DARI NAGHAM KE ALGORITMA PERADABAN: DISERTASI KH. MUDRIK QORI DAN IKHTIAR MENGAKRABKAN SENI BACA AL-QUR’AN

Oleh: MS.Tjik.NG

*Bismillahirrahmanirrahim*
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan seorang ulama pesantren ketika memasuki dunia akademik.

Ia tidak meninggalkan tradisi pesantrennya. Sebaliknya, ia membawa tradisi tersebut ke ruang penelitian, mengkaji nya secara ilmiah, lalu berusaha mengembalikannya kepada umat dalam bentuk yang lebih sistematis dan mudah dikembangkan.

Itulah yang menarik dari disertasi Dr. KH. Mudrik Qori, M.A., Mudir ‘Am Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Disertasinya di Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berjudul “Model Pembelajaran Nagham Al-Qur’an Syekh Musthafa Ismail di Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan.” Disertasi tersebut secara resmi tercatat dalam repository UMM sebagai doctoral thesis tahun 2026.
Repository UMM

Pada 28 Juli 2026, KH. Mudrik Qori mempertahankan disertasinya dalam ujian promosi doktor. Yang menarik, penelitian akademik itu tidak berhenti pada teori.

Dalam proses pembelaan disertasi, KH. Mudrik bahkan memperagakan langsung nagham Al-Qur’an di hadapan para penguji.
Sumeks

Di sinilah kita menemukan sebuah pesan penting:

Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga harus dipelajari, dihayati, diwariskan dan dikembangkan cara pengajarannya.
Dan nagham merupakan salah satu bagian penting dalam tradisi tilawah Al-Qur’an.

00

MTQ Ramai, Tetapi Ilmu Nagham Belum Akrab

Indonesia adalah negeri dengan tradisi Musabaqah Tilawatil Qur’an yang sangat kuat.

Hampir setiap tahun masyarakat menyaksikan MTQ dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi hingga nasional. Para qari dan qariah tampil dengan suara merdu, teknik vokal yang tinggi, penguasaan maqamat dan berbagai variasi lagu Al-Qur’an.

Namun ada pertanyaan sederhana yang layak kita ajukan:
Seberapa banyak masyarakat Muslim Indonesia yang benar-benar memahami apa yang sedang mereka dengarkan?

Ketika seorang qari membaca dengan Bayyati, Hijaz, Rast, Sika atau maqam lainnya, berapa banyak penonton yang memahami struktur lagunya?

Ketika qari melakukan perpindahan maqam, improvisasi atau variasi melodi, berapa banyak masyarakat yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi?

Bahkan istilah nagham, maqam, tausyih, tahwil, ma’zul dan takhlith masih terdengar asing bagi sebagian besar umat.
Padahal, di balik suara merdu seorang qari terdapat ilmu yang cukup kompleks.

IIQ Press, misalnya, menjelaskan bahwa nagham Al-Qur’an berkaitan dengan seni membaca Al-Qur’an menggunakan irama yang indah dan mengenal sejumlah maqamat seperti Bayyati, Hijaz, Rast dan Sika.
IIQ Press

Artinya, persoalannya bukan karena nagham tidak ada.
Nagham hidup.
Yang menjadi persoalan adalah bagaimana ilmu tersebut dapat dibuat semakin akrab, sistematis, terukur dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di sinilah penelitian KH. Mudrik Qori menjadi penting.
Nagham Bukan Sekadar “Lagu”
Ada kecenderungan sebagian masyarakat memahami nagham hanya sebagai “lagu membaca Al-Qur’an”.

Pemahaman tersebut tidak sepenuhnya salah sebagai pengenalan awal, tetapi terlalu sederhana jika dijadikan kesimpulan.
Nagham memiliki dimensi yang jauh lebih luas.

Ia berhubungan dengan musikalitas, teknik vokal, maqamat, improvisasi, penghayatan terhadap ayat, ekspresi, estetika dan suasana spiritual.
Penelitian tentang seni baca Al-Qur’an bahkan telah mengkajinya melalui pendekatan musikologi, termasuk aspek vokalisasi dan ornamentasi melodi dalam tilawah.
ETD UGM

Karena itu, seorang qari tidak sekadar “menyanyikan” Al-Qur’an.

Ia harus tetap tunduk kepada tajwid, makharijul huruf, sifat huruf, waqaf-ibtida’, ketepatan bacaan dan kehormatan terhadap kalam Allah. Nagham berada di dalam koridor tilawah.
Keindahan suara tidak boleh mengorbankan ketepatan lafaz.

Melodi tidak boleh mengalahkan makna.
Dan kompetisi tidak boleh menggeser tujuan utama membaca Al-Qur’an: beribadah, mentadabburi dan menghadirkan kalam Allah dalam kehidupan.

