Hidangan Idul Fitri dan Tipologi “makanan” manusia

Oleh : H. Agus Jaya, Lc. M. Hum

Ustadz PP al-Ittifaqiah dan Dosen STITQI Inderalaya Ogan Ilir Sumatera Selatan

 

Idul Fitri adalah hari raya umat Islam setelah melaksanakan ibadah puasa satu bulan penuh. Setelah sukses melalui training puasa (as-shoum) dalam pengertian umumnya ”al-imsak” (menahan diri) maka lahirlah motivasi untuk menahan emosi, hawa nafsu dan ego. Sehingga puasa yang demikian memberikan dampak positif yang sangat luas bagi kehidupan manusia, baik sisi teologi, sosial, politik, budaya dan ekonomi. Karenanya puasa tampil sebagai rukun Islam yang mempunyai dua dimensi, yaitu keimanan dan kemanusiaan.

Berkaitan dengan hidangan idul fitri, yang biasanya serba mewah dan lezat bahkan terkesan berlebih-lebihan, maka ibadah yang baru saja kita lalui dengan grand desainnya membangun kepedulian sosial memaparkan kepada kita tentang tipologi manusia ditinjau dari sisi makanannya. Tipologi manusia tersebut bisa dibagi menjadi empat, yaitu:

Pertama, mereka yang berkata :“makankah saya hari ini” ? kategori kelompok ini adalahfakir miskin dan anak-anak terlantar. Mereka yang terkadang tidak bisa menemukan sesuap nasipun dalam hari-harinya, sehingga lontaran pertanyaan yang keluar dari mulutnya adalah “makankah saya hari ini?.

Menghadapi kelompok ini tidak seharusnya kita langsung menyalahkan mereka atau diri kita masing-masing, akan tetapi hendaklah kita telaah terlebih dahulu. Jika mereka masih memiliki peluang untuk berusaha (usia, fisik, waktu) lalu tidak menggunakan kesempatan tersebut, maka mereka yang salah dan kita pantas untuk berkata kepada mereka sebagaimana malaikat berkata kepada mereka: “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?”. Mereka menjawab : “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata : “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu ?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS: an-Nisa: 97). Bagian lain dari golongan ini adalah mereka yang tidak memiliki peluang untuk berusaha (usia, fisik, waktu), maka kesalahan kepada negara dan kita semua, karena undang-undang dasar 1945 telah mengamanatkan kepada negara bahwa ”fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Demikian juga Allah swt berfirman: ”kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah mema’afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun. (QS: an-Nisa: 98-99). Dan terhadap mereka kita hendaklah berbagi dan tidak melalaikannya, Allah swt berfirman: ”Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. (QS; ad-Duha: 10).

Kedua, mereka yang berkata :“apa yang saya makan hari ini” ?. Mereka yang termasuk dalam kelompok ini adalah orang yang hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan yang seperti inilah yang senantiasa diajarkan Rasulullah saw dengan senantiasa bersyukur atas segala nikmat Allah swt dan bersabar atas segala cobaannya. Allah swt berfirman: ”dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan”. (QS: ad-Duha: 8). Rasulullah saw kemudian menegaskan eksistensi kekayaan, Beliau bersabda: ”tinjauan kekayaan bukan karena banyaknya harta, akan tetapi tinjauan kekayaan karena jiwa yang kaya”. (HR. Bukhori-Muslim).

Ketiga, mereka yang berkata : “dimana saya makan hari ini” ? Mereka yang termasuk dalam kelompok ini adalah yang mendapatkan titipan Allah swt berupa harta kekayaan. Membelanjakan harta kekayaan mereka tersebut adalah selayaknya dan bukan sebuah nista, akan tetapi hendaknya mereka yang termasuk dalam kelompok ini menyadari bahwa di dalam harta mereka ada hak orang lain. Allah swt berfirman: ” Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”. (QS: adz-Dzariyaat: 19). Mereka yang termasuk dalam kelompok ini hendaklah bersikap penyantun dengan ikhlas terhadap anak-anak yatim, fakir-miskin dan orang-orang terlantar. Allah swt berfirman: ”Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”. (QS: al-Insan: 8-9). Sembari menjauhi sifat Qorun yang congkak dan sombong dengan harta yang diperolehnya, hingga Allah azab dengan azab yang sangat pedih. Allah swt berfirman: ”Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka”. (QS: al-Qoshosh: 78) dan ”Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)”. (QS: al-Qoshosh: 81).

Keempat, mereka yang berkata: “siapa yang aku makan hari ini” ? mereka yang termasuk dalam golongan ini cenderung menjadi ”omnivora”, pemakan segala tanpa memperhatikan unsur halal-haram dan kriteria ”thayyiba” (baik dan bergizi,) sehingga manusia, aspal, kayu, semen, batu, tanah dll, menjadi santapannya. Mereka ini adalah golongan yang tercela dan semestinya di hindari. Dengan sangat tegasnya Allah swt melarang manusia untuk masuk dalam tipologi ini. Allah swt berfirman: ”Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”. (QS: Al-Baqaroh: 188).

Melalui training puasa selama satu bulan penuh, dan pengumuman kelulusan peserta training pada idul fitri ini, kita dibina untuk bersikap bijak ketika kita berada salah satu diantara tiga kelompok diatas, yaitu apabila berada pada kelompok pertama, hendaklah berusaha seoptimal mungkin untuk mengubah nasib. Dan apabila berada pada kelompok kedua, hendaklah senantiasa bersyukur atas nikmat Allah swt dan bersabar terhadap segala bentuk cobaan-Nya. Lalu apabila kita berada pada lelompok ketiga, hendaklah bersikap dermawan dan penuh etos kepeduliaan terhadap yang lain. Kemudian jika berada pada kelompok keempat (nauzu billah), hendaklah segera bertaubat, “Taubatan Nasuuha” karena hal tersebut sangat dilarang, dikecam dan dikutuk oleh Allah swt. Wallahu A’lam. []

 

No Responses

Tinggalkan Balasan