EDUKASI PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP AKSI KRIMINALITAS DI KABUPATEN OGAN ILIR

Oleh: Ferry Heryadi, S.Pd.I

Fenomena kehidupan saat ini sangat beragam dan pastinya menarik untuk dicermati, salah satunya adalah fenomena dekadensi moral. Di era globalisasi saat ini banyak budaya dari luar baik itu yang positif atau negatif masuk. Budaya ini secara otomatis mempengaruhi moral dan perilaku masyarakat dan bisa mengarah ke arah yang dapat menimbulkan penyimpangan (dekadensi moral) dan tindak kriminalitas di kalangan umat manusia sehingga dekadensi moral sudah menjadi hal umum yang ada di tengah masyarakat dunia sekarang.

 

Berbagai penyimpangan norma-norma agama, adat istiadat dan hukum banyak terjadi bukan hanya di kota-kota besar tetapi sudah merambah ke pelosok kabupaten/kota tidak terkecuali di kabupaten Ogan Ilir.

Penyimpangan-penyimpangan ini diantaranya kenakalan remaja, tindakan asusila (pelecehan seksual, pemerkosaan dan pencabulan), tindak kriminalitas (perampokan, pembunuhan, penjabretan, pencurian dan lain-lain), pesta minuman keras, perjudian, narkoba, sex bebas dan lain sebagainya.

1.       Faktor yang mempengaruhi timbulnya penyimpangan-penyimpangan di dalam masyarakat.

a.       Faktor internal

Yang dimaksud dengan faktor internal adalah lingkungan terkecil dalam rumpun masyarakat yaitu keluarga. Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak.

Orang tua zaman sekarang cenderung kurang memperhatikan anak-anaknya. Para orang tua kurang memperdulikan lingkungan anaknya bergaul dan bermain sehingga anak-anak bebas melakukan apa saja. Contoh kecilnya adalah orang tua terkesan bangga ketika anaknya memiliki handphone dan bebas melakukan komunikasi dengan siapa saja. Mereka tidak memberikan pengawasan yang ketat kepada anaknya agar anak tidak menyalahgunakan kecanggihan tekhnologi komunikasi.

Dalam masyarakat sekarang yang sudah begitu mengagungkan ilmu pengetahuan, kaidah-kaidah moral dan tata susila yang dipegang teguh oleh orang-orang dahulu menjadi tertinggal dibelakang. Dan di dalam masyarakat yang telah terlalu jauh dari agama, kemerosotan moral orang dewasa sudah lumrah terjadi. Kemerosotan moral, tingkah laku dan perbuatan-perbuatan orang dewasa yang tidak baik menjadi contoh atau tauladan bagi anak-anak dan remaja sehingga berdampak timbulnya kenakalan remaja.

Kekurangan spiritual termasuk ketidakpahaman secara utuh tentang ajaran Islam sehingga mereka melakukan apa saja yang menjadi keinginan serta kemauan.

 

b.      Faktor eksternal

Berbicara faktor eksternal dekadensi moral masyarakat tidak lepas dari kemajuan era globalisasi dunia. Berbagai kemajuan teknologi mau tidak mau mempengaruhi pola pikir dan perilaku serta kehidupan dalam masyarakat.

Menjamurnya warung internet memberikan pengaruh yang besar. Internet yang menyediakan layanan global memberikan akses luas masuknya budaya-budaya asing (berbicara, berpakaian dan tradisi).

Berbagai tindakan kriminalitas terhadap anak dan asusila (pemerkosaan, pencabulan dan pelecehan seksual serta penculikan) yang terungkap berlatarbelakangi dari menonton video porno yang di unduh dari internet.

Maraknya perjudian, pesta minuman keras, narkoba dan hiburan malam di Ogan Ilir adalah cerminan bahwa lingkungan sudah tidak bisa menjamin perkembangan kepribadian anak menuju yang lebih baik.

 

2.       Upaya penanggulangan/perlindungan anak terhadap aksi kriminalitas di Ogan Ilir

Ditinjau dari segi geografis, Ogan Ilir adalah kabupaten yang strategis karena berbatasan langsung dengan ibu kota provinsi dan kabupaten/kota. Hal inilah yang sedikit banyak mempengaruhi memudarnya budaya-budaya lokal yang Islami. Ditambah lagi perkembangan media informasi seperti televisi dan internet yang terus menyajikan buday-budaya yang tidak sesuai dengan kepribadian masyarakat Ogan Ilir dan bahkan dapat mengurangi keimanan serta menyulut aksi kriminalitas khususnya terhadap anak.

Untuk melakukan tindangan reprentif akan perlindungan anak bukanlah hal yang mudah. Disini memerlukan kerjasama dari semua elemen masyarakat (lintas sektoral), mulai dari orang tua dalam keluarga, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama, lembaga pendidikan, pemerintah daerah sampai ke penegak hukum.

a.       Orang tua hendaknya menanamkan nilai-nilai agama pada anak, sehingga diharapkan dapat menjadi filter memilih dan dalam bergaul. Selain itu, orang tua harus tetap mengontrol dan memperkuat pengawasan anak-anaknya agar tidak terpengaruh hal-hal negatif dari lingkungan luar, oleh karena itu orang tua mulai saat ini harus tahu apa yang dilakukan anak bersama teman-temannya atau saat berada di luar rumah.