Karena itu, semakin tinggi ilmu nagham seseorang, seharusnya semakin tinggi pula kedisiplinannya terhadap Al-Qur’an.
Mengapa Syekh Musthafa Ismail?

Penelitian KH. Mudrik secara khusus mengambil gaya nagham Syekh Musthafa Ismail, salah seorang maestro tilawah Al-Qur’an dari Mesir.
Syekh Musthafa Ismail memiliki pengaruh besar dalam dunia tilawah.

Penelitian Universiti Malaya mengenai tokoh tersebut mencatatvkontribusi nya dalam seni tilawah bertarannum serta kekhasan uslub al-qira’ah-nya. Rekaman-rekaman bacaannya juga terus diwariskan dan dipelajari setelah wafatnya.
Mjes

Mengapa ini penting?
Karena dalam tradisi tilawah, seseorang tidak cukup hanya mengetahui nama maqam. Ia harus memahamibagaimana maqam itu bergerak.

Bagaimana seorang qari memulai.
Bagaimana ia menaikkan nada.
Bagaimana ia melakukan transisi.
Bagaimana ia kembali kepada nada dasar.
Bagaimana ia menyesuaikan irama dengan struktur ayat.
Dan bagaimana ekspresi musikal tetap tunduk kepada makna ayat.

Di sinilah gaya Syekh Musthafa Ismail menjadi bahan kajian yang sangat kaya.
Dari Talaqqi Menuju Model Pembelajaran
Salah satu kekuatan penelitian KH. Mudrik adalah tidak mempertentangkan tradisi pesantren dengan ilmu pendidikan modern.

Justru keduanya dipertemukan.
Dalam tradisi pesantren, ilmu nagham diwariskan melalui talaqqi, musyafahah, sima’i, latihan, peniruan dan pembimbingan langsung dari guru kepada murid.
Santri mendengar.
Santri menirukan.
Guru mengoreksi.
Santri mengulang.
Terus-menerus sampai terbentuk kemampuan.

Tradisi seperti ini sangat penting karena nagham tidak cukup dipelajari hanya melalui buku.
Ada unsur pendengaran.
Ada rasa.
Ada kepekaan nada.
Ada pengalaman.
Ada dzauq.

Ada hubungan langsung antara guru dan murid.Namun KH. Mudrik melihat bahwa tradisi tersebut dapat diperkuat dengan kerangka akademik.

Repository resmi UMM menjelaskan bahwa penelitian ini merumuskan model pembelajaran yang integratif, progresif dan adaptif, dengan menggabungkan praktik pedagogi pesantren dan teori pembelajaran modern.
Repository UMM

Inilah yang menurut saya menjadi salah satu kekuatan utama disertasi tersebut.
Tradisi tidak dibuang. Tradisi diberi kerangka ilmiah.

Nagham ‘Aam, Khash dan Khas al-Khas
Disertasi ini juga merumuskan pembelajaran nagham secara bertingkat.

Pertama, Nagham ‘Aam.

Pada tingkat ini santri diperkenalkan kepada dasar-dasar nagham dan maqamat umum.
Ini penting karena seseorang tidak mungkin langsung menjadi qari tingkat tinggi tanpa memahami fondasi.

Kedua, Nagham Khash.

Pada tingkat ini kemampuan santri semakin spesifik dan mendalam.
Mereka mulai memahami variasi dan karakter musikal yang lebih kompleks.

Ketiga, Nagham Khas al-Khas.

Inilah tingkat lanjut yang menuntut kemampuan improvisasi serta penguasaan variasi yang lebih tinggi.

Menurut hasil penelitian KH. Mudrik Qori pada tingkat ini ditemukan tiga variasi eksklusif yang dirumuskan dalam penelitian, yaitu Ma’zul, Tahwil dan Takhlith. UMM menyebut ketiganya sebagai salah satu kebaruan utama penelitian tersebut.
Repository UMM +1

Ini bukan sekadar penambahan istilah.
Di sinilah penelitian mulai memasuki wilayah yang selama ini lebih banyak hidup dalam tradisi lisan dan praktik para qari.
Apa yang selama ini diketahui oleh praktisi secara turun-temurun mulai dicoba untuk dipetakan, dianalisis dan dikonstruksi secara akademik.

00

Dari “Rasa” Menuju Ilmu

Di sinilah saya menggunakan istilah “algoritma peradaban”.

Tentu istilah tersebut bukan judul resmi disertasi KH. Mudrik.
Ini adalah cara kita membaca secara lebih luas kontribusi pemikiran dari penelitian tersebut.

