Mutiara Ramadhan

banner 468x60
No image found

Makan dan Puasa

Oleh: Drs. K.H. Mudrik Qori, M.A.

Puasa adalah ibadah jasmaniah untuk melatih jiwa menimbulkan etos keprihatinan dan melatih perasaan menjadi peka terhadap gejolak sosial yang ada disekitarnya. Melalui puasa kita dilatih untuk mampu menahan lapar, dahaga dan syahwat kita serta kepekaan kita juga dilatih untuk lebih memahami bahwa dari sisi makanan, manusia akan terbagi empat bagian, dan saat ini sedang terjadi dan kita rasakan, melalui puasa kita dilatih bersikap menghadapi empat kelompok manusia tersebut.

Pertama: mereka yang bertanya, makankah saya hari ini? Mereka ini adalah kelompok manusia yang hidup dibawah garis kemiskinan (fakir dan miskin), ketika kita berhadapan dengan kelompok seperti ini maka akan timbullah pertanyaan, siapa yang bersalah dan bertanggung jawab terhadap kelompok tersebut? Mereka atau kita semua? Dalam hal ini kita harus mencerna dengan bijaksana tidak langsung menyalakan orang lain, tapi kita hendaklah melihat pribadi orang tersebut terlebih dahulu. Jika mereka adalah orang-orang yang masih memiliki kesempatan untuk berusaha (usia, tenaga) lalu ia justru bermalas-malasan mengandalkan pemberian orang lain, maka dalam hal ini merekalah yang bersalah? Allah swt berfirman yang artinya: “sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, kepada mereka malaikat bertanya: “dalam keadaan bagaimana kamu ini.” Mereka menjawab: adalah kami orang-orang yang tertindas dinegeri, malaikat menjawab: bukankah bumi Allah Swt ini luas sehingga kamu terhijrah dibumi ini. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. QS. An Nisa’ 97.

Kesalahan golongan yang seperti ini terdapat pada mereka sendiri dan kita layak berkata terhadap mereka sebagaimana perkataan malaikat; Bukankah bumi Allah swt ini sangat luas?,,,, berhijrahlah mencari rezeki !… bagian lain dari golongan ini adalah orang yang memang tidak memiliki lagi kemampuan untuk berusaha dan harus meminta, maka yang bertanggung jawab terhadap kelompok ini adalah kita semua (terlebih lagi pemerintah). Allah swt berfirman; “dan terhadap orang-orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardiknya” QS: Ad duha 10.

Kedua: Mereka yang berkata: Apa yang aku makan hari ini?… mereka ini adalah kelompok orang yang sederhana dan cukup, kesederhanaan yang seperti inilah yang selalu diajarkan Rosulullah saw. Bersyukur atas nikmat Allah swt berikan dan bersabar atas cobaan yang Allah swt turunkan. Karena hakikat kekayaan bukanlah kaya harta melainkan kekayaan hati.Allah swt berfirman artinya:”dan dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan lalu ia memberi kecukupan” QS: Ad duhaa 8. Rosulullah saw bersabda: Artinya”Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta akan tetapi kekayaan itu kekayaan hati” HR. Bukhori dan Muslim. Al Asas Fi Attafsir Juz 11 hal 6573.

Ketiga: Mereka yang berkata; Dimana aku makan?… kepada kelompok ini Allah swt titipkan harta kekayaan. Membelanjakan harta tersebut bukanlah sebuah kenistaan, namun mereka yang termasuk kelompok ini hendaklah menyadari bahwa harta mereka adalah titipan Allah swt dan sebagiannya adalah milik anak yatim dan fakir miskin. Allah swt berfirman:” dan pada harta mereka ada hak untuk orang miskin yang tidak mendapat bagian” QS: Adz Dzariat. Sebagai kelompok yang Allah istimewakan (dengan titipan harta) hendaklah ia bersikap sebagaimana yang di ceritakan Allah swt: artinya”dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberikan makanan kepadamu hanyalah mengharapkan ridho Allah swt. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terimakasih” QS. Al-Insan 8-9. Sembari menjauhi sikap Qorun yang penuh kecongkakan dan kesombongan. Allah swt berfirman: artinya”Qorun berkata”Sesungguhnya aku hanya di beri hartaitu hanya diberi padaku” QS: Al-Qishos 78.

Keempat: Mereka yang bertanya; Apa Yang aku makan hari ini?… dan mereka adalah orang-oarang yang tercela sehingga Allah swt telah mewanti-wanti agar hal ini tidak terjadi. Allah swt berfiman:”Janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian harta benda orang lain itu dengan (jangan berbuat) dosa padahal kamu mengetahui” QS. Al-Baqoroh 188.

Melalui puasa kita dibina bagaimana bersikap ketika berada di salah satu diantara 4 kelompok di atas yaitu ketika kita berada pada kelompok, pertama bagaimana berusaha seoptimal mungkin sehingga bisa merubah nasib, dan Rosulullah saw sangat menganjurkan umatnya pada kelompok kedua, dan ketika kita berada kelompok ke-3, melalui puasa kita dibina untuk bersikap dermawan dan penuh etos kepedulian. Dan Allah swt melarang mengutuk serta mengancam mereka yang termasuk pada golongan keempat. Wallahu a’lam.

No image found

Keutamaan Doa dalam Ramadhan

Oleh: Drs. K.H. Mudrik Qori, M.A.

