Shalat dan Puasa Mendidik Jiwa

Oleh: Drs. K.H. Mudrik Qori, M.A.

Shalat dan Puasa adalah dua rukun islam yang memiliki kaitan yang erat dalam mendidik jiwa dan masyarat mencapai lembaran putih tak ternodai. Rasulullah swt bersabda dalam dua hadits yang sanadnya hampir sama, namun memiliki makna yang sangat dalam dan memiliki keterkaitan yang saling menunjang. Berikut sabda: artinya”barang siapa ‘shooma’ berpuasa ramahdan disertai keimanan dan ketakwaan ‘ihtisaban’(karena Allah dan hanya mengharap pahala disisi-Nya maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. HR. Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa’i.

Dalam hadits yang lain diriwayatkan oleh Abu Hurairah beliau sabda, artinya:barang siapa ”qiyam” (melaksanakan shalat)dalam bulan ramadhan disertai keimanan dan (karena Allah swt dan hanya mengharapkan pahala dari Allah maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Al hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Shalat dan Puasa melatih dan mendidik untuk mewujudkan kedisiplinan dalam hidup lebih jauh lagi jika gerakan-gerakan dalam shalat akan tanpak jelas merupakan simbol-simbol yang sangat berharga untuk diaflikasikan dalam kehidupan.

Mari kita perhatikan kedua tangan kita ini yang menjadi symbol tafahum (saling memahami), keber saman dan sepenanggungan, ketika kita takbir maka keduanya aktif bersama dan tak perna menimbulkan keirian, pernahkah saat kita takbir hanya mengangkat sebelah tangan ? demikian juga kedua tangan kita ini telah memahami tugas masing-masing hingga tak pernah terjadi rebutan kursi antara keduanya dalam hal meletakkan tangan setelah selesai takbir. Kebersamaan kedua tangan kita ini baru memiliki makna yang sempurna jika bisa di aplikasikan oleh seluruh lapisan masyarakat yang di simbolkan dengan adanya lima jari jemari kita. Kelima jemari kita yang selalu menjalin komunikasi yang harmonis ini adalah gambaran dari tatanan masyarakat yang harus senantiasa dalam komunikasi yang harmonis dan mengedepankan azas kebersamaan.

Imam ghozali pernah berkata : bahwa jari jempol adalah symbol dari kaum bapak, maka keberhasilan atau kegagalan seorang anak senantiasa melibatkan nama orangtuanya. Jari telunjuk adalah symbol dari pemimpin, adalah sebuah hal yang wajar jika pemimpin menggunakan telunjuknya untuk memerintah, selama ia juga ikut serta berpartisipasi demi kepentingan bersama. Jari tangan adalah symbol dari ulama, seorang ulama hendaklah kokoh tegak lurus di tengah tanpa kecendrungan ke kanan dan ke kiri dengan tugas yang jelas membimbing umat. Jari manis adalah symbol dari pemuda pemudi, kehidupan pemuda di suatu masyarakat merupakan gambaran dari keberadaan negeri tersebut secara umum. Dan jari kelingking adalah symbol dari kaum ibu. Jari kelingking adalah jari terkecil di antara semua jemari kita ini, namun memiliki peranan yang sangat penting.

Keikutsertaan lima jemari kita ini saat memegang sesuatu akan menjadi pegangan tersebut kokoh, dan satu saja diantara jari kita yang absen akan mempengaruhi kinerja yang lainnya. Dan untuk melatih etos kebersamaan tersebut dilatihlah dalam puasa yang merupakan pelatihan etos kepedulian dan ke disiplinan. Dalam puasa kita dilatih untuk disiplin tanpa perintah dan pengawasan, justru kita sendiri yang menjadi pengawas dari diri kita. Ketika waktu imsa’ tiba secara otomatis kita akan segera berhenti dari segala yang membatalkan puasa walau tanpa komando. Demikian juga rasa lapar yang kita rasakan di siang hari ramadhan melatih kepekaan perasaan kita untuk merasakan rasa pedih karna lapar di sepanjang waktu dan bukan hanya di siang hari ramadhan yang di derita oleh kaum fakir miskin.

Jadi melalui nilai sholat setiap elemon masyarakat di tuntut untuk bisa berperan aktif bersama mewujudkan masyarakat yang ideal. Dan untuk mewujudkan masyarakat ideal, puasa telah memberikan dua modal utama yaitu kedisiplinan dan kepedulian. Dengan teraplikasinya nilai tersebut maka akan terwujudlah sebuah “ negeri yang baik dan mendapatkan ampunan dari Tuhan” wallahua’lam.

%d blogger menyukai ini: