
Malang – Mudir ‘Am Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah (PPI) Indralaya, KH. Mudrik Qori, resmi meraih gelar Doktor pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (28/7/2026). Melalui disertasinya, ia berhasil merumuskan Model Pembelajaran Nagham Al-Qur’an berbasis Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya yang berpotensi menjadi rujukan dalam pembinaan qari di Indonesia.
Dalam Ujian Promosi Doktor yang dipimpin Assoc. Prof. Dr. Diah Karmiyati, M.Si. selaku Ketua Sidang sekaligus Co-Promotor, KH. Mudrik Qori mempertahankan disertasi berjudul “Model Pembelajaran Nagham Al-Qur’an Syekh Musthafa Ismail di Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan.” Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Ishomuddin, M.Si., Prof. Dr. Abdul Haris, M.A., dan Prof. Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag., dengan Prof. Dr. Tobroni, M.Si. sebagai Promotor serta Assoc. Prof. Dr. M. Nurhakim, M.Ag., Ph.D. sebagai Co-Promotor.

Disertasi tersebut mengangkat praktik pembelajaran nagham yang telah lama tumbuh dan berkembang di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya. Tradisi talaqqi yang selama ini menjadi ciri khas pendidikan Al-Qur’an di pesantren berhasil dirumuskan menjadi sebuah model pembelajaran yang sistematis, terukur, dan memiliki landasan akademik tanpa meninggalkan nilai-nilai sanad dan adab dalam pembelajaran Al-Qur’an.
Selama ini Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya dikenal sebagai pesantren yang konsisten membina santri di bidang tilawah Al-Qur’an. Melalui pembinaan yang berkesinambungan, budaya akademik pesantren, dan bimbingan para guru yang memiliki sanad keilmuan, Al-Ittifaqiah telah melahirkan banyak qari dan qariah yang berprestasi pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di tingkat daerah, nasional, bahkan internasional.

“Model pembelajaran ini merupakan kristalisasi pengalaman pendidikan yang telah lama hidup di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya. Tradisi tersebut kemudian kami rumuskan secara ilmiah agar dapat dipelajari, dikembangkan, dan menjadi rujukan bagi pembinaan nagham Al-Qur’an di Indonesia,” ujar KH. Mudrik Qori.
Model pembelajaran tersebut disusun secara bertahap melalui jenjang nagham ‘aam, nagham khas, hingga nagham khas al-khas. Setiap jenjang dirancang untuk membangun kompetensi santri secara bertahap, mulai dari penguasaan maqamat, teknik perpindahan lagu, improvisasi, penghayatan makna ayat, hingga kesiapan tampil dalam forum MTQ nasional maupun internasional.
Fondasi model ini dibangun melalui kajian mendalam terhadap gaya tilawah maestro qira’at Mesir, Syekh Musthafa Ismail. Berdasarkan penelitian terhadap rekaman autentik dan jalur sanad keilmuan yang diterimanya, KH. Mudrik Qori berhasil memetakan variasi-variasi eksklusif, seperti ma’zul, tahwil, dan takhlith, kemudian mengintegrasikannya ke dalam tahapan pembelajaran yang sistematis.
Menurutnya, pembelajaran nagham tidak cukup dipahami sebagai seni vokal semata, tetapi harus menjadi proses pendidikan yang membentuk kompetensi tilawah, pemahaman makna Al-Qur’an, adab, dan kedalaman spiritual seorang qari.
“Target akhirnya bukan sekadar menghasilkan qari yang memiliki suara indah, tetapi qari yang memahami karakter setiap maqam, mampu menghubungkan nagham dengan makna ayat, serta memiliki adab dan spiritualitas dalam membaca Al-Qur’an,” jelasnya.
Lahirnya model pembelajaran tersebut semakin memperkuat posisi Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya sebagai salah satu pusat pengembangan ilmu tilawah Al-Qur’an di Indonesia. Model yang lahir dari tradisi pendidikan pesantren ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pesantren, LPTQ, rumah tahfiz, perguruan tinggi, dan berbagai lembaga pembinaan qari dalam membangun sistem kaderisasi yang lebih terarah dan berkelanjutan.
“Harapan kami, Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara yang melahirkan qari-qari terbaik, tetapi juga menjadi pusat pengembangan metodologi pembelajaran nagham Al-Qur’an yang lahir dari tradisi pesantren dan dapat menjadi rujukan dunia,” tutup KH. Mudrik Qori.
Turut menghadiri Ujian Promosi Doktor tersebut Dr. Bahrum Amir selaku Wakil Rektor I Universitas Al-Qur’an Al-Ittifaqiah (UQI) Indralaya, Dr. Firdaus Basuni, M.Pd. selaku Direktur Pascasarjana UQI Indralaya, Prof. Dr. Drs. Yusdani, M.Ag. selaku Ketua Program Studi Magister Hukum Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, H. Azam Mujahid Izzulhaq selaku CEO PT Barka Impress Global, serta keluarga KH. Najib Subki dari Yayasan Perguruan Islam Raudhatul Ulum Sakatiga.