RAMADHAN adalah sebuah bulan di antara 12 bulan yang Allah swt. ciptakan ketika menciptakan langit dan bumi khusus bulan Ramadhan Allah swt muliakan dengan diturun kannya Al-Quran dalam bulan ini Allah swt berfirman: artinya “bulan Ramadhan adalah bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan)Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” QS. Al-Baqarah 185, di ayat yang lain Allah berfirman artinya: ”sesungguhnya kami menurunkannya pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan )QS. Al-Qadr: 1.

Malam kemuliaan ini adalah malam yang penuh berkah yang Allah swt di sebutkan di ayat lain Allah swt berfirman: artinya“sesungguhnya kami menurunkannya pada waktu malam yang diberkahi dan sesungguhnya kamilah yang memberikan peringatan Q. S Ad-Dukhon: 3 di dalam buku ini juga Allah swt wajibkan kepada setiap insan mukmin yang telah memberi syarat utk menunaikan ibadah puasa. Perintah puasa tersebut dalam surah Al-Baqarah mulai ayat 182-187 namun di antara ayat-ayat yang lain puasa ini bukanlah hanya sebuah kebetulan namun memiliki rahasia yang sangat luas yang tak akan pernah surut ditimbah dan tidak akan habis digali. Melalui ayat ini kita bisa memahami dengan jelas demikian eratnya hubungan puasa dengan doa. Doa adalah senjatanya para nabi sejak nabi Adam AS hingga nabi Muhammad SAW. Doa merupakan senjata yang paling ampuh ketika nabi Adam harus mendapatkan problem hingga harus meninggalkan singgasana keindahan yang tiada banding akibat keusilan iblis alaihila’nat beliau melanjutkan doa yang diabadikan dalam Al-Quran artinya “keduanya berkata ya tuhan kami kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” QS Al-A’raf: 23.

Demikian juga nabi Ibrahim AS ketika menghadapi kesulitan ketika beliau dibakar. Beliau berdoakepada Allah semata beliau berkata, artinya: “cukuplah Allah swt sebaik-baiknya wakil sebaik-baiknya tuhan dan sebaik-baiknya penolong, lalu Allah swt menjawab nabi Ibrahim yang diabadikan dalam Al-Quran artinya: “kami berfirman hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim” QS. Anbiya: 69. Demikian juga nabi-nabi yang lain hingga nabi Muhammad SAW, doa senantiasa menjadi senjata yang paling ampuh dan tak terkalakan dalam hal ini nabi rasululah SAW berdoa kepada Allah SWT. Persis nabi Ibrahim ASketika beliau disakiti kaumnya, beliau berdoa artinya: “cukuplah Allah swt penolong bagi kami” tafsir Ibnu Katsir Ali Imran: 173 jilid 1 hal. 571 dan sebagai pamungkas Rasulullah berdoa: “Anas berkata doa yang paling sering dilantunkan Rasulullah SAW adalah “tuhan kami berilah kami kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat dan periharalah kami dari siksa api neraka” HR. Bukhori dan Muslim. Dan puncak dari ini semua Allah mewajibkan kita berdoa dan mengkategorikan doa sebagai ibadah itu sendiri. Allah swt berfirman “berdoalah kepadaku niscaya aku perkenankan bagimu”. Sesunggunya orang orang yang menyombongkan diri dari menyembahku (berdoa kepadaKu ) akan masuk neraka Jahannam dalam keadan hina dunia” QS. Ghopit: 60.

Demikian juga puasa adalah kewajiban yang diperintahkan kepada seluruh nabi dan rasul walaupun dengan kafiyat (metode) yang berbeda. Allah swt berfirman: “hai orang orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” QS. Al-Baqarah: 183.

Kaitan antara puasa dan doa ini sangatlah jelas dipaparkan dalam sebuah hadits , Rasulullah swt bersabda: artinya ”doa seorang yang puasa ketika berbuka tidak ditolak (pasti diterima)” HR. Ibnu Majah, komentar Imam Busairy dalam kitab Az Zawaid bahwa sanad hadits tersebut shahih.

Di dalam hadits lain beliau bersabda: artinya ”tiga golongan yang tidak ditolak doanya, seorang yang puasa ketika berbuka, dalam riwayat lain seorang yang berpuasa hingga berbuka, imam yang adil, dan doa orang yang dizalimi. Allah angkat doa tersebut diatas awan dan dibukakan baginya (doa tersebut) pintu langit, lalu Allah swt berfirman demi keagungan dan keluhanku aku akan menolongmu walaupun setelah selang beberapa waktu”.

Jelaslah kaitan antara puasa dan doa adalah bahwa kedua hal tersebut adalah perintah yang langsung diperintahkan Allah kepada hambanya, dan doa memiliki waktu dan tempat yang mustajab, dan waktu yang paling mustajab berdoa itu adalah ketika kita sedang berpuasa. Sehingga Allah swt letakkan ayat doa diantara ayat-ayat puasa.

Wallahu A’lam Bisshowab.

No image found

Benarkah Saya Sudah Berpuasa

Oleh: Drs. K.H. Mudrik Qori, M.A.

PUASA yang diterima Allah swt adalah puasa yang bermanfaat yang mampu menyirami hati menjadi hati yang subur ditumbuhi perbuatan-perbuatan baaik yang subur pula hingga menghasilkan buah ketaqwaan yang tidak kalah suburnya .

Allah swt berfirman: artinya “ hai orang-orang yang beriman diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaiman a telah telah diwajibkan (puasa tersebut) terhadap kaum sebelumnya. QS.Al-Baqarah 183. Dalam ayat ini terdapat tiga serangkai yang memimpin kita agar mampu mewujudkan ketaqwaan yaitu iman, puasa dan taqwa.

