Nilai Istiadzah Dalam Kehidupan

Oleh: H. Agus Jaya, Lc. M.Hum

Ustadz PP al IttifaqiahIndralayaOganIlirSumsel Indonesia

 

IstiadzahatauAudzubillahi minasy-syaithaaniar-rajiimadalah ungkapan tulus seorang hamba untuk memohon perlindungan dan pengawalan kepada Allah swt  dari kejahatan setan yang sangat pembangkang, dengan harapan agar terhindar dari mudhorat yang diakibatkan oleh setan baik didunia maupun diakhirat dan permohonandari upaya setan menghalangi sang hamba dari mengerjakan hal-hal yang telah diperintahkan kepadanya.

Abu Daud, Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah meriwayatkan bahwa ketika bangun tengah malam melaksanakan salat, Rasulullah saw memulai salatnya dengan takbir lalu berkata : aku berlindung kepada Allah swt dari ganggunan syaithan yang terkutuk dari tiupannya dan bisikannya

Kata “audzu” yang berarti: hamba memohon perlindungan, menitipkan pesan yang sangat penting dan segera untuk dilaksanakan. Seorang hamba tidak akan meminta perlindungan jika ia berada dalam kondisi aman, nyaman dan terkendali. Hanya orang yang berada dalam kondisi genting, terancam, bahayalah yang akan mencari perlindungan.

Dari kata ini bisa dipahami bahwa seorang hamba yang mampu meresapi, menyelami dan memahami makna istiadzah akan mengetahui, menyadari dan merasakan bahwa dirinya sedang berada dalam ancaman yang sangat mengerikan dengan segala bentuk tipu dayanya. Karena yang mengancam adalah musuh abadinya yang tidak tampak oleh panca indra.

Allah swt berfirman: Sesungguhnya ia dan kelompoknya melihatmu dari tempat yang tidak mampu engkau lihat.(QS. Al A’raf: 27)

Keberadaan setan yang tidak tampak oleh manusia saja merupakan satu hal yang mengerikan, lebih dari itu komitmen setan untuk senantiasa menggoda dan membujuk rayu manusia sepanjang masa dari seluruh arah lebih berbahaya lagi. Komitmen setan tersebut diabadikan di dalam al Qur’an.

Allah swt berfirman:Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkautidakakanmendapatikebanyakanmerekabersyukur (taat). (QS. Al A’raf: 16-17)

Pada ayat ini ada dua pelajaran yang bisa dipetik, yaitu: Pertama: Arah datangnya godaan dan bujuk rayu setan yang berasal dari berbagai arahnya bisa dipahami bahwa setan akan menggoda manusia dengan segala bentuk bujuk rayunya melalui seluruh arah yang ada kecuali arah atas dan bawah.

Dua arah ini yang tidak mampu dilalui oleh setan untuk melancarkan aksinya. Karena arah atas adalah simbol keagungan Allah swt yang Maha Luhur dan Tinggi dan arah bawah adalah simbol ketundukan dan penghambaan seorang hamba kepada khaliqnya, sehingga setiap hamba yang senantiasa tunduk dan menghamba kepada Allah swt (yang disimbolkan dengan sujud) untuk mengagungkan Allah swt (yang disimbolkan dengan takbir sebagai bentuk penyerahan diri seorang hamba kepada Allah swt yang Maha Agung) akan senantiasa terjaga dari bujuk rayu setan terlaknat.

Kedua, maksud godaan dan bujuk rayu dari arah depan, belakang, kanan dan kiri adalah sebagai berikut:

–          Kedatangan setan dari arah depan adalah datang untuk membujuk rayu manusia secara langsung. Masuk mengalir bersama aliran darahnya dan membisikkan hal-hal negatif. Jika cara ini tidak mampu mempengaruhi seorang hamba maka setan akan mengambil jalur lain.

–          Kedatangan setan dari arah belakang adalah simbol bujuk rayu setan terhadap manusia melalui kelurga terdekatnya, baik istri ataupun suami, anak-anak maupun orang tuanya. Sehingga keluarga terdekat merupakan salah satu jalan masuknya pengaruh setan kepada seorang hamba. Agar mampu menghindari aspek negatif ini maka sudah semestinya keluarga dibekali dengan iman yang kokoh sehingga keluarga menjadi nikmat dan bukan laknat.

–          Kedatangan setan dari arah kanan merupakan simbol bahwa setan tidak akan putus asa untuk membujuk rayu dan menggoda seorang hamba meskipun diri dan keluarganya telah memiliki benteng iman yang kuat. Setan akan mempengaruhi manusia melalui jalur alternatif yaitu para sahabat, baik melalui perbandingan faktor ekonomi, pendidikan dan kesejahteraan dll.

–          Kedatangan setan dari arah kiri merupakan jalan alternatif lain yang merupakan jalan tol setan untuk melancarkan bujuk rayunya dengan menggoda seorang hamba melalui mitra kerja. Sehingga sogok, suap dan iming-iming materi, pangkat, dsb merupakan senjata pamungkas setan untuk menjebak manusia hingga terperosok dalam jurang kenistaan.

Dengan menyadari hal ini, maka sudah semestinya sorang hamba merasakan ancaman setan yang demikian berbahayanya berada disekitar dirinya. WallahuA’lam.

 

No Responses

Tinggalkan Balasan