Apa itu algoritma?
Secara sederhana, algoritma adalah urutan atau pola langkah yang dapat digunakan untuk mencapai suatu hasil.
Dalam konteks nagham, kita dapat melihat sesuatu yang mirip.

Seorang guru mengetahui:
mulai dari mana → bergerak ke mana → kapan naik → kapan turun → kapan melakukan variasi → bagaimana kembali → bagaimana menyesuaikan dengan ayat → bagaimana membangun klimaks → bagaimana mengakhiri.

Selama ini banyak hal tersebut tersimpan dalam pengalaman dan dzauq seorang guru. KH. Mudrik mencoba membuat nya lebih sistematis.

Maka dari sini muncul gagasan yang lebih besar: Bagaimana ilmu yang hidup dalam tradisi dapat ditransformasikan menjadi sistem pengetahuan yang dapat diwariskan secara lebih luas tanpa kehilangan ruhnya? Itulah yang saya sebut sebagai algoritma peradaban.
Bukan algoritma komputer.Tetapi algoritmapengetahuan

00

Dari Al-Ittifaqiah untuk Indonesia

Yang membuat penelitian ini semakin menarik adalah lokasinya.

Penelitian dilakukan di Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, tempat KH. Mudrik sendiri menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan Al-Qur’an.

Dengan demikian, penelitian ini tidak berdiri sebagai teori yang jauh dari praktik.
Ia lahir dari pengalaman pendidikan yang nyata.

Lebih jauh lagi, hasil penelitian menyebut bahwa pembelajaran nagham di Al-Ittifaqiah memanfaatkan metode talaqqi, musyafahah, sima’i, drill, modeling dan media digital.

Bahkan pembelajaran dan penyebaran materi nagham juga dikembangkan melalui media seperti radio dakwah dan kanal digital Al-Ittifaqiah.
Pascasarjana UMM

Ini sangat penting.
Karena generasi muda hari ini hidup dalam ekosistem digital.
Kalau ilmu nagham hanya diajarkan di ruang tertentu, jumlah orang yang dapat mengaksesnya terbatas.

Tetapi kalau pengetahuan tersebut didokumentasikan, diajarkan melalui media digital, disusun dalam kurikulum dan dibuat mudah dipelajari, maka jangkauannya menjadi jauh lebih luas.

00

Mimpi Besar: Nagham Menjadi Ilmu yang Akrab

Kita patut berharap agar setelah penelitian KH. Mudrik Qori, pembelajaran nagham tidak berhenti di Al-Ittifaqiah.

Mengapa tidak?
Model tersebut dapat dikembangkan di pesantren lain.
Di PTIQ.
Di IIQ.
Di lembaga tahfiz.
Di rumah-rumah tahfiz.
Di madrasah.
Di sekolah Islam.
Di perguruan tinggi.
Di lembaga pembinaan qari dan qariah.

Bahkan di komunitas masyarakat.
Bayangkan suatu saat seorang anak Muslim tidak hanya mengenal nama Bayyati, Hijaz, Rast dan Sika, tetapi juga memahami karakter masing- masing.

Ia tahu bagaimana mendengarkan.
Ia tahu bagaimana menirukan.Ia tahu bagaimana menjaga tajwid. Ia tahu bagaimana menghubungkan melodi dengan makna ayat.

Ia tahu kapan harus melakukan variasi dan kapan harus sederhana.
Dan yang paling penting, ia memahami bahwa semua itu bukan untuk mempertontonkan suara.

Semua itu untuk memuliakan Al-Qur’an.
MTQ Harus Naik Kelas
MTQ tentu tetap penting.Kompetisi dapat menjadi salah satu cara menemukan bakat.

Tetapi jangan sampai MTQ hanya menghasilkan juara.
Kita membutuhkan ekosistem ilmu Al-Qur’an.Seorang juara MTQ harus bisa menjadi guru.

Seorang qari harus bisa menjadi mentor.
Seorang dewan hakim harus mampu menjadi sumber pengetahuan.
Seorang pesantren harus menjadi pusat kaderisasi. Dan ilmu nagham harus memiliki dokumentasi serta literatur yang terus berkembang.

Dengan demikian, MTQ tidak berhenti pada panggung kompetisi.MTQ menjadi bagian dari gerakan pendidikan Al-Qur’an nasional.

Disertasi KH. Mudrik memberi salah satu contoh bagaimana hal tersebut dapat dilakukan. Nagham dan Makna Ayat.Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Keindahan nagham jangan sampai membuat kita lupa kepada makna Al-Qur’an.