Seolah tiga serangkai ini menitipkan pesan: wahai orang-orang mukmin ketahuilah bahwa derajat tertinggi dalam iman adalah taqwa dan salah satu jembatan penghubung menggapai taqwa tersebut adalah taqwa.

Telah menjadi kewajiban bagi kita yang berpuasa untuk menjaga diri dari segala bntuk yang bisa menghapus pahala puasa kita, hingga puasa kita tidak hanya mencetak hasil lapar dan dahaga. Puasa adalah sarana pelatihan diri untuk membentuk jiwa yang teguh dan kokoh, perhatikanlah puasa bukan hanya menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh. Tapi puasa adalah pelatihan diri menjadi seorang insan yang penuh Qanaah hingga terhadap hal-hal yang dihalalkan diluar siang hari bulan ramadhan pun sanggup untuk dihindari, ketika hal-hal yang halal saja mampu kita hindari maka dapat dipahami sikap penolakan dan sempurna akan kita miliki terhadap hal-hal yang mutasibih, makruh apabila haram. Karenanya puasa adalah benteng seorang mukmin sebagaimana di ungkapkan rasulullah saw.

Beliau bersabda: artinya puasa adalah benteng, maka kita seorang diantara kalian berpuasa maka hendaklah menjaga dirinya hingga tidak berkata kotor dan tidak berlaku bodoh, dan jika dihina oleh seseorang maka hendaklah ia berkata saya puasa. HR. Bukhori dan Muslim.

Puasa bukan hanya usaha menahan diri dari makan dan minum pada waktu yang telah ditentukan tapi puasa sejati adalah puasa jiwa dan raga, puasa rohani, Umar ra berkata puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum tapi puasa juga adalah puasa dari kebohongan, kezalimnan dan kesia-siaan. Nabi ra berkata: jika engkau berpuasa hendaklah telinga, mata, lidahmu juga ikut berpuasa dari kebohongan dan kedurkaan. Janganlah menyakiti pembantu, ramah, dan tenbanglah ketika engkau berpuasa, dan janganlah sampai hari engkau berpuasa dan tidak berpuasa sama saja.

Demikian juga Maimun dan Muhran berkata: puasa yang paling ringan adalah tridak makan dan minum. Marilah kita renungi sampai dimanakah puasa kita? Atau kita justru termasuk pada kelompok “ demikian banyak orang yang berpuasa dan tidak mendapatkan hasil sedikitpun dari puasanya kecuali lapar, dan demikian banyak juga manusia yang shalat dimalam bulan ramadhan dan tidak menghasilkan apa-apa dari shalatnya tersebut kecuali bergadang. HR. Nasa’I Ibnu Majah dan Hakim.

Dalam hadist lainya rasulullah saw bersabda: barang siapa yang tidask meninggalkan perkataan dusta, mengerjakanya, dan kebodohan (menyambung puasa dari mulai pagi hingga magrib dan disambung dengan hari esok tanpa berbuka) Allah swt tidak membutuhkan makanan dan minumanya .HR. Bukhori dan Abu Daud, lafazd hadist Riwayat Abu Daud.

Semoga di Ramadhan yang mulia ini kita bisa meraih puasa sejati yang menjadi benteng kita untuk mengarungi sebelas bulan setelahnuya. Wallahu wahdahu qusdu assabil……….

No image found

Shalat dan Puasa Mendidik Jiwa

Oleh: Drs. K.H. Mudrik Qori, M.A.

Shalat dan Puasa adalah dua rukun islam yang memiliki kaitan yang erat dalam mendidik jiwa dan masyarat mencapai lembaran putih tak ternodai. Rasulullah swt bersabda dalam dua hadits yang sanadnya hampir sama, namun memiliki makna yang sangat dalam dan memiliki keterkaitan yang saling menunjang. Berikut sabda: artinya”barang siapa ‘shooma’ berpuasa ramahdan disertai keimanan dan ketakwaan ‘ihtisaban’(karena Allah dan hanya mengharap pahala disisi-Nya maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. HR. Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa’i.

Dalam hadits yang lain diriwayatkan oleh Abu Hurairah beliau sabda, artinya:barang siapa ”qiyam” (melaksanakan shalat)dalam bulan ramadhan disertai keimanan dan (karena Allah swt dan hanya mengharapkan pahala dari Allah maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Al hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Shalat dan Puasa melatih dan mendidik untuk mewujudkan kedisiplinan dalam hidup lebih jauh lagi jika gerakan-gerakan dalam shalat akan tanpak jelas merupakan simbol-simbol yang sangat berharga untuk diaflikasikan dalam kehidupan.

Mari kita perhatikan kedua tangan kita ini yang menjadi symbol tafahum (saling memahami), keber saman dan sepenanggungan, ketika kita takbir maka keduanya aktif bersama dan tak perna menimbulkan keirian, pernahkah saat kita takbir hanya mengangkat sebelah tangan ? demikian juga kedua tangan kita ini telah memahami tugas masing-masing hingga tak pernah terjadi rebutan kursi antara keduanya dalam hal meletakkan tangan setelah selesai takbir. Kebersamaan kedua tangan kita ini baru memiliki makna yang sempurna jika bisa di aplikasikan oleh seluruh lapisan masyarakat yang di simbolkan dengan adanya lima jari jemari kita. Kelima jemari kita yang selalu menjalin komunikasi yang harmonis ini adalah gambaran dari tatanan masyarakat yang harus senantiasa dalam komunikasi yang harmonis dan mengedepankan azas kebersamaan.

