Resepsi Pernikahan Qori & Zizi: Perhelatan Sarat Makna Kultural Tradisi Palembang

Pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan juga momen sakral yang mempertemukan dua keluarga besar, lintas generasi, dan bahkan lintas daerah. Hal ini terasa begitu kental dalam perhelatan pernikahan Qori dan Zizi, yang digelar di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah, Tanjung Lubuk, Indralaya Selatan, Ogan Ilir. Acara yang berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026 ini bukan sekadar pesta biasa, melainkan sebuah perhelatan yang memancarkan aura keagungan dan kemegahan, bak “pernikahan di keraton,” seperti yang berkomentar spontan istri dari seorang sahabat keluarga.

Kemegahan di Balik Buku Susunan Panitia

Apa yang membuat pernikahan ini terasa begitu istimewa? Jawabannya mungkin terangkum dalam buku susunan panitia setebal dua belas halaman yang mengiringi acara tersebut. Di dalamnya terderet rapi nama-nama yang bukan sembarang orang. Mereka adalah para guru besar, doktor, kiai, pejabat pemerintah, akademisi, pengusaha, aktivis, hingga tokoh masyarakat dari berbagai penjuru daerah, dari Indralaya, Palembang, Sumatera Utara, hingga Jakarta. Susunan organisasi kepanitiaan yang terdiri dari pelindung, penanggung jawab, penasihat, pengarah, hingga pelaksana itu menggambarkan sebuah tata kelola yang matang, seperti “republik mini” yang digerakkan oleh modal sosial dan rasa percaya yang kuat.

Ketua panitia pernikahan adalah Qori yang merupakan putra dari Dr. K.H. Mudrik Qori, M.A., figur yang dikenal publik sebagai “ulama terbang” karena kiprahnya yang terus bergerak menautkan silaturahmi dari pesantren ke pesantren, kampus ke kampus, hingga lintas daerah. Sosok Mudrik Qori, alumni IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kini UIN Jakarta) angkatan 1991, menjadi pusat jejaring yang berhasil menggerakkan orang-orang dari berbagai penjuru untuk datang dan mendoakan putranya. Daya tarik perhelatan ini tak hanya berasal dari kemegahan acara, tetapi juga dari deretan tamu yang rela menempuh perjalanan ratusan kilometer dengan bus dan kendaraan pribadi berpelat nomor luar daerah, semata-mata untuk menyalami tuan rumah dan merawat persahabatan .

Kekayaan Budaya Palembang dalam Setiap Prosesi

Di balik kemegahan dan kebesaran nama yang hadir, pernikahan Qori dan Zizi juga menjadi cermin pelestarian tradisi Palembang yang sarat makna kultural. Seperti yang tertuang dalam acara The Wedding of Qori and Zizi, prosesi pernikahan adat Palembang dikenal panjang dan penuh simbolisme, mencerminkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat Palembang, khususnya yang memegang teguh adat, meyakini bahwa pernikahan bukanlah urusan dua insan semata, melainkan penyatuan dua keluarga besar yang diikat oleh nilai timbang rasa—kemampuan saling mengerti, kapan mesti bersuara dan kapan memilih teduh.

Berikut adalah rangkaian prosesi adat yang umumnya dilalui dan menjadi fondasi kultural pernikahan adat Palembang:

1. Tahap Pendekatan dan Keseriusan (Madik dan Menyengguk)

Perjalanan menuju pernikahan adat Palembang dimulai dengan Madik, yaitu proses penyelidikan atau pendekatan awal. Utusan dari keluarga calon mempelai pria akan berkunjung untuk mengetahui kondisi, asal-usul, silsilah, dan kepribadian calon mempelai wanita . Setelah itu, tahap Menyengguk dilakukan sebagai bentuk “pemasangan pagar”. Ini adalah tanda keseriusan pihak pria agar sang gadis tidak diganggu oleh laki-laki lain, yang ditandai dengan pengiriman hantaran berupa tenong (anyaman bambu berisi bahan makanan).