Penelitian tentang hubungan nagham dan makna Al-Qur’an pada konteks MTQ juga menunjukkan pentingnya persoalan ini: qari tidak cukup menguasai lagu, tetapi perlu memahami kandungan ayat yang dibacanya.
IIQ Jakarta Repository

Maka masa depan ilmu nagham seharusnya bergerak ke arah integrasi:
tajwid + nagham + makna + vokal + spiritualitas.

Inilah yang membuat seni baca Al-Qur’an berbeda dari seni suara biasa.Yang dibaca bukan puisi. Bukan lagu.

Bukan karya manusia.
Yang dilantunkan adalah wahyu Allah.
Karena itu, semakin indah bacaannya, semakin besar pula tanggung jawab moral dan spiritual pembacanya.

00

Apresiasi untuk KH. Mudrik Qori

Kita patut memberikan apresiasi kepadaKH.Mudrik Qori bukan semata-mata karena beliau berhasil meraih gelar doktor.
Gelar akademik adalah pencapaian personal.

Yang jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah gelar itu diperoleh.Disertasinya membuka ruang yang lebih luas bagi ilmu nagham Al-Qur’an.

Ia menunjukkan bahwa tradisi pesantren dapat menjadi objek penelitian ilmiah.
Ia memperlihatkan bahwa pengalaman seorang guru dapat dikonstruksi menjadi model pembelajaran.

Dan ia memberi pesan bahwa ilmu Al-Qur’an harus terus dikembangkan dengan tetap menghormati sanad, tradisi dan adab.Bagi seorang Mudir ‘Am pesantren, ini memiliki makna tersendiri.

Sebab pimpinan pesantren bukan hanya menjaga apa yang telah diwariskan.
Ia juga mempunyai tanggung jawab mempersiapkan apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

00

Dari Nagham Menuju Algoritma Peradaban

Pada akhirnya, nagham mungkin terlihat sebagai persoalan suara.
Tetapi kalau kita melihat lebih dalam, ia berbicara tentang peradaban ilmu.

Bagaimana pengetahuan diwariskan?
Bagaimana tradisi dijaga? Bagaimana pengalaman seorang guru didokumentasikan?
Bagaimana ilmu dikembangkan?
Bagaimana generasi muda belajar?
Bagaimana teknologi digunakan?Bagaimana nilai spiritual tetap menjadi pusat?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat penelitian KH. Mudrik Qori menjadi lebih luas daripada sekadar penelitian tentang seni baca Al-Qur’an.
Ia memberi contoh sebuah pola:
tradisi → penelitian → sistematisasi → pendidikan → digitalisasi → kaderisasi → peradaban.
Inilah yang saya maksud dengan algoritma peradaban.

Sebuah bangsa dan umat akan kuat apabila mampu mengubah pengalaman menjadi ilmu, ilmu menjadi sistem, sistem menjadi pendidikan, pendidikan menjadi kader, dan kader menjadi karya.
Mudah-mudahan disertasi KH. Mudrik Qori menjadi salah satu pintu menuju proses tersebut.

Dan mudah-mudahan dari Al-Ittifaqiah akan lahir bukan hanya qari-qari juara MTQ, tetapi generasi yang mencintai Al-Qur’an, memahami maknanya, menguasai seni tilawahnya dan menjadikan nilai-nilainya sebagai jalan kehidupan.

Karena pada akhirnya, tujuan tertinggi bukanlah sekadar suara yang indah.
Tujuannya adalah agar kalam Allah yang indah itu hidup dalam diri manusia.

Dari nagham kita belajar keindahan.
Dari Al-Qur’an kita belajar kehidupan.
Dari ilmu kita membangun peradaban.
Dan dari sanalah, barangkali, perjalanan nagham menuju algoritma peradaban benar-benar dimulai.

والله اعلم بالصواب

C05102026 Tabik 🙏

Referensi:

Universitas Muhammadiyah Malang, Institutional Repository, Model Pembelajaran Nagham Al-Qur’an Syekh Musthafa Ismail di Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan, Mudrik Qori, Doctoral Thesis, 2026.
Repository UMM
Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang, Disertasi Doktor UMM Ungkap Rahasia Pembelajaran Nagham Al-Qur’an Syekh Musthafa Ismail di Pesantren Al-Ittifaqiah.
Pascasarjana UMM
Wan Hilmi Wan Abdullah & Mahyudin Daud, “Ketokohan Sheikh Mustafa Ismail dan Sumbangannya dalam Dunia Tilawah Al-Quran Secara Bertarannum,” Al-Basirah Journal, Universiti Malaya.
Mjes
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Nagham Al-Qur’an: Telaah atas Kemunculan dan Perkembangan Nagham di Indonesia.
digilib.uin-suka.ac.id