Imam ghozali pernah berkata : bahwa jari jempol adalah symbol dari kaum bapak, maka keberhasilan atau kegagalan seorang anak senantiasa melibatkan nama orangtuanya. Jari telunjuk adalah symbol dari pemimpin, adalah sebuah hal yang wajar jika pemimpin menggunakan telunjuknya untuk memerintah, selama ia juga ikut serta berpartisipasi demi kepentingan bersama. Jari tangan adalah symbol dari ulama, seorang ulama hendaklah kokoh tegak lurus di tengah tanpa kecendrungan ke kanan dan ke kiri dengan tugas yang jelas membimbing umat. Jari manis adalah symbol dari pemuda pemudi, kehidupan pemuda di suatu masyarakat merupakan gambaran dari keberadaan negeri tersebut secara umum. Dan jari kelingking adalah symbol dari kaum ibu. Jari kelingking adalah jari terkecil di antara semua jemari kita ini, namun memiliki peranan yang sangat penting.

Keikutsertaan lima jemari kita ini saat memegang sesuatu akan menjadi pegangan tersebut kokoh, dan satu saja diantara jari kita yang absen akan mempengaruhi kinerja yang lainnya. Dan untuk melatih etos kebersamaan tersebut dilatihlah dalam puasa yang merupakan pelatihan etos kepedulian dan ke disiplinan. Dalam puasa kita dilatih untuk disiplin tanpa perintah dan pengawasan, justru kita sendiri yang menjadi pengawas dari diri kita. Ketika waktu imsa’ tiba secara otomatis kita akan segera berhenti dari segala yang membatalkan puasa walau tanpa komando. Demikian juga rasa lapar yang kita rasakan di siang hari ramadhan melatih kepekaan perasaan kita untuk merasakan rasa pedih karna lapar di sepanjang waktu dan bukan hanya di siang hari ramadhan yang di derita oleh kaum fakir miskin.

Jadi melalui nilai sholat setiap elemon masyarakat di tuntut untuk bisa berperan aktif bersama mewujudkan masyarakat yang ideal. Dan untuk mewujudkan masyarakat ideal, puasa telah memberikan dua modal utama yaitu kedisiplinan dan kepedulian. Dengan teraplikasinya nilai tersebut maka akan terwujudlah sebuah “ negeri yang baik dan mendapatkan ampunan dari Tuhan” wallahua’lam.

No image found

Menyingkap Rahasia Ramadhan

Oleh: Drs. K.H. Mudrik Qori, M.A.

RAMADHAN adalah sebuah bulan yang sangat erat dengan telinga setiap muslim, bahkan semenjak kecil kita telah dikenalkan dengan Ramadhan, kita semua mengetahui bahwa Ramadhan adalah bulan puasa. Namun sangat jarang di antara kita yang mengerti apa arti Ramadhan dan makna yang terkandung dari kata ”Ramadhan” itu sendiri.

Ramadhan secara leksikal berarti: membakar, amat panas.Penyebutan bulan Ramadhan-bulan ke 9 pada kalender Hijriah-sesuai dengan kondisi cuaca pada bulan tersebut,”

 

klik artikel lengkapnya.

No image found

Idul Fitri Beda Hari, Cermin Keegoisan

H. Agus Jaya, Lc., M.Hum

Pengasuh PP. Al-Ittifaqiah dan Dosen STITQI Indralaya Ogan Ilir Sumsel

 

Idul Fitri adalah satu hari yang dirayakan oleh Umat Islam setelah selesai menunaikan puasa Ramadhan, idealnya hari raya tersebut bukan hanya menjadi moment untuk saling memaafkan kesalahan sesama melalui silaturrahmi tapi juga menjadi simbol kebersamaan ummat Islam yang tampak dalam kebersamaan bertakbir, tahmid tahlil dan hadir melaksanakan sholat, tegak rapih dalam shof tanpa membedakan status sosial, ekonomi, suku, bangsa, warna kulit dan usia.

Umat Islam Indonesia memang telah mampu berdiri lurus dalam shof dengan kumandang takbir, tahmid dan tahlil yang sama namun ironisnya umat Islam Indonesia terkadang belum mampu menyatukan pendapat mengenai hari Idul Fitri itu sendiri.

Mungkinkah akhir Ramadhan terjadi dua kali dalam satu tahun pada satu wilayah?

Logiskah hari raya Idul Fitri terjadi dua kali pada tahun yang sama di wilayah kecil (kabupaten/propinsi) yang sama ?

Rasulullah saw telah menuntun kita untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan dalam sebuah haditsnya : dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah saw bersabda : “mayoritas jumlah malam dalam satu bulan adalah dua puluh sembilan hari, maka janganlah kalian berpuasa sebelum melihat hilal, jika hilal tidak tampak maka hendaklah sempurnakan jumlah bulan (sya’ban) menjadi tiga puluh hari. HR. Bukhori, hadits ke 1907. dalam hadits lain, Abu Hurairoh berkata, Rasulullah saw bersabda “hendaklah kalian mulai berpuasa setelah melihat Hilal, dan hendaklah berhenti puasa juga setelah melihat Hilal, jika hilal tidak tampak maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari (sebelum memulai puasa). HR. Bukhori, hadits ke 1909. dalam riwayat Muslim, dari Abu hurairoh ra, Rasulullah saw bersabda : “jika kalian melihat Hilal (bulan Sya’ban) hendaklah kalian berpuasa, dan jika melihat Hilal pada (akhir Ramadhan) hendalah berhenti puasa, jika Hilal itu tidak tampak maka hendaklah sempurnakan bulan Ramadhan menjadi tiga puluh hari. HR. Muslim, Kitab As-Syiam no : 1081, hadits ke 17.