2. Musyawarah dan Penentuan Keputusan (Berasan dan Mutuske Kato)

Inti dari pernikahan adat terletak pada musyawarah. Tahap Berasan adalah momen di mana kedua belah pihak keluarga duduk bersama membicarakan persyaratan pernikahan, baik secara adat maupun agama, termasuk penentuan mahar atau mas kawin . Selanjutnya, Mutuske Kato (memutus kata) adalah tahap pengambilan keputusan akhir. Pada pertemuan ini, ditentukan berbagai hal krusial, mulai dari tanggal nganterke belanjo, hari pernikahan, hingga rangkaian acara pasca-pernikahan seperti ngalie turon dan mandi simburan.

3. Pengantaran Belanja (Nganterke Belanjo)

Mirip dengan tradisi seserahan atau kirim dodol pada adat Jawa, Nganterke Belanjo adalah prosesi pengiriman uang belanja dan perlengkapan pesta dari pihak mempelai pria kepada mempelai wanita. Uang belanja ini biasanya dimasukkan ke dalam ponjen (wadah) berwarna kuning, dilengkapi dengan belasan nampan berisi aneka keperluan seperti tepung terigu, gula, dan kue-kue khas .

4. Puncak Perhelatan: Munggah

Puncak dari seluruh rangkaian prosesi adalah acara Munggah. Secara harfiah, Munggah berarti “naik,” yang dimaknai sebagai naiknya status seseorang dari lajang menjadi pasangan suami istri yang sah dan mulia. Prosesi ini adalah resepsi pernikahan yang megah dan khidmat. Kehadiran rombongan mempelai pria diiringi tabuhan rebana, adu pantun, dan atraksi silat.

Sesampainya di lokasi, berbagai ritual simbolis dilalui:
– Melangkahi Pedupa: Pengantin pria melangkahi dupa menyala sebagai simbol pembersihan diri secara spiritual dan penolak bala .
– Buka Langse (Tirai). Pengantin pria membuka tirai penutup wajah pengantin wanita, melambangkan awal kehidupan bersama sebagai suami istri.
– *Suap-suapan dan Cacap-cacapan*: Kedua mempelai saling menyuapi nasi kunyit dan ayam panggang, serta orang tua mengusap air bunga di ubun-ubun mempelai. Ini adalah lambang kasih sayang, restu, dan doa tulus dari orang tua .
– *Timbang-timbangan*: Simbolis bahwa kedua mempelai akan diperlakukan sama oleh kedua keluarga besar tanpa pilih kasih .

Di atas pelaminan, kedua mempelai mengenakan busana adat kebesaran Palembang yang memukau. Ada dua jenis utama busana pengantin Palembang, yaitu *Aesan Gede* yang merupakan simbol paling megah bergaya kesultanan, dan *Aesan Pak Sangko* yang lebih sederhana namun tetap elegan . Perpaduan kain songket berkilau, aksesori emas, dan mahkota (kesuhun) menjadikan pengantin adat Palembang berpenampilan layaknya raja dan ratu. Setiap aksesori, dari terate (penutup dada) hingga pending (ikat pinggang), memiliki filosofi mendalam tentang kesucian, keberanian, dan kesiapan menjalani kehidupan baru .

Puncak Kebahagiaan: Mandi Simburan

Rangkaian adat Palembang tidak berhenti di resepsi. Puncak kebahagiaan dan penutup dari seluruh prosesi adalah ritual Mandi Simburan. Tradisi sakral ini biasanya dilakukan beberapa hari setelah acara munggah, sebagai simbol syukur, pembersihan diri, dan pembagian suka cita . Kedua mempelai akan dimandikan dengan air bunga tujuh rupa, dan para tamu pun turut disiram sebagai wujud kebahagiaan bersama . Ritual ini mengajarkan bahwa kebahagiaan harus dibagikan, dan semua orang boleh ikut merasakannya.

Penutup: Silaturahmi dan Komitmen

Perhelatan pernikahan Qori dan Zizi di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah bukan hanya tentang kemegahan. Ini adalah cerminan bagaimana tradisi, budaya, dan nilai-nilai luhur tetap dijaga dan dirawat di tengah arus modernisasi. Kehadiran para tamu dari berbagai penjuru, mulai dari para kiai hingga sahabat dekat, menunjukkan bahwa pernikahan adalah ruang untuk memperkuat tali silaturahmi . Seusai pesta usai dan kemeriahan mereda, yang tersisa adalah komitmen suci Qori dan Zizi untuk membangun bahtera rumah tangga, memelihara janji, dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang telah diajarkan oleh adat dan agama. (odie).

Palembang, 30 Agustus 2026.