Belajar dari Kisah Marshanda

Ada sesak yang merayap batin setiap kali televisi menayangkan berita tentang artis muda nan cantik jelita “Marshanda”. Bagaimana tidak, publik dibuat terkaget-kaget dengan kejadian-kejadian yang menimpanya.

Tidak perlu disebutkan karena saya yakin tidak ada orang yang tidak mengetahui ceritanya. Dari sekian banyak kisah itu ada bepberapa hal yang menyentak perasaan. Salah satunya tentang hubungan Marshanda dengan sang ibu.

Apa yang salah ketika seorang ibu turut campur dalam kehidupan putrinya, karena memang begitulah hakikat seorang ibu.

Apa yang salah ketika seorang ibu menikmati hasil kerja anak, toh upah mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan tidak akan terbayar dengan bilangan rupiah.

Apa yang salah ketika seorang ibu melakukan segala cara untuk melindungi dan menyadarkan anaknya. Apa yang salah?

Setiap orang pasti memiliki konflik pribadi dengan orang lain termasuk dengan anggota keluarga. Tapi bagaimana menyikapinya dengan arif itu seharusnya yang diutamakan. Bukan dengan mengumbarnya secara besar-besaran di media. Mengumbar aib orang lain saja sama dengan memakan bangkai bagaimana dengan ibu kita sendiri? Orang yang bersusah payah melahirkan kita ke dunia. Apalagi sampai melaporkannya ke polisi, Naudzubillahimindzalik.

Tidak dipungkiri, saya juga pernah mengalami konflik dengan ibu. Saya pernah sedih, kecewa dengan perlakuan beliau tapi saya berusaha mendamaikan perasaan sendiri dengan satu kata saja “Sabar”. Karena saya yakin, apapun yang ibu lakukan pasti ada maksud yang baik. Mungkin saat ini kita tidak menyadari tapi tunggulah suatu saat nanti.

Saat kita menemukan titik balik yang membuat kita rindu akan terulangnya masa-masa itu. Setiap kali melihat anak-anak, saya akan teringat sosok ibu. Kesulitan yang saya alami saat ini mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan kesulitan yang ibu alami ketika mengasuh saya dulu. Mungkin dulu ibu pernah melakukan kesalahan pada saya dan kesalahan yang sama tidak akan ku ulangi pada anak-anak saya kelak.

Yang kedua tentang pernyataan Marshanda dalam materi motivasinya. Ketika menceritakan kisahnya di tahun 2009 “saya benci dianggap sempurna, selalu bahagia, saya ingin publik tahu yang sebenarnya kalau saya hanya manusia biasa yang bisa sedih, marah, bla… bla…”.

Terus terang saya sangat tidak sependapat dengan statement ini. Bagi saya biarlah publik menilai apapun pada diri kita, A, B, C atau D. Masyarakat menilai kita sempurna ucapkan “alhamdulillah”, menilai sebaliknya ucapkan “Innalillah”.
Toh kita tidak perlu terlalu merisaukan penilaian manusia tapi risaukanlah penilaian Allah terhadap diri kita.

Yang ketiga tentang kebenciannya hidup dalam kepura-puraan. OMG hello…??!!
Ingatlah hidup ini memang panggung sandiwara dan setiap kita adalah pemerannya. Kita memang sedang memainkan sandiwara sesuai dengan skenario yang Allah gariskan. Sebagai seorang anak, orang tua, suami, istri, guru, polisi, politisi atau presiden sekalipun. Kita dituntut untuk berperan sebaik-baiknya walaupun harus mengorbankan diri untuk itu. Berkorban waktu, berkorban tenaga, biaya ataupun berkorban perasaan. Lalu mengapa kita harus sabar dalam memerankan sandiwara dunia ini?

Jawabnya adalah karena setiap peran yang kita mainkan akan dipertanggungjawabkan di yaumul hisab nanti, disaat sandiwara kita telah berakhir.

Jadi menurut saya tidak benar kalau kita harus membuka aib kita dengan dalih tidak mau hidup dalam kepura-puraan. Contohnya mungkin hari ini kita berpura-pura menjadi orang alim nan dermawan, tapi sedikit-sedikit kita akan mengubahnya menjadi alim dan dermawan beneran. So nothing wrong of life in pretending.

Tapi saya berharap Marshanda sedang dalam keadaan “sakit” ketika dia melakukan itu semua. Karena orang yang sakit jiwanya tentu saja tidak menyadari apa yang telah diperbuatnya.

Wallahu’alam

http://ferryheryadi.blogspot.com/search/label/Ummi

No Responses

Tinggalkan Balasan