Dalam hadits ini Rasulullah menuntun kita dalam menentukan permulaan dan akhir Ramadhan yaitu : Pertama; Ru’yat, (melihat Hilal), Hilal adalah proses alam yang senantiasa tejadi setiap awal bulan, hanya mungkin saja proses tersebut tidak tampak karena adanya faktor-faktor lain seperti cuaca dsb. Kedua; Hisab, melengkapkan hitungan hari dalam satu bulan menjadi tiga puluh hari, hal ini sebagai alternatif jika hilal tidak tanpak.

Jika kita cermati tuntunan Rasulullah pada hadits diatas, tampaklah hadits tersebut tidak hanya menunjukkan tuntunan memulai dan mengakhiri puasa tapi juga menuntun kita untuk senantiasa berprasangka baik, percaya dan penuh penghargaan terhadap sesama. Argumen ini tampak pada perintah Rasulullah (dalam hadits riwayat Muslim diatas) untuk semua sahabatnya berpuasa walau yang melihat Hilal tersebut hanya seorang, perintah tersebut mendidik para sahabat senantiasa percaya, berprasangka baik dan penuh perhargaan terhadap sahabat yang telah melihat hilal tersebut. Karena tidak logis jika Ramadhan mulai dan berakhir dua kali pada wilayah yang sama di tahun yang sama. Penulis tidak meragukan kedalaman ilmu dan kecanggihan alat yang digunakan untuk menentukan jatuhnya Idul Fitri baik tahun-tahun lalu maupun tahun 1431 H ini, tapi adanya perbedaan pada penetapan hari Idul Fitri ini memberikan dampak negatif dengan menimbulkan kebingungan pada ummat dan menunjukkan kurangnya kepercayaan kita terhadap badan rukyat yang ada.    Memang sisi positif perbedaan pendapat tentang hari Idul Fitri melatih untuk saling menghargai pendapat, namun naifnya tidak seharusnya persepsi yang bisa disamakan/disatukan malah menjadi berbeda.

Aktualisasi dari hadits diatas bisa bisa terwujud jika kita bisa merendahkan diri untuk duduk bersama, tanpa mengedepankan pendapat pribadi/golongan, karena penulis yakin berpaling dari kebenaran (jatuhnya hari raya sesuai keyakinan pribadi/golongan) menuju kebenaran lain (persamaan ijtihad demi kepentingan bersama yang lebih besar) bukanlah sebuah nista.

Solusi untuk menghindari terulangnya fenomena perbedaan pendapat tentang mulai dan akhir puasa Ramadhan hendaklah dengan cara memprofesional dan memproporsionalkan badan rukyat Departemen Agama Republik Indonesia dengan cara mengakomodir para tokoh agama dan tokoh-tokoh ormas-ormas yang ada untuk duduk satu meja dibawah naungan resmi pemerintah Republik Indonesia.

Demikian juga sebaiknya pemerintah melarang masyarakat untuk mengeluarkan fatwa tentang awal dan akhir puasa sebelum melalui badan resmi yang telah mengakomodir seluruh kompenen yang berkaitan. Dengan cara sentralisasi ini Insya Allah perbedaan pendapat semakin diminimalisasi. Wallahu a’lam.

No image found

Nuzul al-Qur’an Membentuk Muslim Intelektual

H. Agus Jaya, Lc. M.Hum

Pengasuh PP. al Ittifaqiah dan Dosen STITQI Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan

 

Al-Qur’an sebagai kalamullah yang suci berfungsi sebagai petunjuk bagi seluruh insan manusia. (QS: al-Baqarah: 159). Kebenaran al-Qur’an ini tidak bisa dipungkiri walaupun sebagian orang mencoba untuk mengingkarinya. (QS: al-Baqarah: 2). Memfungsikan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh manusia adalah kewajiban setiap muslim, yaitu dengan mempelajari, membaca, menelaah, merenungi, mendalami, meneliti, memahami, menyampaikan, dan menangkap pesan-pesannya serta melaksanakan petunjuk-petunjuknya tanpa mengabaikan budaya dan perkembangan positif masyarakat, termasuk juga dalam bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Al-Quran yang Allah swt turunkan XV abad yang lalu merupakan firman-Nya yang sempurna, (QS: al-An’am: 38). Dengan penelitian yang serius terhadap al-Qur’an akan melahirkan ilmu pengetahuan (sains). Kemajuan ilmu pengetahuan telah banyak memberikan kemudahan dalam kehidupan dan menjawab fenomena-fenomena alam. Namun dalam kenyataannya antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan seolah ada ada jurang pemisah walaupun banyak fenomena alam yang dijawab oleh sains pada abad XX dan XXI telah termaktub dalam Al-Quran yang turun XV abad sebelumnya.

Al Qur’an memang tidak memberikan penjelasan secara detail tentang ilmu pengetahuan, akan tetapi memberikan stimulus bagi otak manusia untuk berpikir tentang alam semesta ini tanpa harus keluar dari prinsip dan keyakinan atau akidah Islam, dalam hal ini ada beberapa term yang sangat tampak pada ungkapan-ungkapan al Qur’an tentang penggunaan akal, yaitu: ”la’allakum tatafakkarun” (2 kali), ”la’allahum yatafakkarun” (3 kali), ”liqoumin yatafakkarun” (7 kali), (Muhammad Fuad Abdul Baqi: 1994: 667) ”la’allahum yafqohun” (1 kali), liqoumin yafqohun (1 kali), (Muhammad Fuad: 1994: 666) ”la’allakum ta’qilun” (8 kali), afala ta’qilun (13 kali), liqoumin ya’qilun (8 kali).(Muhammad Fuad: 1994: 595).

