Setor Hafalan 30 Juz, Assudaisy dan Khoiri Habiskan Waktu 15 Jam

ittifaqiah.ac.id_Indralaya; Lembaga Tahfidz Tilawah dan Ilmu Al-Quran Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya (Lemtatiqi) kembali sukses mengantarkan santri-santrinya menjadi seorang hafidz yang benar-benar teruji.

Dihadapan guru-guru Pembina Al-Quran, pimpinan pondok dan para santri penghafal. Ananda Abdurrahman Assudaisy bin H.M Natsir,BA dan Khoiri Rizki bin Sakrowi berhasil menyelesaikan simaan Al-Quran 30 juz tanpa membaca (bil ghoib) dalam tempo 15 jam (26 Sya’ban 1442, 09 April 2021).

Abdurrahman Assudaisy bin H.M Natsir,BA dan Khoiri Rizki bin Sakrowi

Salah satu guru Pembina kampus putri, Ustadzah Maryati, Al-Hafidzoh menjelaskan kalau program simaan Al-Quran bertujuan untuk penguatan hafidz/zah yang telah menyelesaikan setoran hafalannya.

Berikut penjelasan dari ustadzah Maryati.

“Setelah seorang santri telah menamatkan setoran hafalan Al-Qurannya kepada salah satu guru Pembina maka dia sudah menyandang gelar Al-Hafidz, tetapi selanjutnya akan diikutsertakan dalam program simaan.”

“Program simaan atau biasa dikenal dengan istilah mujahadah terdiri dari 3 tingkatan yaitu, Mujahadah Ula (Pertama), Mujahadah Tsania (Kedua) dan Mujahadah Kubro.”

“Mujahadah Pertama adalah menyetorkan hafalan Al-Quran kepada 3 orang guru Pembina selain Pembina tempat pertama ia khatam Al-Quran. “

“Saat ini santriwati atas nama Lian Tarina sedang mengikuti mujahadah ula menyusul puluhan kakak tingkatnya di kampus A.”

“Selanjutnya Mujahadah kedua yaitu seorang hafidz berpuasa selama 40 hari dan dalam tiap harinya ia wajib mengkhatamkan 30 juz. Istilahnya 40 hari puasa dan 40 kali khatam Al-Quran.”

“Terakhir adalah Mujahadah Ketiga atau yang biasa disebut dengan Mujahadah Kubro dimana seorang hafidz disimak oleh semua guru Pembina Al-Quran dan disaksikan oleh pimpinan serta semua santri tahfidz. Ia wajib menyetorkan hafalannya (30 juz) dalam satu waktu. Biasanya santri Ittifaqiah membutuhkan waktu 12-15 jam.”

Lian Tarina bersama ustadzah Maryati Al-Hafidzah dan Orang Tuanya

“Mujahadah kubro memang terasa begitu sulit karena harus diselesaikan tanpa jeda  waktu oleh karena itulah syarat untuk menjadi Pembina Al-Quran di Ittifaqiah harus seorang hafidz yang berhasil menyelesaikan program mujahadah ini.”

“Kalau jumlah santri hafidz, Alhamdulillah Al-Ittifaqiah melalui Lemtatiqi sudah mencetak 2.000 lebih penghafal dan setiap tahun rata-rata ada 20 orang yang ikut Mujahadah Kubro”.

“Selamat kepada Ananda Abdurrahman Assudaisy, Khoiri Rizki dan Lian Tarina. Keberkahan luar biasa bagi Ananda, keluarga dan ma’had”, tambah ustadzah Maryati Al-Hafidzoh.