Jepang Maju Karna Istiqomah Lestarikan Tradisi Luhur

ittifaqiah.ac.id_Jakarta: Memasuki hari kedua mengikuti The Jakarta Workshop on Promoting Cross Cultural Educational Exchanges in Asean di Hotel Pan Sari Pacific Jakarta, melalui akun pribadinya, Mudir pondok pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya (PPI) terus melaporkan hasil yang ia dapat.

Sistem pendidikan di Jepang mengutamakan kognisi dan psikomotorik seperti kerjasama dalam tim, tolong menolong, disiplin, budaya malu, kebersihan dan kesopanan. Sehingga jam sekolah banyak disita oleh kegiatan seperti gotong royong dan kerjasama membersihkan kelas, teras, toilet, halaman sekolah, kantor dan lain-lain yang dilakukan bersama guru dan menjadi kegiatan menyenangkan.

Kognisinya biasa saja, lebih dominan menghafal daripada mikir. Siswa bisa menambah sendiri kognisi di rumah atau di tempat kursus atas dasar budaya malu bila prestasi buruk, yang mengangumkan hasil sistem ini prestasi akademik siswa Jepang lebih bermutu dari Amerika (terbaik di dunia), prestasi teknologinya terunggul, prestasi kebersihan, kesopanan terhadap senior dan orang tua serta penghargaan sesama dan sayang dengan yang kecil lebih unggul dari bangsa manapun. Kognisi dan psikomotorik adalah tradisi atau budaya asli Jepang. Mereka menyakini kunci kemajuan mereka adalah kekuatan berpegang pada tradisinya.

Jepang modern dan kuat berpegang pada tradisinya, mereka belajar dari bagus-bagus yang gagal karena terserabut dari tradisinya. Adalah tradisi itu lahir dari nilai-nilai agama Shinto dan budaya. Manusia ninja adalah contoh manusia Jepang yang kuat memegang nilai-nilai agama yang paling menonjol dari Jepang: kerjasama kelompok dan gotong royong itu ditanamkan sejak TK sampai Perguruan Tinggi pendidikan Jepang menekankan nilai luhur tradisinya. Orang Amerika berkata jangan beri kesempatan orang Jepang bekerjasama pasti mereka bikin Toyota atau apa saja.

Ini adalah kritik keras buat pesantren Indonesia; kenapa kotor, kudisan, WC sedikit dan bau, gotong royong tak jalan, tidak disiplin, tidak kompak, antar pesantren tidak bersatu?, ungkap Drs. K.H. Mudrik Qori, M.A.

[foto bersama duta besar Jepang untuk Republik Indonesia H.E. Yasuaki Tanizaki]

No Responses

Tinggalkan Balasan