Banyaknya term yang digunakan dalam al-Qur’an dan perulangannya adalah fakta yang membuktikan besarnya perhatian al-Qur’an terhadap akal dan penggunaannya. Perhatian al-Qur’an terhadap akal dan ilmu pengetahuanpun sangat jelas tergambar pada nuzul al-Qur’an dan lima ayat pertama turun.

Nuzul al-Qur’an tidak bisa dipisahkan dengan bulan Ramadhan, puasa, lailatul Qadr dan kata iqra’. Karena nuzul al-Qur’an (turunnya al-Qur’an) terjadi pada malam “lailatul” Qadr (QS: al-Qadr: 1) di bulan Ramadhan (QS: al-Baqarah: 185) dimana umat muslim diwajibkan berpuasa (QS: al-Baqarah: 183) dengan ayat pertama kali turun “iqra’ bismi rabbika al-ladzi kholaq”. (QS: Al-Alaq: 1)

Menarik untuk kita cermati, Kata iqra’ yangberasal dari kata Qur’un (ism masdar: asal kata yang tidak terikat waktu) bukan berasal dari “Qoro’a” (fiil madhi: kata kerja lampau) adalah kata pertama dari ayat pertama turun yang artinya; mengumpulkan, jadi pengertian kata iqra’ mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri serta bacaan tertulis baik suci maupun tidak. (Quraish Shihab: 2009: 15: 455).

Peletakan kata “iqra” pada awal ayat pertama surat al-Alaq ini seolah memberikan kesan mendahulukan ilmu pengetahuan dari hal-hal lainnya termasuk aqidah. Namun, jika kita telaah lebih lanjut, pada ayat tersebut kita akan temukan huruf “ba” yang berarti “mulaabasah” (bercampur/terkait dengan sesuatu yang ada padanya) sehingga memberikan arti sebaliknya. Meskipun kata “iqra” diletakkan lebih depan dari kata “bismi rabbika” namun pengertiannya adalah: “katakan “bismillah” baru mulai ”iqra”. (Alusy: 2001: 15: 400)Jelas dari ungkapan ini menekankan penegasan aqidah terlebih dahulu baru penjelajahan ilmu pengetahuan sehingga pada akhir pencapaian “iqra” melahirkan muslim-muslim intelektual.

Karenanya, proses qiroat ini hendaklah senantiasa dimulai dan disertai dengan iman kepada Allah swt sebagai dzat yang Maha pencipta.

Ayat diatas bukan saja anjuran untuk mempelajari ayat-ayat qauliyah. Tetapi juga anjuran untuk mempelajari ayat-ayat kauniyah (alam semesta). Dengan menggunakan pikiran dan penelitian ilmiah terhadap ayat-ayat tersebut akan menghasilkan pengetahuan yang kemudian didokumentasikan melalui tulisan/pena.

Salah satu contoh dari informasi penting yang disampaikan al-quran adalah perbandingan kata Bahr (laut) secara mufrad dalam al-Qur’an berjumlah 33 kali (Muhammad Fuad Abdul Baqi: 1994: 145) dengan kata Barr (daratan) yang berjumlah 12 kali (Muhammad Fuad: 1994: 149).

Dari jumlah kata di atas kita temukan nilai perbandingan sekitar 3:1, dan fakta ilmiah menunjukkan bahwa perbandingan antara lautan dan daratan dimuka bumi ini adalah sekitar 71% laut dan 29% darat, dan jika terapkan pada tubuh manusia, maka akan kita dapatkan hasil yang sangat mengejutkan, yaitu perbandingan yang sama antara perbandingan benda cair dan padat pada tubuh manusia dengan perbandingan laut dan darat. (Zughlul Najjar: 2002: 2: 26). Maha Sempurna Allah yang menjelaskan bahwa dalam diri manusia ada tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah swt berfirman: ”Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS: az-Dzariyaat: 20-21).

Dengan nuzul al-Qur’an (turunnya al-Qur’an) seorang muslim tidak hanya dituntut untuk mempercayai kebenaran al-Qur’an akan tetapi lebih dari itu di tuntut untuk mengelaborasi informasi-informasi yang terkandung dalam al-Qur’an untuk kemudian di aflikasikan dalam kehidupan. []

No image found

Menuai Syafa’at al-Quran

Oleh: H. Windo Putra Wijaya, MA.*

 

“Tidak ada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini telah memainkan ‘alat’ bernada nyaring yang demikan mampu dan berani, serta demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang dibaca Muhammad (Al-Quran).” (H.A.R. Gibb)

Merenung. Akhir-akhir ini aktifitasku kadang-kadang tak jauh dari itu. Saat di rumah, perjalanan, hingga dalam kegiatan yang lain pun kadang aku sering merenung. Tapi entah kenapa kadang kutemukan ketenangan setelah melakukan kebiasaan baruku. Seperti malam itu. Lantunan tilawah ayat suci Al-Quran di komputer mengalun begitu indah. Surat An-Nisa yang dibacakan oleh Imam Al-Mathrud terdengar syahdu menyentuh qalbu. Ah jadi ingat Rasulullah Saw. kala ia menangis ketika sahabat Abdullah bin Mas’ud membacakan surat ini kepada beliau. Sungguh akan menghasilkan nuansa tersendiri ketika ayat-ayat suci Al-Quran mampu meresap dalam qalbu seorang hamba dan pada saat yang bersamaan mampu menambah keimanan dalam dadanya.