b.      Tokoh-tokoh masyarakat sejatinya memberikan contoh-contoh yang baik dalam bermasyarakat. Jangan ada lagi cerita seseorang yang dianggap dan dijadikan pemimpin malah melakukan perbuatan yang melanggar norma-norma di masyarakatnya sendiri.

c.       Tokoh-tokoh agama seharusnya terus memberikan pemahaman, wawasan dan pengetahuan nilai-nilai agama pada orang tua sehingga dapat menyalurkan pada anak-anaknya.

d.      Lembaga-lembaga pendidikan harus menitikberatkan dalam pembentukan karakter anak didik. Dengan demikian diharapkan anak didik bukan hanya sekedar kaya wawasan dan pengetahuan tetapi juga berakhlakulkarimah.

e.      Pemerintah daerah Ogan Ilir juga harus ikut andil dalam perlindungan anak terhadap aksi kriminalitas karena hanya di tangan anak-anak dan pemuda, masa depan kabupaten Ogan Ilir ditentukan.Langkah kongkritnya adalah diantaranya dengan:

–          Memperketat pengeluaran izin pendirian usaha warung internet (warnet) dan controling berkala, izin peredaran minuman keras, izin tempat-tempat hiburan malam, pengawasan objek-objek wisata yang disinyalir disalahgunakan sebagai tempat maksiat (tanjung senai, tanjung putus dan lain-lain).

–          Memaksimalkan pendidikan seks di lembaga-lembaga pendidikan yang tentunya harus dikemas dengan baik sehingga dapat mengoptimalkan ketercapaian tujuan. Dan jika dirasa sangat diperlukan, pemerintah daerah dapat mengeluarkan peraturan daerah (Perda) yang berpihak dan mementingkan keselamatan anak dan generasi muda.

f.        Penegak hukum/kepolisian selaku garda terdepan pemberantasan tindak kriminalitas di masyarakat khususnya perlindungan terhadap anak harus benar-benar melaksanakan amanah rakyat ini dengan sungguh-sungguh dan ikhlas.

–          Hapus segala bentuk perjudian di masyarakat

–          Berantas peredaran dan penggunaan minuman keras karena sudah jelas melanggar peraturan dan undang-undang yang berlaku di negara ini.

–          Berantas penyalahgunaan narkoba

–          Tutup warung remang-remang yang dapat berindikasi sebagai sarang peredaran narkoba, perdagangan manusia (human trafficking), perzinaan dan tidak krimininalitas lainya.

–          Tutup warung internet (warnet) yang dijadikan tempat maksiat dan sumber dari peredaran video porno serta melanggar hak cipta (ilegal software).

–          Perketat perizinan hiburan malam (pasar malam, Ogan Tunggal dan lain-lain)

–          Tingkatkan lagi kualitas dan kuantitas program Polisi Sahabat Anak (Polsanak) dan petugas Kamtibmas melalui program-program kerja yang lebih terarah dan memasyarakat.

–          Tindak tegas oknum-oknum dari jajaran kepolisian yang melanggar disiplin dan hukum.

3.       Saran

Kabupaten Ogan Ilir adalah suatu kabupaten yang terkenal akan sifat agamisnya. Hal ini bukanlah tidak beralasan karena di Ogan Ilir terdapat 20 pondok pesantren dan menjadikan kabupaten terbanyak memiliki pesantren se Sumatera Selatan.

Di Ogan Ilir juga telah tertanam tradisi lama yang Islami, mendidik dan bermanfaat seperti cawesan atau perkumpulan pengajian. biasanya dalam setiap desa terdapat satu atau dua cawesan walaupun bersifat tradisional.

Tidak dipungkiri lagi bahwa tradisi ini mulai memudar dan hilang. Jikapun masih ada, cawesan ini tidak memiliki kurikulum baku sehingga penceramah bebas memberikan tausyiah apa saja, mirisnya lagi cawesan diisi hanya sebatas membaca Al-Quran, yasin dan tahlil.

Sangat jarang menyinggung edukasi perlindungan anak terhadap aksi kriminal di masyarakat.Jika diperdayakan lagi, tentu cawesan ini sangat bermanfaat dan salah satu strategi jitu dalam menekan tindak krimininalitas sekaligus meningkatkan nilai-nilai agama dalam masyarakat.

Hanya saja sistemnya harus diperbaharui karena tantangan sekarang sangat jauh berbeda jika dibandingkan masa lalu. Penceramah baik dari kalangan ustad maupun kyai harus benar-benar ditatar dan dibina melalui berbagai seminar dan pertemuan sehingga dalam berdakwah di masyarakat memiliki rancangan atau kurikulum yang tersusun rapi dan terarah.

Selama ini pondok pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya telah melakukan berbagai bimbingan dan pembinaan pada para alumni dan ustad/ustadzah yang akan diterjunkan dalam masyarakat akan tetapi memang masih bertaraf kecil dan terbatas. Dalam kesempatan ini, kami siap berkoordinasi bersama pihak kepolisian, pemerintah daerah, lembaga-lembaga pendidikan dan organisasi-organisasi kemasyarakatan lainnya dalam rangka antisipasi, pemeliharaan dan penegakan hukum sekaligus mensukseskan tujuan pemerintahan Ogan Ilir seutuhnya.

 

Tulisan ini dibuat sebagai rekomendasi dalam Dialog Edukasi Perlindungan Anak Terhadap Aksi Kriminalitas Di Kabupaten Ogan Ilir,Indralaya, 22 Mei 2014

 

%d blogger menyukai ini: