
Indralaya, 31 Juli 2025 — Institut Agama Islam Al-Qur’an Al-Ittifaqiah (IAIQI) Indralaya kembali menegaskan posisinya sebagai pionir dalam transformasi digital pendidikan Islam. Melalui Pusat Kajian dan Laboratorium Al-Qur’an, IAIQI resmi meluncurkan Perpustakaan Al-Qur’an Digital Al-Ittifaqiah, sebuah platform inovatif yang menghadirkan ribuan literatur Qur’ani dalam satu genggaman.
Peluncuran ini berlangsung di Kampus A IAIQI, Jalan Lintas Timur Km 36, Indralaya Mulya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Diresmikan pada Kamis (31/7), perpustakaan digital ini menyimpan koleksi awal sebanyak 2.425 judul buku, seluruhnya berfokus pada kajian mendalam seputar Al-Qur’an dan 40.000 literasi Kitab Kuning.
Dalam sambutannya, Drs. KH. Mudrik Qori, M.A., selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Islam Al-Ittifaqiah sekaligus Mudir Pondok Pesantren, menyampaikan bahwa inisiatif ini adalah tonggak penting dalam mewujudkan visi besar lembaga.

“Ini adalah langkah strategis menuju cita-cita besar kita, menjadikan Al-Ittifaqiah sebagai kiblat studi Al-Qur’an dunia. Semoga ke depan ini benar-benar terwujud,” ujar Kyai Mudrik di hadapan para peserta.
Acara peluncuran dihadiri oleh jajaran pengurus yayasan, pimpinan IAIQI, para dekan, dosen, serta seluruh civitas akademika. Antusiasme mereka menunjukkan dukungan penuh terhadap integrasi teknologi dalam dakwah dan pendidikan Islam.
Sementara itu, Wakil Rektor III IAIQI, Dr. Zaimuddin, menyebutkan bahwa peluncuran perpustakaan digital hanyalah permulaan dari sejumlah program strategis yang tengah digarap oleh lembaganya.

“Salah satu program unggulan kami selanjutnya adalah penerbitan mushaf Al-Qur’an terjemahan dalam dua bahasa: Bahasa Indonesia dan Bahasa Palembang. Ke depan, kami ingin menjangkau lebih banyak bahasa daerah di Sumatera Selatan,” jelasnya.
Lebih dari sekadar digitalisasi buku, perpustakaan ini dirancang untuk memperluas akses literatur keislaman secara inklusif, kontekstual, dan berkelanjutan. IAIQI berharap, kehadiran platform ini dapat menjadi alat dakwah yang adaptif dengan perkembangan zaman.
Peluncuran ini sekaligus menjadi bukti bahwa pesantren dan lembaga Islam bukan sekadar mengikuti arus digitalisasi, melainkan turut menjadi pelopornya. Dengan semangat “berbasis wahyu, berorientasi masa depan,” Al-Ittifaqiah menunjukkan bahwa literasi Qur’ani bisa maju tanpa meninggalkan akar tradisi.