Bicara tentang Al-Quran memang tidak akan pernah habis-habisnya. Tak salah kalau di katakan bahwa tidak ada satupun bacaan di dunia yang sanggup menandingi kitab suci Umat Islam itu. Dari segi susunan redaksi dan keindahan bahasanya, Rasulullah Saw. seakan menjadi ‘bintang kelas’ kala menghadapi kaum Quraisy yang waktu itu terkenal dengan ahli bahasa. Tercatat, sosok seperti Umar bin Khattab Ra. masuk Islam setelah mendengar Al-Quran yang dibacakan oleh saudaranya. Abu Jahal pun tak jauh berbeda dengan Umar bin Khattab Ra. Hanya saja keangkuhan Abu Jahal berhasil mengalahkan suara nuraninya untuk mengakui kebenaran Al-Quran.

Kehebatan Al-Quran tak hanya menuai pujian dan pengakuan pada zaman ia diturunkan saja. Dalam konteks kontemporer, seorang orientalis bernama H.A.R. Gibb pernah menulis bahwa: “Tidak ada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini telah memainkan ‘alat’ bernada nyaring yang demikan mampu dan berani, serta demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang dibaca Muhammad (Al-Quran).”

Benar-benar sebuah mukjizat yang luar biasa, sampai kaum Quraisy yang terkenal dengan ahli sastra pun tak mampu menandingi kehebatan Al-Quran, bahkan untuk sekedar membuat satu surat semisal Al-Quran. Maha benar Allah yang merilis dalam salah satu ayat-Nya: “Dan jika kamu tetap ragu dengan Al-Quran yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad Saw.), maka buatlah satu surat semisal Al-Quran dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah Swt., jika kamu orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuatnya, dan pasti sekali-kali kamu tidak akan dapat membuatnya, maka peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang di sediakan bagi orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 23-24)

Satu yang cukup menarik, bahwa ternyata Al-Quran diturunkan oleh Allah Swt. melalui perantara Malaikat Jibril As. pada bulan Ramadan. Sebuah padanan yang serasi. Kitab yang mulia, diturunkan kepada nabi yang mulia pada bulan yang penuh dengan kemuliaan. Ah, ia (Al-Quran) terlalu mulia untuk di lukiskan dengan kata-kata.

Saat ini, kala purnama Ramadan baru saja berlalu, masih tersisa kesempatan untuk meraih berbagai macam ganjaran pahala yang berlipat. Sungguh sebuah kerugian yang sangat besar ketika kita melewatkan bulan penuh rahmat ini begitu saja. Umpama seorang karyawan. Ia tentu akan merasa senang ketika mendapatkan gaji yang berlipat dengan kerja yang sama.

Sebuah renungan bagi kita, sudah sejauh mana interaksi kita dengan Al-Quran selama ini. Sudahkah kita menjadikan Al-Quran sebagai bacaan rutin kita setiap hari. Sepele sepertinya. Tapi itulah kenyataannya. Terkadang kita sering lupa dengan hal-hal yang sepele. Nah, jika interaksi kita selama ini masih kurang, tak inginkah kita menjadi golongan orang-orang yang kelak akan diberikan syafaat oleh Al-Quran. Saya jadi teringat dengan apa yang disabdakan oleh kanjeng Nabi Saw. bahwa salah satu dari sifat hasad yang di perbolehkan dalam Islam adalah adalah hasad kepada orang yang di berikan kepadanya Al-Quran dan Ia membacanya sepanjang waktu.

Apalagi nanti ketika masuk sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadan, fase yang sangat menentukan keberhasilan seorang hamba di ‘Madrasah Ilahiyyah’ ini. Ibarat sebuah perlombaan lari, sepuluh hari terakhir ini menjadi detik-detik yang menegangkan. Apakah kita bisa menyentuh garis finish atau tidak. Apakah ampunan dari segala dosa yang dijanjikan bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa dengan iman dan mengharap Rida Allah Swt. mampu kita raih. Mari kita maksimalkan kesempatan emas ini dengan mengoptimalkan semua amaliah-amaliah kita.

Terakhir, kita berdoa mudah-mudahan kita tidak termasuk ke dalam barisan orang-orang yang merugi; mereka yang berpisah dengan bulan Ramadan namun tidak mendapatkan ampunan dari Allah Swt. Semoga momentum Ramadan ini benar–benar dapat kita maksimalkan dan pada akhirnya, syafaat Al-Quran yang akan diberikan kepada mereka yang membacanya dapat kita tunai, kelak di hari kemudian. Wallahul Musta’an.[]

*Staf Pengajar Subject Quran dan Sunnah di Kollej Universiti Islam Selangor (KUIS), Malaysia.

No image found

Hidangan Idul Fitri dan Tipologi “makanan” manusia

Oleh : H. Agus Jaya, Lc. M. Hum

Ustadz PP al-Ittifaqiah dan Dosen STITQI Inderalaya Ogan Ilir Sumatera Selatan

 

Idul Fitri adalah hari raya umat Islam setelah melaksanakan ibadah puasa satu bulan penuh. Setelah sukses melalui training puasa (as-shoum) dalam pengertian umumnya ”al-imsak” (menahan diri) maka lahirlah motivasi untuk menahan emosi, hawa nafsu dan ego. Sehingga puasa yang demikian memberikan dampak positif yang sangat luas bagi kehidupan manusia, baik sisi teologi, sosial, politik, budaya dan ekonomi. Karenanya puasa tampil sebagai rukun Islam yang mempunyai dua dimensi, yaitu keimanan dan kemanusiaan.

