ini

Engkaulah yang merawatku siang dan malam

Tak kenal lelah engkau menggendongku

Kemanapun engkau pergi

Belum lagi rasa mual yang kau rasakan

Sehingga engkaui tak nafsu makan

 

Tapi engkau hanya berkata ”Wahai anakku

lahirlah dirimu dalam keadaan sehat

Tanpa engkau pedulikan akan sakit

Yang engkau rasakan nanti

Saat berada di ujung antara hidup dan mati

Namun pengorbananmu tak cukup sampai disini

Kini umurku tlah bertanbah

Meski begitu engkau tetap sabar menghadapi kenakalanku

Terkadang ku slalu membuatmu kesal

Ku tak mau menuruti perintahmu

Dan tanpa kusadari

Terkadang ku membantah perintahmu

Dan membuatmu bersedih

Hingga meneteskan air mata

Namun engkau tak pernah memendam rasa benci

Sedikitpun kepadaku

 

Oh Mama…

Kini kusadar besarnya kasih sayangmu untukku

 

Nama: Siti Munawwaroh

Kelas: XI B(IPK)

Alamat: Ds. KaryaMuktu Kec. Sinar PeninjauanKAB. OKU

Post By: Dep. Humas OSPI Putri 2014-2015

 

No image found

L A L A I

Damai…

Fatamargona negeriku

Senang…

Bila berlintasan insan-insan

Makhluk tuhan

Suka…

Menyambut kemerdekaan

Yang diimpikan negeriku

Adam dan Hawa banting tuhan

Merenggut kemrdekaan terang

Mengorbakan jiwa nan raga

Demi negeri aman sentosa

Kini…

Pengorbanan tak dihargai

Perjuangan tak diingati

Wahai pemuda harapan bangsa

Wahai pemuda harapan ibu pertiwi

Hancurkan prinsip anak muda

Zaman sekarang ini

Gak etis kalau gak anarkis

Dicap gak gaya

Kalau belum coba

Narkoba

 

Nama: Hestiya Susanti

Kelas: X.G Aliyah

Asrama: 1 Firdaus

Alamat: Pagar Dewa,Muara Enim

Post by: Dep. Humas OSPI Putri 2014-2015