Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah (PPI) Indralaya didirikan pada 10 Juli 1967 oleh ulama, umara, pengusaha dan tokoh masyarakat Indralaya. Pesantren ini pertama kali dipimpin oleh almarhum Fadhilatus Syeikh K.H. Ahmad Qori Nuri (1911-1996). Kemudian dilanjutkan K.H. Muslih Qori (1997-1998) dan K.H. Drs. Mudrik Qori, M.A. (1998-sekarang). Secara organisatoris PPI yang beralamat di Indralaya Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan Indonesia berada di bawah naungan Yayasan Islam Al-Ittifaqiah (YALQI) yang kini dipimpin KH. Drs. Syamsul Bahri HAR.

Santri binaan PPI berjumlah 3.298 orang, berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, mayoritas berlatar belakang ekonomi lemah. Tetapi mereka dapat mengukir banyak prestasi di tingkat nasional dan internasional seperti juara Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional dan Internasional di Malaysia tahun 1997, 2004 dan 2006, juara Musabaqoh Tahfizh Al-Qur’an (MHQ) Internasional di Saudi Arabia 2001, juara MTQ Internasional 2014 pria-wanita, juara pidato Bahasa Arab Pekan Olahraga Nasional dan juara pada beragam even nasional lain.

Santri dan alumni PPI mengharumkan nama Sumatera Selatan di pentas Nasional dan mengharumkan nama Indonesia di pentas Internasional pada event-event lomba MTQ, STQ, Tahfizh, Karya Tulis Imiah dan Seni-Olahraga Nasional dan Internasional.

Karena prestasi-prestasi tersebut, santri PPI mendapat undangan pemerintah Jepang untuk mengikuti Jenesys Programme pada April-Mei 2008 dan 22 Juni–2 Juli 2009. Pimpinan dan guru PPI berkali-kali mendapat undangan luar negeri, yaitu: ke Jepang pada Agustus 2004 untuk program Education Visit, ke Inggris untuk program Short Course of Conflict Resolution and Gender Mainstreaming pada September 2006, ke Amerika Serikat untuk program Partnership for School pada 1-20 November 2007, ke Turki untuk studi banding metode Tahfizh Sulaimanah November 2013, dan ke Iran untuk studi banding kependidikan/Iptek/kebudayaan September 2014.

Disamping itu pimpinan PPI bersama beberapa pimpinan pesantren Sumatera Selatan didanai Gubernur Sumatera Selatan untuk kunjungan kerjasama ke IDB Jeddah Saudi, Universitas Islam Madinah Saudi dan Universitas Al-Azhar Mesir 2003, kunjungan kebudayaan ke Hongkong dan Tiongkok 2012, studi banding pendidikan ke Malaysia dan Singapore 1999, 2001, 2003 dan 2005 dan studi banding metode tahfizh ke Thailand 2005.

Sebanyak 344 orang pendidik di PPI merupakan SDM pilihan yang unggul. Karena itu ada yang mendapat beasiswa S2 di Universitas Duisburg Essen Germany jurusan computer engineering, lebih dari 40 Guru memperoleh beasiswa S2 di IPB, ITB, UI, UIN Jakarta, UIN Bandung, IAIN Semarang dan IAIN Palembang serta beasiswa S3 di Universitas Negeri Yogyakarta.

Alumni PPI berjumlah 16.255 orang, bertebaran di berbagai tempat di dalam dan luar negeri membawa misi rahmatan lil alamin. Banyak alumni mendapat beasiswa di Mesir, Sudan, Yaman, Syiria, Malaysia, Jepang, Amerika (Arizona, USA) dan lain-lain. Beberapa Lulusan PPI mendapat beasiswa S1 kedokteran di UIN Jakarta dan diterima dalam SMPTN di Fakultas kedokteran di UNSRI. Di antaranya ada yang sudah mengabdi memimpin Puskestren PPI.

Walaupun PPI masih perlu tambahan gedung belajar dan asrama serta fasilitas-fasilitas lain, tetapi pendidikan di PPI sudah mempunyai berbagai fasilitas modern seperti ruang relajar multimedia, laboratorium bahasa, laboratorium komputer, laboratorium IPA, kelas alam, Tempat Praktek Keterampilan dan Usaha (TPKU), perpustakaan dan lain-lain. Ditunjang dengan kursus intensif Bahasa Arab, Inggris, Jepang, Prancis dan MIPA dengan hasil berstandar nasional dan internasional, juga kursus ideologi-ideologi dunia untuk mempersiapkan santri menjadi manusia mandiri dan unggul dalam persaingan global.

Wakil Presiden, 2 Menteri Agama, 2 Menkop, Menristek, Ketua DPR RI, Ketua Mahkamah Konstitusi, Anggota DPR RI dan DPD RI telah berkunjung ke Pesantren ini. Dubes luar biasa Jepang, pejabat-pejabat Amerika, Australia dan Saudi, ulama-ulama Mesir, Iran dan lain-lain telah mengunjunginya. Pesantren ini telah mendapat kepercayaan dalam dan luar negeri dan sejak 1997 sudah Go International. Hal ini dikarenakan kualitas pesantren ini serta prestasi-prestasi Nasional dan Internasional yang diraih santri-santrinya, sebagai hasil dari sistem pembelajaran aktif, kreatif, efektif, produktif, inovatif, menyenangkan, berkualitas dan bertanggung jawab yang dilaksanakan oleh SDM-SDM unggul. Oleh karena itu, pada tahun 1999 pesantren ini mendapat anugerah Pesantren Unggulan dari Departemen Agama. Dan sekarang masyarakat memberi nama Pesantren Berkualitas Internasional.

Akan tetapi kualitas dan kepercayaan itu belum diimbangi dengan ketersediaan fasilitas yang cukup dan memadai. Pesantren ini kekurangan masjid, mushalla, asrama, ruang kelas belajar dan dan fasilitas-fasilitas terkait lainnya. Karena santri-santri didominasi oleh kaum dhu’afa/ekonomi menengah ke bawah (80%), Pesantren tidak tega memungut biaya besar dari mereka. Disamping itu belum ada donatur yang secara signifikan menginfakkan rizkinya untuk pesantren ini. Akibatnya pesantren belum mampu menyiapkan fasilitas dalam jumlah yang cukup dan dalam kondisi yang layak. Untuk itulah, pesantren berniat bulat dan bertekad penuh untuk “mengundang partisipasi” umat Islam dan umat manusia sebagai solusi kurva yang dapat membalikkan keadaan, memutus mata rantai kekurangan dan menciptakan kelayakan.

Catatan: info dan pernyataan di atas dicuplik dari surat kabar Sumatera Ekspres, Sriwijaya Post, Sindo, Berita Pagi, Ogan Ilir Ekspres dan lainnya (antara 1999-2014) serta data-data PPI.