Berkaitan dengan hidangan idul fitri, yang biasanya serba mewah dan lezat bahkan terkesan berlebih-lebihan, maka ibadah yang baru saja kita lalui dengan grand desainnya membangun kepedulian sosial memaparkan kepada kita tentang tipologi manusia ditinjau dari sisi makanannya. Tipologi manusia tersebut bisa dibagi menjadi empat, yaitu:

Pertama, mereka yang berkata :“makankah saya hari ini” ? kategori kelompok ini adalahfakir miskin dan anak-anak terlantar. Mereka yang terkadang tidak bisa menemukan sesuap nasipun dalam hari-harinya, sehingga lontaran pertanyaan yang keluar dari mulutnya adalah “makankah saya hari ini?.

Menghadapi kelompok ini tidak seharusnya kita langsung menyalahkan mereka atau diri kita masing-masing, akan tetapi hendaklah kita telaah terlebih dahulu. Jika mereka masih memiliki peluang untuk berusaha (usia, fisik, waktu) lalu tidak menggunakan kesempatan tersebut, maka mereka yang salah dan kita pantas untuk berkata kepada mereka sebagaimana malaikat berkata kepada mereka: “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?”. Mereka menjawab : “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata : “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu ?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS: an-Nisa: 97). Bagian lain dari golongan ini adalah mereka yang tidak memiliki peluang untuk berusaha (usia, fisik, waktu), maka kesalahan kepada negara dan kita semua, karena undang-undang dasar 1945 telah mengamanatkan kepada negara bahwa ”fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Demikian juga Allah swt berfirman: ”kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah mema’afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun. (QS: an-Nisa: 98-99). Dan terhadap mereka kita hendaklah berbagi dan tidak melalaikannya, Allah swt berfirman: ”Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. (QS; ad-Duha: 10).

Kedua, mereka yang berkata :“apa yang saya makan hari ini” ?. Mereka yang termasuk dalam kelompok ini adalah orang yang hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan yang seperti inilah yang senantiasa diajarkan Rasulullah saw dengan senantiasa bersyukur atas segala nikmat Allah swt dan bersabar atas segala cobaannya. Allah swt berfirman: ”dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan”. (QS: ad-Duha: 8). Rasulullah saw kemudian menegaskan eksistensi kekayaan, Beliau bersabda: ”tinjauan kekayaan bukan karena banyaknya harta, akan tetapi tinjauan kekayaan karena jiwa yang kaya”. (HR. Bukhori-Muslim).

Ketiga, mereka yang berkata : “dimana saya makan hari ini” ? Mereka yang termasuk dalam kelompok ini adalah yang mendapatkan titipan Allah swt berupa harta kekayaan. Membelanjakan harta kekayaan mereka tersebut adalah selayaknya dan bukan sebuah nista, akan tetapi hendaknya mereka yang termasuk dalam kelompok ini menyadari bahwa di dalam harta mereka ada hak orang lain. Allah swt berfirman: ” Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”. (QS: adz-Dzariyaat: 19). Mereka yang termasuk dalam kelompok ini hendaklah bersikap penyantun dengan ikhlas terhadap anak-anak yatim, fakir-miskin dan orang-orang terlantar. Allah swt berfirman: ”Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”. (QS: al-Insan: 8-9). Sembari menjauhi sifat Qorun yang congkak dan sombong dengan harta yang diperolehnya, hingga Allah azab dengan azab yang sangat pedih. Allah swt berfirman: ”Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka”. (QS: al-Qoshosh: 78) dan ”Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)”. (QS: al-Qoshosh: 81).

Keempat, mereka yang berkata: “siapa yang aku makan hari ini” ? mereka yang termasuk dalam golongan ini cenderung menjadi ”omnivora”, pemakan segala tanpa memperhatikan unsur halal-haram dan kriteria ”thayyiba” (baik dan bergizi,) sehingga manusia, aspal, kayu, semen, batu, tanah dll, menjadi santapannya. Mereka ini adalah golongan yang tercela dan semestinya di hindari. Dengan sangat tegasnya Allah swt melarang manusia untuk masuk dalam tipologi ini. Allah swt berfirman: ”Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”. (QS: Al-Baqaroh: 188).

Melalui training puasa selama satu bulan penuh, dan pengumuman kelulusan peserta training pada idul fitri ini, kita dibina untuk bersikap bijak ketika kita berada salah satu diantara tiga kelompok diatas, yaitu apabila berada pada kelompok pertama, hendaklah berusaha seoptimal mungkin untuk mengubah nasib. Dan apabila berada pada kelompok kedua, hendaklah senantiasa bersyukur atas nikmat Allah swt dan bersabar terhadap segala bentuk cobaan-Nya. Lalu apabila kita berada pada lelompok ketiga, hendaklah bersikap dermawan dan penuh etos kepeduliaan terhadap yang lain. Kemudian jika berada pada kelompok keempat (nauzu billah), hendaklah segera bertaubat, “Taubatan Nasuuha” karena hal tersebut sangat dilarang, dikecam dan dikutuk oleh Allah swt. Wallahu A’lam. []