Marhaban Antara Harap dan Cemas

Oleh : H. Agus Jaya, Lc.M.Hum

Ustadz PP. Al Ittifaqiah dan Dosen STITQI Indralaya Ogan Ilir Sumsel

 

Detik-detik akhir bulan Sya’ban semakin mendekat, dan aroma bulan suci Ramadhan semakin tercium. Petasan-petasan, kembang api, mainan-mainan, dan es cendol mulai ramai dijajakan, media-media massa, televisi-televisi dan lembaran-lembaran koran skala nasional maupun regional semakin marak menyajikan seruan menyambut bulan suci Ramadhan, sebagai seorang insan yang dilahirkan dikeluarga muslim kita semua telah mengenal bulan Ramadhan sebagai bulan puasa, namun terkadang kita terjebak dalam rutinitas penyambutan bulan suci Ramadhan dan bentuk meterial tanpa pernah merenung apalagi memahami nilai dari Ramadhan itu sendiri.

Secara leksikal Ramadhan berarti sangat panas, Ramadho as Shoim : rongga terasa sangat panas karena haus, dan bisa juga berarti membakar, penyebutan nama Ramadhon yang merupakan bulan kesembilan dari kalender Hijriah, sesuai dengan kondisi kota Mekah yang sangat panas saat itu.

Sebagai seorang mukmin kita patut berbangga melihat fenomena kebangkitan semangat ibadah kaum muslim setiap menjelang bulan suci Ramadhan, diadakannya lomba-lomba keislaman, munculnya sinetron-sinetron, lagu-lagu bernuansa islami, penuhnya shap-shap dalam dalam mesjid merupakan indikasi real munculnya kesadaran mengaflikasikan anjuran-anjuran agama Islam. Namun dalam kebanggaan kita ini sepatutnya kita merasa sedih, pedih dan terusik karena realita yang ada seolah-olah masyarakat kita menyembah” Ramadhan dan bukan menyembah Tuhannya Ramadhan, karena jika memang kita menyembah Tuhannya Ramadhan maka semangat ibadah kita yang ada selama bulan suci Ramadhan ini tetap tumbuh subur disebelas bulan lainnya diluar bulan Ramadhan.

Ramadhan adalah sebuah kata yang terhimpun dari lima huruf, dan setiap hurufnya memiliki arti tertentu yang menggambarkan isi dari Ramadhan itu sendiri, yaitu : Ra : Rahmat (Rahmat Allah swt), Mim : maghfirah (ampunan Allah swt), Dhod : Dhommaanun li al Jannah (jaminan meraih surga), Alif : Amaanun min an Nar (jaminan untuk terhindar dari neraka), Nun : Nur Allahi al Azizi al Hakim al Ghofuuri ar Rahiim (Cahaya dari Allah swt yang Maha Kuasa dan Bijaksana, Maha Pengampun dan Pengasih).

Dengan menelaah lebih jauh makna yang terkandung dari rangkaian huruf Ramadhan diatas kita akan semakin mantap mengucapkan Marhaban yaa Ramadhan, karena kita semakin dibimbing untuk meyakini bahwa kedatangan Ramadhan membawa oleh-oleh keberkahan, kemuliaan, dan rahmat yang tak mampu dilukiskan dengan goresan pena. Seorang hamba yang menyambut Ramadhan dengan penuh keimanan akan mendapatkan rahmat dari Allah swt, beriring dengan rahmat tersebut akan tersedia maghfirah (ampunan) dari dosa-dosa yang telah diperbuat. Penggabungan dua anugerah tersebut akan menghantarkan seorang hamba mendapat jaminan masuk surga dan lebih dari itu proses masuk surga yang lancar yang tidak didahului dengan pembersihan didalam neraka. Kesemua kemuliaan ini akan segera dinikmati jika dalam mengarungi Ramadhan tersebut senantiasa berada dalam nur (bimbingan) dari Allah swt dengan menjadi al-Qur’an sebagai pedoman.

Sebagai bulan yang sangat mulia, Ramadhan memiliki demikian banyak keistimewaan, diantaranya lailatul qadr yaitu satu malam diantara malam-malam Ramadhan yang memiliki kebaikan melebihi 1000 bulan. Allah swt berfirman: “malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. al Qadr: 3). Demikian juga Rasulullah saw bersabda: “Telah tiba kepada kalian bulan yang penuh berkah, pada bulan ini kalian diwajibkan berpuasa, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syaithan-syaithan di belenggu, dalam bulan ini pula ada satu malam yang nilainya lebih mulia daripada seribu bulan, dan barang siapa tidak mampu meraih kebaikan bulan Ramadhan ini maka haramlah baginya meraih surga. (HR. Ahmad, Nasa’i dan Baihaqi).

Pada hadits lain Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan memahami batasan-batasannya, serta menjaga segala hal yang seharusnya ia jaga maka Allah menghapus dosa-dosanya terdahulu. (HR. Ahmad dan Baihaqi).

Dari ayat dan hadits diatas dapat kita pahami kaitan yang sangat erat dengan bulan Ramadhan itu sendiri, rahmat dan maghfirah bagaikan dua sisi pada uang logam yang tak terpisahkan, dikala rahmat Allah swt turun terhadap seorang hamba maka maghfirah Allah swt mengiringi pada waktu yang bersamaan, demikian juga sebaliknya, dan ketika rahmat Allah swt yang turun maka Maghfirah Allah swt ini telah mengalir secara otomatis jaminan untuk mendapat surga dan jaminan terhindar dari api neraka telah digenggam oleh seorang hamba. Namun rahmat, maghfiroh, jaminan menggapai surga dan terhindar dari neraka hanya bisa diraih ketika seorang hamba mendapat Nur (bimbingan) Ilahi. Rangkain huruf yang membentuk kata Ramadhan diatas merupakan cerita panjang yang berkaitan.

Disisi lain, seorang hamba yang bertemu dengan Ramadhan tanpa bekal iman dan keterbukaan hati untuk memohon ampun kepada Allah swt hanya akan mendapatkan kesia-siaan belaka. Rasulullah saw bersabda: “demikian banyaknya orang yang berpuasa dan tidak memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.

                 Semoga Ramadhan yang kita hadapi ini menjadi titik tolak menuju rahmat dan maghfirah Allah swt menuju surga abadi di dunia dan akhirat. Amin.

No Responses

Tinggalkan Balasan